Breaking News:

Polisi Telusuri Aliran Kutipan Pasar Malam

Polres Aceh Tamiang mulai menelusuri aliran kutipan retribusi terhadap pedagang di Pasar Kuliner

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Ari Lasta Irawan. 

KUALASIMPANG – Polres Aceh Tamiang mulai menelusuri aliran kutipan retribusi terhadap pedagang di Pasar Kuliner. Untuk menentukan apakah terjadi penyimpangan, polisi masih berkoordinasi dengan beberapa dinas di Pemkab setempat.

Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Ari Lasta Irawan menjelaskan, penelusuran aliran retribusi ini berawal dari keluhan pedagang atas banyaknya kutipan selama berjualan di Pasar Kuliner. Dalam beberapa informasi, kutipan ini tidak semuanya dilengkapi dengan dokumen bukti pembayaran, sehingga berpotensi terjadi penyimpangan setoran ke kas daerah.

“Penelusuran ini hanya untuk memastikan dilakukan sesuai aturan dan masuk ke kas daerah,” kata Ari Lasta melalui Kasat Reskrim, Iptu Fauzan Zikra, Senin (21/6/2021).

Dia menambahkan, saat ini polisi tengah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk mengetahui pola penarikan uang parkir dan mekanisme di lapangan. “Misalnya, apakah menggunakan karcis, dan apakah semua petugasnya sudah dilengkapi tanda pengenal,” katanya.

Dalam penelusuran ini polisi juga tengah menunggu konfirmasi dari Satpol PP Aceh Tamiang mengenai kutipan lain yang dibebankan kepada pedagang. “Sampai sekarang belum ada jawaban dari Satpol PP,” ungkap Fauzan.

Sebelumnya, pedagang di Pasar Kuliner mengeluhkan banyaknya kutipan dibebankan kepada mereka hingga membuat omzet mereka menurun drastis. Kutipan ini meliputi uang harian berupa kebersihan Rp 1.000, retribusi badan jalan Rp 2000, tenda Rp 2.000, listrik Rp 5.000, sedangkan iuran bulanan berupa uang jaga malam antara Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu.

“Uang jaga malam ini tergantung barang-barang kita, kalau cuma steling hanya Rp 100 ribu, tapi kalau lengkap ada kursi sama meja diminta Rp 250 ribu,” kata Irvan, salah satu pedagang Pasar Kuliner.

Besaran kutipan ini diakui pedagang sangat membebani mereka karena tidak sebanding dengan omzet yang didapat. Sistem penarikan uang parkir pun dinilai pedagang turut memperparah kondisi mereka karena membuat pengunjung enggan datang kembali. “Kereta (sepeda motor) diminta lima ribu. Memang dikasih, tapi kan besok sudah gak mau datang lagi mereka,” kata Irvan.

Kasat Reskrim Polres Tamiang, Iptu Fauzan Zikra mengatakan, kasus premanisme dan pungutan liar (pungli) tengah menjadi atensi serius pihaknya. Pemberantasan dua jenis kejahatan ini pun sudah mulai dilakukan sejak seminggu lalu dengan meringkus empat pelaku.

“Dalam seminggu terakhir sudah empat pelaku pungli kami amankan, operasi ini masih akan terus kami lakukan,” kata Fauzan, Senin (21/6/2021).

Keempat pelaku diamankan dalam dua operasi yang dilakukan seminggu lalu dari dua lokasi, yakni areal parkir Pasar Pagi Kualasimpang dan RSUD Aceh Tamiang. “Modusnya juru parkir, jadi mereka mengutip di atas tarif yang sudah ditentukan Qanun,” jelasnya.(mad)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved