Breaking News:

Opini

Refleksi Kesalehan dalam Diorama Haji

Desas desus pembatalan keberangkatan haji 2021 kembali merebak yang membangkitkan emosional massa, bahkan cenderung di luar kendali

Editor: bakri
Dr. Rita Khathir, S,TP., M.Sc, Dosen Prodi Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala 

Oleh Dr. Rita Khathir, S,TP., M.Sc, Dosen Prodi Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, inna alhamda wa anni'mata laka wa almulk laa syariika laka.

Desas desus pembatalan keberangkatan haji 2021 kembali merebak yang membangkitkan emosional massa, bahkan cenderung di luar kendali sebagai akibat terpapar pada banyak postingan negatif atau postingan yang mengandung unsur sara.

Saya ingin mendiskusikan fenomena ini dengan pendekatan tiga dimensi (diorama) haji. Dimensi pertama adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dimensi kedua adalah kesalehan individual, dan dimensi ketiga adalah kesalehan sosial.

Pada hakikatnya, kewajiban berhaji ini bukan untuk semua orang, ada catatan khusus bagi yang mampu baik secara kesehatan, keuangan, dan keluangan waktu. Naik haji ke Baitullah bagi sesiapa yang mampu secara lahir dan batinnya. Ada orang yang ingin naik haji, uangnya ada dan kesehatannya prima, namun ada tanggung jawab lain yang tidak bisa ditinggalkan seperti merawat orang tua, maka menangguhkan kerinduan berhajinya diberikan pahala yang sangat besar oleh Allah SWT.

Sebagai rukun Islam penyempurna yang sifatnya kondisional, maka ibadah haji bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang paripurna (mabrur). Untuk itu diperlukan persiapan yang sangat serius, salah satunya dengan program manasik haji, di mana calon jama'ah haji (CJH) diberikan materi-materi dan praktek secara khusus tentang tata tertib dan rukun ibadah haji.

Sebelum sampai ke tahap ini, sebenarnya ada persiapan yang jauh lebih penting yaitu persiapan keimanan dan ketaqwaan. Keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dapat diperoleh melalui pendidikan agama sejak lahir atau pun sejak menjadi muallaf, yakni dengan mempelajari tentang aqidah, akhlak dan ibadah.

Seseorang harus berlatih meyakini 6 rukun iman dan melaksanakan 4 rukun Islam yaitu bersyahadat, mendirikan shalat, berpuasa dan berzakat. Untuk memeroleh kesalehan individual caranya sangat mudah, yaitu berilmu dan beramal. Maknanya adalah kita menuntut ilmu agama lalu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Beramal tanpa berilmu adalah beramal secara ikut-ikutan (taklid buta) merupakan metode yang tidak akan melahirkan kesalehan individual. Sebaliknya beramal tanpa ilmu akan membentuk keangkuhan, kesombongan, riya, dan kesesatan dalam beribadah. Sedangkan berilmu tanpa beramal juga sama, tidak dapat membentuk kesalehan pribadi. Pepatah Arab mengatakan bahwa Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak memberikan buah. Sesuatu yang tidak bermanfaat dan menjadi sia-sia.

Apakah ciri-ciri terbentuknya kesalehan individual? Orang yang saleh secara individual adalah orang yang mempunyai karakter terpuji seperti jujur, bersih, disiplin, rendah hati, berani, empati, sopan santun dan lain sebagainya. Kesalehan individual juga melahirkan sifat wara' yaitu berhati-hati dalam melakukan tindakan karena khawatir melanggar hukum agama Islam.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved