Breaking News:

Opini

Tantangan Bagi Ma'had Aly di Aceh

Eksistensi Ma'had Aly sebagai jenjang pendidikan tinggi di pesantren mendapatkan pengakuan melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) No 71 Tahun 2015

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Ketua 1 Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Pemerhati Pendidikan Dayah 

Oleh Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Ketua 1 Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Pemerhati Pendidikan Dayah

Eksistensi Ma'had Aly sebagai jenjang pendidikan tinggi di pesantren mendapatkan pengakuan melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) No 71 Tahun 2015 tentang Ma'had Aly. Selajutnya, hadirnya UU No 18 Tahun 2019 tentang Pesantren juga semakin menumbuhkan harapan bagi cita-cita kebangkitan pesantren di nusantara.

Sebagai institusi pendidikan tinggi pesantren/dayah, Ma'had Aly diharapkan dapat melahirkan kader-kader ulama yang Mutafaqquh Fiddin. Dalam PMA di atas, dijelaskan bahwa Ma'had Aly adalah "perguruan tinggi keagamaan Islam yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab kuning yang diselenggarakan pondok pesantren".

Penegasan bahwa kitab kuning sebagai basis Ma'had Aly menunjukkan bahwa kitab-kitab Islam klasik merupakan elemen mendasar pembelajaran pada Ma'had Aly. Di level Aceh, pengakuan atas institusi Ma'had Aly sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam khas pesantren (dayah), ditandai dengan keluarnya Qanun Aceh tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dayah Nomor 9 Tahun 2018.

Qanun ini memberikan penjelasan bahwa Ma'had Aly merupakan suatu jenjang pendidikan tinggi di dayah sehingga disebut juga dengan sebutan "dayah manyang" (Dayah Tingkat Tinggi). Dari dayah manyang ini diharapkan dapat melahirkan kader-kader ulama yang selain menguasai khazanah kitab kuning, juga terampil menguasai khazanah keilmuan Islam modern untuk menjawab tantangan zaman.

Pada pasal 31 ayat (1) tentang Ma'had Aly dijelaskan bahwa Ma'had  Aly (Dayah Manyang) merupakan jenjang Pendidikan Dayah Tingkat Tinggi dengan masa belajar (4) empat tahun.

Pada bab ketentuan umum nomor 24, disebutkan bahwa Ma'had Aly (Dayah Manyang) adalah lembaga pendidikan dayah yang mempunyai kajian tingkat tinggi kelas thautiah dalam penyelenggaraan pendidikan dayah. Pada Bab VI pasal 28 tentang Jenjang Pendidikan Dayah disebutkan bahwa Jenjang Pendidikan Dayah terdiri dari:   Ula; Wustha; Ulya; dan Ma'had 'Aly (Dayah Manyang).

Proses belajar Ma'had Aly dalam Qanun ini adalah selama empat tahun. Sama persis seperti jenjang belajar sarjana pada perguruan tinggi yang selama ini dikenal. Dari masa empat tahun itu, terdiri dari delapan semester dengan setiap tahun sebanyak dua semester.

Jadi, qanun pendidikan dayah ini menempatkan Ma'had Aly sebagai bagian dari jenjang pendidikan di dayah pada tingkat manyang atau tinggi sebagaimana dijelaskan di atas. Selanjutnya dijelaskan bahwa Ma'had Aly (Dayah Manyang) bertujuan untuk melahirkan lulusan   yang ahli dalam bidang ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin) dan mengembangkan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning.

Kesimpulannya, baik PMA No 71 Tahun 2015 maupun Qanun Pendidikan Dayah Nomor 9 Tahun 2018, sama-sama memberikan penjelasan bahwa Ma'had Aly sebagai perguruan tinggi pesantren atau dayah, dan dengan kitab kuning sebagai basis utama keilmuannya. Ma'had Aly dilembagakan untuk memperkuat tradisi keilmuan Islam yang sudah mengakar di pesantren.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved