Kobar-GB: Pendidikan Aceh Sudah Lebih Baik
Koalisi Barisan Guru Bersatu (KoBar-GB) Aceh menyanggah pernyataan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) yang menilai bahwa
BANDA ACEH - Koalisi Barisan Guru Bersatu (KoBar-GB) Aceh menyanggah pernyataan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) yang menilai bahwa pendidikan Aceh tidak baik-baik saja. Menurut KoBar-GB, pendidikan Aceh saat ini justru sudah lebih baik.
“Guru dan siswa Aceh saat ini sudah mampu bersiang di kancah Nasional. Oleh karena itu, pendidikan Aceh sudah lebih baik,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) KoBar-GB Aceh, Taufiq SPd MPd dalam rilisnya kepada Serambi, Minggu (27/6/2021).
Hal ini lanjutnya, terbukti dengan adanya siswa dan guru SMA Negeri Unggul Kota Subulussalam yang berhasil menyabet medali pada ajang Kompetisi Sains Indonesia (KSI) dan Olimpiade Numerasi dan Literasi lndonesia (ONLI) tingkat nasional tahun 2021.
"Ini salah satu prestasi guru dan siswa Aceh yang patut diapresiasi dan didukung oleh semua pihak, bukan justru menjelekkan pendidikan Aceh," pungkas Taufiq lagi.
Rektor USK, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng sebelumnya membeberkan, tahun 2021 Aceh bertengger pada rangking 24 untuk siswa dari jalur saintek (sains dan teknologi) dengan rata-rata nilai yang diperoleh dalam ujian sebesar 486,67.
Sedangkan untuk siswa yang memilih jalur sosial dan humaniora (soshum) berada di peringkat 26 dengan perolehan nilai rata-rata siswa dalam ujian 472,86. Aceh berada di bawah Bengkulu yang berada di peringkat 18 untuk nilai rata-rata siswa, baik saintek dan soshum. Aceh juga 'kalah' dari Provinsi Papua Barat yang berhasil menempatkan siswa mereka berada di urutan 22.
Hal itu menurut Rektor, menunjukkan bahwa pendidikan Aceh tidak lebih baik dari sebelumnya. “Tidak berubah, kata-kata bagusnya tidak berubah. Atau lebih tepat lagi tidak lebih baik. Mutu kualitas pendidikan anak-anak kita di SMA tidak lebih baik, rangkingnya 24, tiga tahun lalu juga 24.” ucap Rektor dalam wawancara khusus dengan Serambi.
Kualitas pendidikan dikatakan Samsul Rizal, tergantung dari orang yang mengajar (guru). “Ini dasarnya. Rekrutmen guru seperti apa? Guru itu pernah dilatih tidak? Kalau guru tidak pernah dilatih dan tidak diupgrade ilmunya, mungkin sudah ada ilmu baru, sekarang dengan IT, revolusi industri 4,0, dia ya nggak dapat apa-apa,” tuturnya.
Menurut Sekjen KoBar-GB Aceh, Taufiq, pernyataan Rektor USK itu sangat keliru. Ia menegaskan bahwa pendidikan di Aceh saat ini sudah ada peningkatan, walaupun tantangan lebih besar. Selain itu, hasilnya juga tidak mungkin langsung kelihatan.
"Rektor Unsyiah keliru, kami ini anak beliau, anak didik beliau. Kalau beliau menganggap guru tidak paham atau bodoh, berati beliau lebih bodoh dari kami," pungkasnya.
Ia menilai, pernyataan Rektor USK itu sangat tidak pantas, apalagi menyalahkan pihak lain. "Semua kita punya kontribusi untuk memajukan pendidikan Aceh. Apakah Rektor USK pernah melakukan penelitian tentang pendidikan Aceh? Ini menjadi catatan bagi kita semua,” imbuhnya.
Taufiq menyebutkan, menurut data dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), siswa Aceh masuk peringkat 8 nasional dengan jumlah terbanyak yang diterima pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN). Selain itu juga peringkat 5 nasional pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2021.
Bukti ini, kata Taufik, membuktikan bahwa mutu guru dan tenaga kependidikan di Aceh sudah lebih baik. Ia juga menegaskan bahwa selama ini, Dinas Pendidikan bersama seluruh cabang telah bekerja keras, siang dan malam untuk membangun mutu pendidikan. “Apa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Aceh sudah tepat, sesuai dengan visi dan misi Gubernur Aceh menuju Aceh Carong dan Meuadap," demikian Taufiq.(yos)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kobargblatihgurufasilitator.jpg)