Breaking News:

Opini

Karakterisktik Pendidikan; Relasi Sosio-Kultur dan Agama

Apabila diperhatikan kenyataan lingkungan sosial dengan seksama, akan ditemukan adanya keterkaitan (relasi) antara usaha menumbuhkan karakter individu

Editor: bakri
Karakterisktik Pendidikan; Relasi Sosio-Kultur dan Agama
Dr. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh Dr. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Apabila diperhatikan kenyataan lingkungan sosial dengan seksama, akan ditemukan adanya keterkaitan (relasi) antara usaha menumbuhkan karakter individu dengan tujuan mengembangkan suatu komunitas masyarakat.Individu tidak akan mencapai kemajuan dan tidak akan dapat mengungkapkan dirinya sendiri kecuali lewat kehidupannya di tengah-tengah masyarakat dan menyatukan diri dengan lingkungannya. Kultur masyarakat yang dijumpai seseorang sejak kelahirannya adalah sarana pertama bagi kebebasannya dan gerak langkahnya menuju suatu kehidupan manusia sebagaimana mestinya.

Manusia akan tetap menjadi semacam "hewan" seperti yang dikatakan oleh Hayyu bin Yaqzhan atau oleh Robinson Crouzu, jika ia terpencil dari masyarakatnya dan tidak menyatu diri dengannya. Pembentukan manusia tidak akan sempurna manakala ia tidak dapat mengenal kepribadiannya sendiri sebagai individu dan tidak dapat menghayati nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi daripada masyarakatnya, khususnya mengenai soal-soal yang bersangkutan dengan kebajikan, kebenaran dan keindahan. Dari celah-celah nilai yang dihayatinya sendiri itu ia melihat kepada masyarakatnya dan dengan demikian barulah ia dapat berusaha mengembangkannya.

Kebebasan individu dan pembentukannya yang sehat membuka kemungkinan baginya untuk dapat memiliki pandangan pribadi dan sikap mandiri. Ini merupakan jalan untuk mencapai tujuan individunya dan tujuan masyarakatnya sekaligus. Untuk membentuk sikap mandiri dan untuk dapat memiliki pandangan pribadi yang bebas, malah bagi yang sedang dalam masa pertumbuhan dapat ditempuh melalui cara pengajaran yang mengikutsertakan pelajar di dalam menggali berbagai cabang ilmu, jadi bukan dengan jalan mendikte atau mengimlakkan.

Misalnya guru dan murid bersama-sama mempelajari dan memecahkan suatu persoalan. Tujuan pokok pendidikan dan pengajaran, harus dapat menanamkan kesanggupan kepada murid supaya mempunyai sarana yang diperlukan untuk menggali sendiri berbagai kenyataan yang dihadapi. Banyak suara santer yang dikumandangkan oleh para ahli pendidikan dan para ahli ilmu jiwa, yang menyatakan bahwa tujuan pengajaran dan pendidikan bukan untuk mendiktekan pengetahuan kepada murid, melainkan agar murid itu dapat memiliki sarana-sarana untuk mencari pengetahuan sendiri.

Rousseau mengatakan: "Kita tidak ingin menciptakan manusia pelajar, yang kita inginkan ialah menciptakan manusia yang sanggup belajar." Seneca, seorang penulis Romawi, mengatakan, "Yang ada di depan kita bukan kantong kosong yang hendak kita isi, melainkan kita berada di depan sebuah tungku yang harus kita nyalakan."

Jelaslah bahwa masalah yang terpenting dalam pendidikan dan pengajaran ialah kita harus dapat membuat murid memiliki sarana dan perlengkapan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, dan bukan supaya murid memproleh pengetahuan sendiri dengan mengikut model gurunya. Melatih dan membiasakan murid bekerja mengadakan penelitian, penyelidikan, pengamatan dan cermat membaca, itulah yang memberi jaminan kepada kita tentang kesanggupan seorang murid untuk belajar sendiri terus-menerus.

Mengutamakan prinsip membuat manusia mengenal harga diri dan memudahkan keterbukaan pribadi, itulah karakteristik pendidikan yang mesti dikembangkan. Jalan pertama ke arah itu ialah pendidikan harus menjadi cara agar anak didik memiliki sifat terbuka dan sanggup menampakkan daya mampunya. Jadi bukan sebaliknya, yaitu membuat anak didik menjadi sarana pendidikan.

Pendidikan belum berarti pendidikan dalam arti kata yang sebenarnya jika tujuannya tidak mengantarkan manusia kepada tingkat kebebasan pribadi menurut semestinya sebagaimana ia diciptakan, di samping harus pula dapat membuatnya memiliki kemampuan untuk menemukan

pada dirinya sendiri sumber-sumber perangai yang sehat dan pemikiran yang lurus. Kesanggupan menemukan kembali kepribadian sejati itulah karakteristik pendidikan yang ideal. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-quran, adz-Dzariyat ayat 21 "Dan di dalam diri kalian, apakah kalian tidak melihatnya".

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved