Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menikmati Senja di Pante Paku

Pante Paku merupakan salah satu gampong (desa) di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Desa ini terletak di pesisir pantai, masuk dalam kategori desa

Editor: bakri
Menikmati Senja di Pante Paku
IST
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Jangka, Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Jangka, Bireuen

Pante Paku merupakan salah satu gampong (desa) di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Desa ini terletak di pesisir pantai, masuk dalam kategori desa yang sedang berkembang. Banyak jalan yang dapat kita lewati untuk bisa tiba di Pante Paku. Salah satunya melalui Kota Matangglumpang Dua menuju pantai Jangka, dengan jarak tempuh ± 10 km.

Saya dan keluarga kecil pada hari libur Minggu kemarin berkesempatan mengunjungi desa ini. Selain karena ingin bersilaturahmi dengan keluarga mamak (ibu), juga ingin menikmati keindahan pantai Pante Paku yang masih asri dan belum mendapatkan penataan modern.

Jalan di desa ini baru sebagian kecil yang diaspal, lebarnya juga hanya dapat dilintasi satu kendaraan roda empat.

Memasuki desa ini aroma khas tambak begitu terasa. Perkampungan yang dikelilingi tambak ini secara umum memiliki tingkat kesejahteraan yang baik jika dibandingkan dengan desa lain di sekitarnya. Mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah nelayan tradisional dan nelayan tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) dan juga ikan bandeng (Chanos chanos).

Penduduknya yang ramah memberi kesan tersendiri bagi kami. Perumahan warga di sini ada yang dibangun oleh pemerintah dalam bentuk bantuan pascatsunami Aceh pada 26 Desember 2004.  Rumah warga umumnya terbuat dari beton dengan kondisi yang sangat baik. Bunga-bunga aneka warna menambah indahnya perumahan yang kami lalui. Walaupun padat, sanitasi yang mereka miliki cukup baik.

Meskipun sempat salah alamat, akhirnya kami bertermu dengan saudara mamak (istri paman) yang sudah lama menetap di  Desa Pante Paku. Beliau dikenal dengan sebutan Kak Cot Buket, tapi saya memanggilnya Nek Lot. Beliau  dulunya berasal dari Desa Cot Buket, Kecamatan Peusangan.

Anak-anaknya dari wanita berpostur kecil ini juga ada yang berprofesi sebagai nelayan tambak. Pada saat bertemu pertama beliau hampir tak mengenal saya, karena katanya, “Jauh beda, dulu kecil, sekarang besar.” Kami pun tertawa lepas mendengar komentarnya.

Setelah bercengkerama dan melepas rindu dengan keluarga, akhirnya kami mohon izin untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pante Paku yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Jalan yang kami lalui sedikit ekstrem, selain berliku juga dikelilingi tambak warga tanpa pembatas dan hanya dapat dilewati oleh satu kendaraan roda empat.

Hati saya sedikit kecut ketika mendaki jalan dengan jembatan yang sangat sempit. Apalagi saat itu dua kendaraan dengan bebas diparkir pengendaranya pas di pinggir jembatan. Kendaraan kami nyaris tergores ketika melintas. Mungkin mereka beranggapan tak akan ada kendaraan yang melalui jembatan ini, dan ternyata ketika kami tiba di salah satu lokasi bersantai di Pante Paku tidak ada kami jumpai kendaraan roda empat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved