Breaking News:

Opini

Menuju Aceh Bersih Narkoba

Pandemi Covid -19 yang melanda dunia termasuk Indonesia telah menyita perhatian semua pihak. Seharusnya kasus penyalahgunaan narkoba

Editor: bakri
Menuju Aceh Bersih Narkoba
IST
Humaira, ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, Alumni Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Oleh Humaira, ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, Alumni Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Pandemi Covid -19 yang melanda dunia termasuk Indonesia telah menyita perhatian semua pihak. Seharusnya kasus penyalahgunaan narkoba juga menjadi fokus bersama terutama penyalahgunaan pada generasi muda khususnya di tingkat pelajar dan mahasiswa. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan survei yang menunjukkan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia menggunakan narkoba, angka ini setara dengan 3,2 persen dari populasi tersebut.

Walaupun terlihat kecil tapi angka tersebut perlu menjadi perhatian khusus bahwa upaya penanganan permasalahan narkoba di kalangan remaja tidak hanya dilakukan secara massif tetapi juga lebih agresif. Masa remaja ini memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan persiapan masa depan.

 Penggunaan narkoba pada remaja akan berdampak buruk  bagi prestasinya karena mempengaruhi daya pikir, kinerja otak, dan berbagai organ penting lainnya. Selain berpengaruh pada tubuh, bahaya narkoba juga dapat menyebabkan hal-hal yang mengganggu kualitas hidup seperti mengalami masalah di sekolah, kampus atau keluarga, mengalami kesulitan belajar hingga berurusan dengan hukum.

 Bahaya narkoba lainnya berkaitan dengan masalah kejiwaan seperti mengalami halusinasi bahkan bisa mencetuskan gangguan jiwa berat atau skizofrenia. Saat seseorang mulai mengonsumsi narkoba maka kemungkinan besar akan mengalami kecanduan. Makin lama pengguna akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi demi merasakan efek yang sama.

Ketika efek narkoba mulai hilang, pengguna akan merasa tidak nyaman akibat munculnya gejala putus obat dan ingin kembali memakainya. Seorang pecandu juga lebih rentan mengalami infeksi menular, kecelakaan dan upaya bunuh diri akibat berada di bawah pengaruh obat.

Melihat banyaknya efek negatif dari penggunaan narkoba, bagaimana mungkin kita masih berdiam diri. Banyak pihak perlu berkontribusi memerangi peredaran narkoba.  Adanya hukuman yang berat untuk pengedar bisa membuat efek jera kepada yang lain.

 Khusus Aceh, dengan adanya Qanun No. 8 tahun 2018 tentang fasilitasi pencegahan dan penyalahgunaan narkoba, menjadi lebih mudah dalam menyusun upaya konkrit untuk pencegahan penyalahgunaan narkoba ini.

Upaya di tingkat gampong bisa dengan menyiapkan fasilitas untuk kegiatan para remaja di luar jam sekolah, misalnya d isetiap gampong menyediakan fasilitas olahraga yang lengkap, terdapat sanggar tempat remaja menyalurkan berbagai hobi, mengadakan pengajian/ halaqah khusus remaja. Dengan demikian diharapkan remaja tidak sempat memikirkan dan terjerumus kepada hal- hal yang negatif.

Sebagai orang tua harus lebih waspada terhadap penyalahgunaan narkoba pada anak dan remaja. Banyak tanda yang bisa menjadi sinyal bahwa remaja sedang terjerat dalam belenggu narkoba.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved