Breaking News:

Opini

Kemitraan Menuju Polisi Rakyat

Seperti juga berbagai elemen lain dalam pemerintahan dan masyarakat, pandemi Covid-19 sedikit tidaknya telah memberi pengaruh juga kepada Polri

Editor: bakri
Kemitraan Menuju Polisi Rakyat
Saifuddin Bantasyam, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh

Oleh Saifuddin Bantasyam, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh

Setiap tanggal 1 Juli diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Bhayangkara (Kepolisian Negara Republik Indonesia—Polri). Tahun 2021 ini, adalah HUT yang ke-75. Seperti juga berbagai elemen lain dalam pemerintahan dan masyarakat, pandemi Covid-19 sedikit tidaknya telah memberi pengaruh juga kepada Polri.

Namun, dalam upaya pencegahan meluasnya pandemi itu, Polri telah menunjukkan sikap yang sigap. Bersama dengan TNI, manajemen rumah sakit, dinas kesehatan, para relawan, Polri terlihat siap 24 jam memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Mungkin berita berjudul “Wakapolres Jakarta Selatan Menangis saat Pasien Covid-19 yang Ditolongnya Meninggal: Saya Minta Maaf (Tribunjakarta.com, 24 Juni 2021) dapat mewakili sedikit pemahaman kita terhadap keseriusan Polri di masa pandemi ini. Wakapolres AKPB Antonius Agus Rahmanto, dengan memakai APD lengkap, mengambil inisiatif untuk membantu membawa Budi, pasien covid ke rumah sakit karena kondisinya yang kritis.

Dia meminjam mobil seorang warga karena ambulans yang ditunggu sudah satu jam, tak kunjung datang. Nyawa Budi tak tertolong dan Agus meminta maaf kepada keluarga pasien karena Agus sebelumnya sudah berjanji akan membawa pulang Budi dalam keadaan sudah sehat. Polmas Menurut Lynch (1995), efektivitas dalam mencapai tujuan sebuah organisasi, seperti organisasi kepolisian, tergantung pada proses manajemen.

Proses itu berada pada tiga area, yaitu (1) faktor teknis, (2) faktor perilaku/psikologis, dan (3) faktor fungsional. Kita semua bersetuju bahwa kemampuan teknis kepolisian sudah sedemikian meningkat. Namun, pada aspek perilaku, tentu ada pula cerita-cerita gagal, sesuatu yang sebenarnya lumrah semata. Hanya saja, kegagalan ini akan menjadi masalah jika tak dibarengi oleh sebuah komitmen tiada hari tanpa peningkatan perilaku.

Dalam konteks ini, kesan bagus lahir melalui konsep atau program “community policing” (perpolisian masyarakat—Polmas). Ini adalah suatu program yang diarahkan kepada kemitraan polisi-masyarakat untuk peningkatan peran masyarakat berkait dengan tugas-tugas polisi menjaga ketertiban dan mencegah atau menangani kejahatan. Berkenaan dengan pendapat Lynch di atas, Polmas berada pada area yang kedua.

Program ini juga didasarkan pada pemikiran bahwa interaksi dan dukungan masyarakat dapat membantu mengontrol kejahatan dan mengurangi rasa takut masyarakat, di dalam mana masyarakat membantu mengidentifikasi tersangka, menangkap pelaku kejahatan, dan membawa mereka kepada polisi. Namun, untuk bisa berhasil menjalankan misi ke- polmasannya, adanya banyak hal yang harus dimiliki. Polmas adalah “proyek” mengubah mentalitas, tidak sekadar berada di wilayah kognitif, melainkan motorik dan afektif sekaligus. Dengan kata lain, ada banyak prasyarat dalam mengembankan misi Polmasnya, termasuk perubahan manajemen dan budaya. Polisi harus mampu dengan jeli mengenali nilai-nilai yang bersifat abstrak dan norma-norma yang bersifat kongkrit di tengah masyarakat.

Polisi juga harus memiliki kemampuan membaur dengan masyarakat, bersikap luwes, apresiatif, adil, berani mengatakan kebenaran, tidak mengenal istilah kalah- menang, profesional, tidak melibatkan masalah pribadi, mengakui kesalahan, menerima tugas-tugas sulit, tetap fokus, dan efisien (Giddens, 2007). Dengan atribut di atas, maka seperti ada semacam keharusan berkarakter kenabian pada diri polisi, sesuatu yang sungguh sulit untuk dicapai. Namun, kearah itu pula-lah “perahu” kepolisian harus didayung untuk membuat polisi menjadi polisi rakyat.

Dalam konteks ini, partisipasi rakyat adalah hal yang sangat penting. Memang ada penelitian bahwa di beberapa distrik di Amerika Serikat ternyata angka kejahatan tetap tidak menurun meskipun masyarakat telah berpartisipasi membantu polisi, namun di distrik-distrik lain angka kejahatan bisa menurun sampai 10% sebab masyarakat mau bekerjasama dengan polisi. Beberapa tahun lalu saya mencoba mengetes dengan survei sederhana tentang Polmas dan pandangan umum masyarakat melalui telepon genggam dan berhasil menjaring 129 responden di Banda Aceh dan di beberapa kabupaten/kota lain di Aceh—yang merupakan sahabat-sabahat yang saya kenal. Hasil survei cukup bagus, tetapi juga ada hal yang mengkhawatirkan. Misalnya, 81% responden menjawab bahwa polisi belum akrab dengan masyarakat dan 65% menyatakan tidak nyaman saat berada dekat dengan polisi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved