Breaking News:

Kupi Beungoh

Ekonomi Gampong Bakongan: “The New Boeke Theory” untuk Petani Sawit Aceh? (VI)

Boeke dengan sangat berani menyebutkan pandangan ekonomi pribumi yang tidak rasional yang berhadapan dengan perusahaan yang sangat rasional.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Human Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

WALAUPUN judul tulisan ini terkesan canggih, sebenarnya isinya sangat sederhana.

JH Boeke adalah seorang ahli ekonomi kolonial awal abad ke 20 yang mencoba menyederhanakan kerangka pemikiran pemahaman ekonomi pedesaan-Indonesia (Hindia Belanda pada masa itu) dengan mengkontraskan realitas pertanian yang ada kala itu.

Apa yang disebut dengan istilah “dual economy” dalam teorinya tidak lain dari sebuah potret kontras sektor pertanian modern komersial-umumnya perkebunan swasta asing, skala besar, dan sangat kapitalistik.

Pada saat yang sama, sektor ini hidup berdampingan dengan pertanian rakyat, skala kecil, tradisonal, dan berorientasi kebutuhan rumah tangga.

Boeke dengan sangat berani menyebutkan pandangan ekonomi pribumi yang tidak rasional yang berhadapan dengan perusahaan yang sangat rasional.

Dalam pandangannya, akar dari masalah terletak pada pola pikir kedua entitas itu.

Sektor modern yakni perusahaan yang dimiliki oleh masyarakat Eropa  menempatkan pertimbangan ekonomi rasional dalam pemenuhan kebutuhan.

Berbeda dengan sektor pertanian modern yang dijalankan oleh pengusaha Eropa pada masa itu, masyarakat pribumi dianggap mendasarkan pemenuhan kebutuhannya, selain dari konsumsi rumah tangga, lebih banyak berorientasi kepada kebutuhan non-ekonomis yang menyangkut dengan norma sosial dan gengsi di mata masyarakat.

Kedua sektor itu tidak akan pernah bertemu, karena walaupun hidup berdampingan, namun mempunyai akar budaya dan logika yang sangat berbeda.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved