Lambda Varian Covid-19 Tak Kalah Mematikan dari Kappa dan Delta, Mutasinya Bikin Ilmuwan Bingung
FT, mengutip WHO, melaporkan bahwa 82% dari kasus Covid-19 baru pada Mei dan Juni di Peru adalah varian Lambda.
SERAMBINEWS.COM - Covid-19 yang menyebar hampir di seluruh dunia terus mengalami mutasi dan melahirkan varian baru.
Belum lama ini, di Indonesia, khususnya di Jakarta ditemukan adanya varian baru Covid-19 Kappa.
Tapi tahu kah Anda, bahwa ada lagi varian baru bernama Lambda dengan lambang C.37.
Konon kabarnya, varian Covid-19 Lambda sudah menyebar di 27 negara.
Pertama kali varian Covid-19 Lambda ditemukan di Peru.
Public Health England (PHE) mengatakan pihaknya mendeteksi enam kasus varian Lamba antara 23 Februari dan 7 Juni, lima di antaranya sempat bepergian ke luar negeri, menurut Reuters.
Seorang dokter di bidang biologi molekuler di universitas Cayetano Heredia di Peru, Pablo Tsukayama mengatakan bahwa ketika varian Lamba pertama kali menarik perhatian petugas medis pada bulan Desember, varian itu hanya ada satu dari setiap 200 sampel.
"Namun pada bulan Maret, sekitar 50% sampel di Lima adalah varian Lambda dan sekarang sekitar 80%. Itu akan menunjukkan tingkat penularannya lebih tinggi daripada varian lain," katanya.
FT, mengutip WHO, melaporkan bahwa 82% dari kasus Covid-19 baru pada Mei dan Juni di Peru adalah varian Lambda.
Negara tetangga, Chili juga tidak terhindar dari dampak buruknya, karena menyumbang hampir sepertiga dari kasus baru di sana.
Apakah varian Lambda lebih menular dari varian lain?
Para ilmuwan belum memutuskan apakah mutasi pada Lamba membuatnya menjadi lebih menular.
"Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa varian Lambda lebih agresif daripada varian lain," kata Jairo Méndez Rico, penasihat penyakit virus yang muncul di Pan-American Health Organisatio (PAHO).
"Mungkin saja varian ini memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi tetapi lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk ini."
WHO percaya bahwa empat strain lain yang lebih banyak dilaporkan menjadi perhatian yang lebih besar, yaitu Alpha, Beta, Gamma dan Delta yang pertama kali masing-masing pertama kali terdeteksi di Inggris, Afrika Selatan, Brasil dan India.
Dikatakan bahwa varian Lamdba, meski begitu, perlu diawasi dengan ketat.
Menyusul pengumuman WHO pada 23 Juni, PHE mengatakan Lambda adalah varian yang sedang diselidiki "karena ekspansi internasional dan beberapa mutasi penting".
Namun PHE mengklarifikasi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa varian itu adalah bentuk penyakit yang lebih parah atau yang dapet mengurangi kemanjuran vaksin.
"Salah satu alasan mengapa sulit untuk memahami ancaman dari Lambda, menggunakan data komputasi dan lab, adalah karena ia memiliki serangkaian mutasi yang tidak biasa, dibandingkan dengan varian lain," lapor FT, mengutip Jeff Barrett, Direktur Covid-19 Genomics Initiative di Wellcome Sanger Institute di Inggris.
Menurut Barrett, karena tidak banyak fasilitas pengurutan genetik di Amerika Latin, sulit untuk memastikan berapa banyak wabah di sana yang diakibatkan oleh strain Lambda.
Baca juga: Kendalikan Covid-19 Varian Baru, Luhut Ingin Mobilitas Warga Ditekan hingga 50 Persen
Baca juga: Inggris Terapkan Aturan Covid-19, Suporter Gagal Dukung Timnas Denmark di Stadion Wembley
'Berpotensi menjadi variant of concern'
Menurut FT, Lambda memiliki pola unik dari tujuh mutasi pada protein lonjakan yang digunakan virus untuk menginfeksi sel manusia.
Para peneliti sangat tertarik dengan satu mutasi yang disebut L452Q, yang mirip dengan mutasi L452R yang diyakini berkontribusi pada tingkat penularan yang tinggi dari varian Delta.
Sebuah penelitian dilakukan oleh Monica Acevedo dan rekan-rekannya di Universitas Chili, Santiago.
Penelitian itu melibatkan analisis sampel darah dari petugas kesehatan setempat untuk mempelajari efek Lambda pada infektivitas virus.
Baca juga: Jangan Panik! Ini yang Harus Dilakukan Orangtua Ketika Anak Positif Covid-19
Para petugas kesehatan telah menerima dua dosis vaksin CoronaVac China.
Temuan yang dipublikasikan pada hari Kamis, tampaknya menunjukkan Lambda lebih menular daripada Gamma dan Alpha dan lebih mampu melarikan diri dari antibodi yang dihasilkan oleh vaksin.
"Data kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa mutasi yang ada pada protein lonjakan varian Lambda memberikan pelepasan antibodi penawar dan peningkatan infektivitas," tulis temuan tersebut.
Seorang pasien yang terinfeksi varian Lambda di Brasil, di mana Gamma telah menjadi strain dominan, dipelajari oleh sekelompok peneliti di kota Porto Alegre.
"Mengingat varian ini telah menyebar dengan cepat di Peru, Ekuador, Chili, dan Argentina, kami percaya bahwa Lambda memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi variant pf concern," tulis para peneliti dalam makalah yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.
Baca juga: Kisah Kakek Nikahi Gadis Muda, Modal Tubuh Kekar Berotot, Ceraikan Istrinya Tidur dengan Pria Lain
Baca juga: Curhatan Pilu Istri Kiwil, Venti Figianti Mengaku Dulu Pernah Bohong ke Rohimah
Baca juga: Sekda Aceh Besar Serahkan Bantuan untuk Anak Panti Asuhan
Tribunnews.com dengan judul Lambda, Varian Virus Corona Baru yang Membuat Bingung Ilmuwan karena Mutasinya yang Tak Biasa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona-11.jpg)