Breaking News:

Opini

‘Man of Action’

Mestinya, manusia beriman merupakan makhluk yang dapat menggali dan mengoptimalkan seluruh potensi diri (fitrah, capital of fundamental)

Editor: bakri
‘Man of Action’
FOR SERAMBINEWS.COM
Adnan, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe

Oleh Adnan, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe

“Semua manusia dianggap mati, kecuali yang berilmu. Orang berilmu dianggap tidur, kecuali yang beramal. Orang beramal dianggap sia-sia, kecuali yang ikhlas dalam amalannya” (Syaikh Dzunnun Al-Mishry).

Adagium Syaikh Dzunnun Al-Mishry di atas memberikan sebuah konsepsi reflektif kepada pembaca. Mestinya, manusia beriman merupakan makhluk yang dapat menggali dan mengoptimalkan seluruh potensi diri (fitrah, capital of fundamental) sebagai pembeda (distingsi) dengan makhluk atau spesies lain di muka bumi.

 Skema pergulatan hidup manusia beriman ideal yakni seputar menggali pengetahuan, lalu mengaplikasikan dengan penuh kesukarelaan tanpa pamrih dalam kehidupan. Akan tetapi, fakta empiris menunjukkan bahwa sebagian manusia beriman hanya berkutat pada penggalian dan pengkajian pengetahuan tanpa dibarengi dengan aplikasi dalam kehidupan. Maka lahirlah manusia retorik tanpa tindak.

Ironi, terkadang teks-teks (nash) agama hanya menjadi objek kajian semata, tanpa dibarengi dengan aksi nyata. Padahal, teks-teks agama, semisal Alquran dan Hadis, merupakan sumber pengetahuan dan referensi (maraji’) untuk didalami secara komprehensif dan holistik, sekaligus aplikatif dalam kehidupan nyata, baik menyangkut aspek agama, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, politik, pariwisata, maupun hukum.

Artinya, seluruh aspek kehidupan manusia mesti terhubung (include) dan terintegrasi dengan nilai-nilai agama (islami of values), sehingga substansi teks-teks agama bukan sekadar kandungan kitab suci, tapi juga lahir dalam wujud konkret pada kehidupan nyata.

Sebab itu, adagium di atas hendak menggiring setiap manusia beriman agar menjadi manusia amal (man of actiomn), bukan sekadar manusia retorika tanpa aksi nyata. Dimana setiap pengetahuan yang telah digali dan dikaji secara mendalam dapat diaplikasikan dalam kehidupan sosial berbangsa, bernegara, dan beragama.

Tatkala isteri Rasulullah SAW, Aisyah ra, ditanya oleh sahabat mengenai akal budi Rasulullah SAW, ia menggambarkan bahwa: ‘kana khuluquhul

qur’an’. Sebuah wujud konkret bahwa baginda Nabi SAW telah mempraktekkan seluruh substansi Alquran, hingga ia dilakap dengan ‘Alquran berjalan’. Artinya, kitab suci mesti aplikatif dalam kehidupan nyata manusia beriman.

Bahkan, jika menilik Alquran secara komprehensif dan holistik, maka ditemukan bahwa terma ‘amanu’ yang berarti iman, selalu disandingkan dengan terma ‘‘amilus shalihat’, yang berarti amal saleh. Ini sebagai indikasi bahwa iman seseorang mesti dibuktikan dengan amal saleh. Iman itu sesuatu yang abstrak, tidak dapat disentuh oleh panca indera. Akan tetapi, amal saleh dapat diindera, semisal gerakan tubuh saat shalat, dan gerakan bibir saat membaca Alquran.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved