Breaking News:

Opini

Berteknologi dengan Adab

Ketika rombongan safari shubuh madani berkunjung ke Masjid Nurul Huda di desa Limpok , Aceh Besar, beberapa waktu lalu, penulis melihat pemandangan

Editor: bakri
Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng., Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer Universitas Syiah Kuala (USK), Peneliti Kecerdasan Buatan (AI) 

Oleh Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng., Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer Universitas Syiah Kuala (USK), Peneliti Kecerdasan Buatan (AI)

Ketika rombongan safari shubuh madani berkunjung ke Masjid Nurul Huda di desa Limpok ,  Aceh Besar,  beberapa waktu lalu, penulis melihat pemandangan yang meneduhkan. Saat itu rombongan menghadirkan Tgk. Sri Darwaman yang memberikan tausyiah tentang urgensi berkurban, dan menegaskan berkurban bukanlah ritual sekali dalam seumur hidup namun merupakan ibadah tahunan yang harus ditunaikan oleh seluruh kaum muslimin yang memiliki kemampuan.

Yang menarik adalah ketika Tgk. Sri menyelesaikan tausyiahnya di atas mimbar, beliau turun dan bergegas ke arah pojok masjid. Sembari dikerubungi para jamaah yang menyalami, beliau terus saja berjalan ke arah pojok masjid tersebut. Maksud beliau adalah untuk menghampiri ulama lainnya, yaitu Abi Daud Hasbi yang juga turut hadir di shubuh yang mulia itu.

Di kesempatan lain, kita pun pernah menyaksikan pemandangan serta saling hormat di antara kedua ulama dalam sebuah majelis. Yaitu ketika Buya Yahya (pengasuh pondok pesantren Al- Bahjah, Cirebon) yang sedang serius mengisi kajian rutinnya, tidak sadar akan kehadiran seorang Habib Novel Alaydrus (Pimpinan Majelis Ilmu Ar-Raudhoh, Surakarta) di tengah ratusan jamaah yang hadir. Ketika sesi pertanyaan dan Habib Novel hendak bertanya, baru Buya sadar dan terkejut. Ia pun bergegas menghampiri dan mendesak habib untuk duduk bersamanya di depan majelis untuk membahas pertanyaan para jamaah.

Dari dua contoh tadi, kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa ketika berinteraksi dalam sebuah lingkungan, maka adab harus dikedepankan. Tidak hanya itu, Islam mengajarkan untuk menghormati ulama sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani dalam shahih al jami:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

Tidak hanya itu, agama Islam senantiasa mengingatkan kita untuk memiliki akhlak yang baik sebelum menimba ilmu agama dan dunia. Sebuah motivasi dari Syaikh sholeh al-ushoimi bias menginspirasi kita, kata beliau: “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Hari ini kita dihadapkan oleh tantangan untuk tetap menjaga adab dalam menggunakan teknologi. Pandemi COVID-19 telah meningkatkan interaksi masyarakat khususnya melalui sosial media dan aplikasi percakapan (seperti WA, Telegram, LINE, dst). Sebuah data statistic yang dikeluarkan oleh Statista (Mei, 2021) yang menyebutkan bahwa penggunaan sosial media (per orang) di Amerika Serikat selama pandemi mencapai 65 menit setiap harinya.

Hal ini meningkat jika dibandingkan dengan data tahun lalu, dimana setiap orang menghabiskan 54 menit untuk bersosial media setiap hari. Diperkirakan penggunaan sosial media akan tetap stabil di angka tersebut karena pemberlakukan bekerja dari rumah (work from home) dan pembatasan interaksi yang masih dijalankan di beberapa kota hingga berbagai negara. Yang sedikit mengkhawatirkan adalah beberapa percakapan di sosial media yang cenderung menyalahkan satu pihak walau berpegang pada data dan fakta yang sangat diragukan.

Kecenderungan untuk mempertahankan argumen pribadi dengan cara yang tidak santun, juga berdampak pada efektif tidaknya sebuah komunitas digital seperti WhatsApp grup, forum web portal, dan seterusnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved