Breaking News:

Jurnalisme Warga

Harapan Baru di Kebun Surga

Setelah menghabiskan masa liburan panjang menyambut Ramadhan dan Idulfitri 1442 Hijriah, para santri diharuskan kembali ke dayah masing-masing

Editor: bakri
Harapan Baru di Kebun Surga
IST
NAURATUL ISLAMI, Santriwati Dayah Putri Muslimat dan Mahasiswi Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga, melaporkan dari Samalanga, Kabupaten Bireuen

OLEH NAURATUL ISLAMI, Santriwati Dayah Putri Muslimat dan Mahasiswi Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga, melaporkan dari Samalanga, Kabupaten Bireuen

Setelah menghabiskan masa liburan panjang menyambut Ramadhan dan Idulfitri 1442 Hijriah, para santri diharuskan kembali ke dayah masing-masing. Para santri menyematkan kata “kebun surga” untuk dayah tempat mereka mondok. Hal itu dikarenakan dayah adalah tempat untuk menuntut ilmu sekaligus mengamalkannya, serta orang yang menetap di sana akan selalu berada di bawah naungan malaikat.

Meskipun terasa berat karena harus meninggalkan orang tua, tapi kaki tetap harus dilangkahkan menuju ke kebun surga.

Setelah menyelesaikan urusan perizinan, mereka pun berjalan ke arah asrama didampingi oleh wali masing-masing. Mereka membawa perlengkapan seperti biasanya. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah mereka saat bertatap muka dengan guru dan teman-teman yang sudah lama tidak mereka jumpai.

Setelah pamitan pada orang tua, santriwati pun kembali menjalankan aktivitas seperti biasa dengan teman seperjuangan lainnya. Ada begitu banyak hal yang mereka ceritakan tentang kisah mereka selama masa sebulan ke belakang. Sesekali terdengar tawa bahagia mereka.  

Namun, mereka tidak memiliki banyak waktu untuk berleha-leha, dikarenakan ujian akan segera dilaksanakan. Mayoritas santriwati sudah mengulang kaji kitab yang akan diujiankan saat liburan sehingga mereka hanya perlu mengulang kembali kitab yang sudah dipelajari.

Wajah-wajah santriwati baru yang akan melanjutkan pendidikan di tingkat SMA mulai terlihat. Saya serasa diajak kembali ke tahun 2014 silam saat pertama kali menginjakkan kaki di dayah. Dengan penuh semangat mereka menuju ke arah aula untuk menyelesaikan proses untuk memasuki asrama. Didampingi oleh teungku-teungku yang bertugas di penerimaan santriwati baru, mereka membawa seluruh barang ke kamar yang akan mereka tempati.

Bagi saya, hari pertama masuk asrama itu sangat mengesankan. Bagaimana tidak, hari itu adalah hari pertama kita mulai belajar hidup mandiri serta jauh dari orang tua. Hari itu juga kita berjumpa dengan teman baru dari berbagai daerah. Dari tidak mengenal satu sama lain hingga menjadi teman yang akan berjuang bersama.

Khusus untuk kamar-kamar santriwati baru, ada mudabbirah (teungku yang menetap di kamar tersebut). Biasa disapa dengan sebutan ukhti. Mereka merupakan pengurus kamar yang akan membantu santriwati baru beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.

Hal yang paling identik dengan santriwati baru adalah mereka akan menangis pada saat orang tua mereka hendak pulang. Hal itu biasanya akan berlangsung untuk beberapa waktu.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved