Jumat, 10 April 2026

Pejabat Tokyo Nangis Saat Umumkan Olimpiade Tanpa Penonton

Pejabat Olimpiade Tokyo 2020 menangis saat konferensi pers, setelah dia meminta maaf karena event tersebut digelar tanpa penonton

Editor: bakri
Youtube/Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melepas 28 atlet Indonesia yang akan bertanding di Olimpiade Tokyo 2021. 

TOKYO - Pejabat Olimpiade Tokyo 2020 menangis saat konferensi pers, setelah dia meminta maaf karena event tersebut digelar tanpa penonton. Hidenori Suzuki, direktur senior bagian tiket mengumumkan keputusan itu dalam jumpa pers, Jumat (9/7/2021) waktu setempat. Panitia memutuskan menghelat Olimpiade tanpa penonton menyusul nainya kasus Covid-19 di ‘Negeri Sakura’ tersebut.

"Bagi masyarakat yang sudah menantikan Olimpiade Tokyo 2020, saya meminta maaf tak bisa memenuhi ekspektasi mereka," kata dia. Sambil menangis, Suzuki meminta maaf kepada fans yang sudah dua tahun menanti gelaran Olimpiade 2020. "Bagi mereka yang sudah menunggu untuk menonton laga favorit bersama teman dan keluarga, saya menyesal tak bisa memenuhi harapan mereka," isaknya.

Dilansir Sky News, Suzuki menekankan kepada masyarakat yang sudah telanjur membeli tiket akan menerima pengembalian dana. Pria berusia 61 tahun itu menuturkan, dia sempat khawatir dengan mekanisme pelaksanaan Olimpiade di tengah Covid-19. "Tapi ketika saya mendengar bahwa mereka memutuskan tak boleh ada penonton, untuk pertama kalinya saya marah," kata dia.

Kekecewaan juga disuarakan oleh Kazunori Takashima, yang sudah menghabiskan banyak uang untuk mengamankan tempat duduknya. Dia mengaku sudah menggelontorkan 40.000 dolar AS (Rp 579,6 juta) untuk memenuhi impiannya memecahkan rekor dunia menghadiri banyak pertandingan Olimpiade. Pemilik sebuah kantor real estate di Tokyo itu mengaku sudah menabung bertahun-tahun demi impiannya tersebut.

IOC menyesal

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach menyatakan bahwa para atlet akan ditonton oleh miliaran orang di seluruh dunia melalui siaran langsung. Sebelumnya, pada Kamis (7/7/201), Menteri Olimpiade Jepang Tamayo Marukawa mengumumkan bahwa keputusan tanpa penonton tersebut diambil karena Tokyo tengah dalam kondisi darurat Covid-19.

"Ini benar-benar sulit dan kami semua menyesali konsekuensinya baik kepada para atlet juga bagi para penonton," kata Bach sebagaimana dilansir Reuters. "Tapi ini adalah keputusan yang dibutuhkan untuk memastikan Olimpiade yang aman. Saya harap kita semua sepakat bahwa yang terpenting adalah Olimpiade bisa berlangsung,” sambung Bach.

Tanpa adanya penonton, kini Jepang kehilangan harapannya untuk melihat gelaran Olimpiade yang megah sekaligus ditonton banyak orang. Padahal, Pemerintah Jepang dan penyelenggara ingin menjadikan acara tersebut sebagai kesempatan menunjukkan pemulihan negara dari gempa bumi dahsyat 2011 dan krisis nuklir.

Dengan tidak adanya penonton, penyelenggara juga akan merugi karena kehilangan potensi pendapatan dari tiket senilai ratusan juta dolar. "Ini akan berada dalam situasi yang sangat berbeda tetapi Anda tidak perlu merasa sendirian di stadion ini," tutur Bach. "Milyaran orang di seluruh dunia akan terpaku pada layar mereka. Saya harap Anda dapat merasakan dukungan ini," imbuh Bach.

IOC mengatakan, Olimpiade Tokyo akan disiarkan secara global dan berpotensi besar akan ditontong oleh lebih dari 5 miliar pasang mata. "Kami dapat menantikan Olimpiade yang hebat dalam situasi yang sangat istimewa," tutur Bach. "Tokyo sudah siap, venue-nya luar biasa. Para atlet akhirnya bisa datang dan berkonsentrasi pada tujuan Olimpiade, dan ini adalah kompetisi Olimpiade,” tambah Bach. Sebelum akhirnya digelar tahun ini, Olimpiade Tokyo sempat ditunda penyelenggarannya tahun lalu. (kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved