Breaking News:

Euforia Italia, Juarai Euro Setelah 58 Tahun

ITALIA tampil sebagai juara Euro 2020 setelah membuyarkan impian Inggris, 3-2 (1-1) melalui adu penalti dalam babak final di Stadion Wembley

Editor: bakri
AFP/MICHAEL REGAN
Pemain Italia bersama pelatih Roberto Mancini melakukan selebrasi usai tampil sebagai juara Euro 2020. Gelar itu menjadi milik Azzuri setelah mengalahkan Inggris, 3-2 (1-1) melalui adu tendangan penalti, dalam babak final di Stadion Wembley, London, pada Senin (12/7/2021) dini hari WIB. 

* Inggris Belum Bisa Akhiri Kutukan Penalti

ITALIA tampil sebagai juara Euro 2020 setelah membuyarkan impian Inggris, 3-2 (1-1) melalui adu penalti dalam babak final di Stadion Wembley, London, pada Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Ini merupakan gelar kedua bagi Azzurri di ajang Piala Eropa setelah trofi pertama mereka raih pada 1968 silam atau 58 tahun lalu.

Euforia skuat Italia di Wembley terasa sangat mengecewakan kubu The Three Lions. Sebab, selain memupuskan ambisi mereka untuk meraih trofi perdana Euro di depan publiknya sendiri, hasil minor itu juga membuat anak asuh Gareth Southgate gagal untuk mengakhiri kutukan penalti bagi timnya di berbagai ajang besar yang sudah mereka ikuti. Inggris memang kerap kali mendapat nasib apes kala melakoni adu ‘tendangan 12 pas’ untuk menentukan pemenang pertandingan.

Sesi ‘tos-tosan’ itu harus dijalani oleh kedua tim setelah dalam waktu normal 2x45 menit, mereka hanya mampu bermain imbang 1-1. Tim Tiga Singa unggul lebih dulu setelah Luke Shaw mencetak gol kilat dengan memanfaatkan umpan Kieran Trippier pada menit kedua. Sayangnya, keunggulan pasukan tuan rumah harus sirna setelah Leonardo Bonucci mencetak gol penyama kedudukan pada menit 67.

Gol pemain Juventus tersebut memaksa Inggris untuk bermain lebih lama lagi lewat perpanjangan waktu. Karena dalam extra time 2x15 menit tak ada gol tambahan yang tercipta, maka penentuan pemenang partai puncak itu sekaligus juara event tersebut harus ditentukan melalui adu tendangan penalti.

Dalam sesi ini, Azzurri lebih beruntung setelah Gianluigi Donnarumma kembali tampil impresif di bawah mistar gawang mereka. Kegagalan Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka mengeksekusi tendangan penalti membuat Italia unggul 3-2. Sebab, Italia hanya gagal menggetarkan gawang Inggris lewat sepakan Andrea Belloti dan Jorginho.

Hasil tersebut membuat Italia berhak menyegel gelar juara kedua dalam sejarah Euro. Kemenangan itu juga menjadikan Italia makin jago dalam adu penalti sejak abad 21. Sejak tahun 2000, Italia memenangkan enam dari sembilan adu penalti yang sudah mereka jalani.

“It’s coming to Rome. It’s coming to Rome, (Itu akan datang ke Roma. Itu akan datang ke Roma)," teriak bek Italia, Leonardo Bonucci, sebagai plesetan dari jargon timnas Inggris di Euro 2020, “it’s coming home” (pulang ke rumah)".

Saat Saka dan Sancho menangis, Donnarumma dikerumuni rekan satu timnya untuk berselebrasi merayakan gelar juara Piala Eropa. Para pemain Italia yang gembira menuju ke ujung lain lapangan dan berlari sebagai satu kesatuan, menjatuhkan diri bersama-sama di depan para penggemarnya yang sudah menyaksikan kelahiran kembali tim nasional mereka.

Italia sudah bangkit. Kurang dari empat tahun lalu, Italia jatuh ke momen terendah dalam sejarah sepak bola dengan gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Itu adalah pengalaman pertama mereka dalam enam dekade. Sekarang, Azzurri adalah tim terbaik di Eropa dan mereka berada dalam rekor nasional 34 pertandingan tak terkalahkan di bawah asuhan Roberto Mancini.

Mancini bergabung dengan pemainnya di podium saat kapten Italia Giorgio Chiellini mengangkat trofi Henri Delaunay dengan latar belakang kembang api. “Tidak mungkin untuk hanya mempertimbangkan ini pada satu tahap. Tapi, orang-orang itu luar biasa. Saya tidak punya kata-kata untuk mereka,” kata Mancini.

Bagi Inggris, ini adalah kekalahan lanjutan dalam duel adu penalti di turnamen besar. Sebelumnya, mereka juga kalah pada 1990, 1996, 1998, 2004, 2006 dan 2012. Mereka mengakhiri kekalahan beruntun itu dengan mengalahkan Kolombia melalui adu penalti di babak 16 besar Piala Dunia 2018. Tapi, rasa sakit kalah adu penalti kini terasa kembali di kubu Inggris.

“Anak-anak tidak bisa memberi lebih. Penalti adalah perasaan terburuk di dunia ketika Kita kalah. Ini adalah turnamen yang fantastis--kami harus bangga, mengangkat kepala kami tinggi-tinggi. Ini akan sakit sekarang, itu akan sakit untuk sementara waktu," kata kapten, Inggris Harry Kane.

Kebahagiaan Italia bertambah lagi setelah Donnarumma dinobatkan sebagai pemain terbaik pada kejuaraan tersebut. Apalagi, ia menjadi penjaga gawang pertama yang mendapat kehormatan itu. Sementara penyerang sekaligus kapten timnas Portugal, Cristiano Ronaldo, tampil sebagai topskor dengan torehan lima gol.

Catatan lima gol Ronaldo sejatinya sama dengan koleksi gol ujung tombak Republik Ceko, Patrik Schick. Namun, ia berhak atas Sepatu Emas karena punya catatan assist lebih banyak dari Schick. Berdasarkan regulasi Euro 2020, apabila terdapat pemain yang memiliki jumlah gol serupa, maka assist akan menjadi parameter lain untuk menghitung pemenang top skor. Kemudian, jumlah menit bermain yang paling sedikit akan menjadi penentu jika gol dan assist juga identik. Sedangkan Pedri (Spanyol) terpilih sebagai pemain muda terbaik. (tribun network/mba)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved