Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kiprah dan Heroisme TA Sakti bagi Kebudaayaan Aceh

Jika ditinjau dari kacamata historis, pada abad ke-17 Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu dari lima kesultanan Islam terbesar di dunia

Editor: bakri
Kiprah dan Heroisme TA Sakti bagi Kebudaayaan Aceh
FOR SERAMBINEWS.COM
TEUKU MUHAMMAD  ICHSAN, peminat sejarah Aceh dan penulis buku “Memori Kolektif Aceh”, melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh

OLEH TEUKU MUHAMMAD  ICHSAN, peminat sejarah Aceh dan penulis buku “Memori Kolektif Aceh”, melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh

Jika ditinjau dari kacamata historis, pada abad ke-17 Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu dari lima kesultanan Islam terbesar di dunia. Maka, sudah barang tentu dengan ketinggian peradabannya, Aceh telah berhasil melahirkan para ilmuwan dan pemikir tersohor pada setiap eranya.

Sampai saat ini karya para ilmuwan Aceh masih menjadi barang yang lezat untuk dikaji dan diteliti di sebagian besar belahan dunia, khususnya di Asia Tenggara (Dunia Melayu).

Hal di atas seperti yang diutarakan oleh Syed Muhammad Naguib Al-Attas (2016: 47), mengenai para ilmuwan dan pemikir Aceh.

Saya majukan Hamzah Fansuri, yang menulis pada abad ke-16, sebagai pelopor aliran baru ini. Beliaulah manusia yang pertama menggunakan bahasa Melayu dengan secara rasional dan sistematis; yang dengan inteleknya merangkum keindahan pikiran murni yang dikandungnya dalam bahasa yang telah diperolehkan sehingga sanggup berdaya menyusul lintasan alam pikiran, yang berani menempuh saujana lautan falsafah.

“Seyogialah Hamzah Fansuri diberi tempat utama dalam pemikiran persejarahan bahasa dan kesusasteraan Melayu Modern… Semua penulis, ulama, dan ahli pikir Melayu yang terkemuka selepas beliau telah meniru dan menganut gaya dan teladannya terhadap penggunaan bahasa Melayu – Shamsu’l Din Pasai hingga ke Abdurrauf Singkel pada abad ke-17.”

Uraian dari Syed Naguib di atas hanyalah salah satu dari beberapa amatan sarjana lainnya yang juga pernah mengkaji dan meneliti eksistensi para ilmuwan dan pemikir Aceh melalui karya-karya mereka.

Melihat bahwa perkembangan tradisi intelektual di Aceh masih berkembang pesat sampai dengan kurun abad ke-20, dengan tokoh-tokohnya: Syekh Abbas Kuta Karang dengan salah satu karyanya Kitab Al-Rahmah Fi Al-Tibb Wa’l Himah (tentang Teori Penyakit dan Tindakan Medis dari Zaman Yunani Kuno sampai Kesultanan Aceh Darussalam), Teungku Chik Muhammad Hasan Krueng Kalee dengan Siraju’s-Salikin’ala Minhaji’l-abidin (tentang syarah Minhaju’l ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali), kemudian Teungku Syeikh di Seumatang Geudong dengan Akhbarul Karim (tentang  Imu Ushuluddin dan Fiqah) dan masih banyak lainnya. Paling tidak ini menjadi suatu pembuktian eksistensi dari para sarjana Aceh.

Dalam dimensi waktu kontemporer, jika ditelisik, maka eksistensi daripada para pemikir tersebut tidak sepenuhnya raib ditelan zaman. Tradisi intelektual keacehan setidaknya masih menghiasi beberapa pemikir di Aceh, walaupun sedikit yang mau menisbatkan diri untuk kepentingan dunia keiintelektualan keacehan dewasa ini. Seperti halnya Drs Teuku Abdullah Sulaiman SH MA atau yang lebih dikenal dengan nama pena TA Sakti. Sosok yang dilahirkan di Pidie, Kecamatan Sakti, tepatnya di Gampong Bucue, pada tanggal 13 September 1954. Ia salah satu cendekiawan masa kini yang cukup berpengaruh dan boleh dikatakan sangat serius meminati serta menggiati kerja-kerja perihal kebudayaan Aceh, khususnya bidang kesusastraan Aceh.

Kiprah TA Sakti dalam menggeluti dunia sastra Aceh tidak dapat dipandang sebelah mata. Telah terlalu banyak kontribusi serta pembuktian dari wujud kecintaannya terhadap bidang yang ia geluti ini. Tidak hanya sekadar mempelajari, lebih dari itu ia juga mengumpulkan, merawat, dan melestarikannya dari kepunahan. Semata-mata upaya ini adalah wujud dari kegelisahan TA Sakti akan nasib dari warisan intelektual dari leluhur Aceh yang agaknya sedikit demi sedikit terus digerus oleh zaman. Maka oleh sebab itu, dengan segala semangat yang berapi-api, TA Sakti bersedia mewakafkan separuh hidupnya untuk kerja-kerja dunia kesusasteraan Aceh, mencakup penulisan buku, hikayat Aceh (baik karyanya maupun hasil alih aksara), nazam Aceh, tambeh, dan banyak lainnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved