Breaking News:

Opini

Meramu Formula “KEKAL”

Selasa, 22 Juni 2021 di ruang “Teuku Umar” salah satu meeting room sebuah hotel di Kota Lhokseumawe, Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe

Editor: bakri
Meramu Formula “KEKAL”
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. H. Mohd. Heikal, SE., MM, Ketua Program Studi Manajemen dan Pengampu MK Manajemen Strategik pada Magister Sains Manajemen FEB Universitas Malikussaleh

Oleh Dr. H. Mohd. Heikal, SE., MM, Ketua Program Studi Manajemen dan Pengampu MK Manajemen Strategik pada Magister Sains Manajemen FEB Universitas Malikussaleh

Selasa, 22 Juni 2021 di ruang “Teuku Umar” salah satu meeting room sebuah hotel di Kota Lhokseumawe, Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kota Lhokseumawe melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik “Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Pengembangan KEK Arun Lhokseumawe”, melibatkan semua stakeholders dari Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe (KEKAL) mulai dari PT. PEMA, PT. PATNA, LMAN, dan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh hingga seluruh anggota konsorsium yang terdiri dari beberapa BUMN “diamanahkan” terlibat dalam KEKAL.

FGD yang dimoderatori oleh Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe Yukon Afrinaldo ini menjadi titik balik dari keberadaan KEKAL yang seperti mati suri ini. Kawasan yang diproyeksikan akan menarik investasi sebesar USD 3,8 dimana kalau dihitung dengan kurs saat ini maka angka tersebut berkisar sekitar 53,2 triliun dalam rupiah, angka yang fantastis. Belum lagi proyeksi tenaga kerja yang diserap diperkirakan sebanyak 40.000 orang dan angka ini akan terus bertambah seiring dengan volume aktivitas di kawasan tersebut yang meningkat secara signifikan, dan bila diasumsikan mampu menurunkan sekitar 23 persen dari total angka pengangguran Aceh saat ini.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) secara modern muncul pada tahun 1950-an (wikipedia), yang merupakan kebijakan penting bagi arah perkembangan ekonomi dan menjadi kunci pendorong untuk menarik modal dan investasi. Begitu juga halnya dengan KEKAL dimana kehadirannya secara potensial merupakan lokomotif baru ekonomi khususnya bagi Lhokseumawe dan Aceh Utara pascamigas. Ada beberapa alas an mengapa kawasan ini harusnya menjadi primadona investasi dan kawasan yang sangat cepat berkembang sebagai sebuah special economic zone.

Pertama, bila merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 2017 tentang penetapan kawasan ini adalah, KEKAL tidak hanya sebagai kawasan yang memiliki luas 2.622,48 hektar adalah yang paling luas dibanding dengan KEK lainnya di Indonesia.  Juga di dalam kawasan ini sudah tersedia beberapa infrastruktur pendukung yang merupakan peninggalan dari proyek vital nasional dan kawasan dengan konsep masterplannya sudah disiapkan oleh konsultan global yang berkedudukan di London.

UK ini juga memiliki zona paling lengkap (zona pengolahan ekspor, zona logistic, zona industri, zona energi, dan zona pariwisata) yang diberikan, namun apalah daya, hingga saat ini telah lebih empat tahun sejak diundangkan, KEKAL bak kata pepatah “Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau”.

Sesungguhnya KEKAL memiliki kekuatan karena secara geografis berada pada posisi Sea Line of Communication (SLoC), yang menurut (Klein,2007) adalah sebagai rute dari kegiatan maritim yang merupakan bagian dari aktivitas pelabuhan-pelabuhan bagi kegiatan perdagangan, pengiriman logistic dan angkatan laut, dan secara geopolitik sangat strategis karena banyak negara bergantung hajat hidupnya dari jalur strategis ini. Salah satunya sebagai jalur energi (minyak dan gas).

Sebagaimana Radigan Carter dalam tulisannya berjudul; Mahan, The Strait of Malacca and a Fistful of Dollars (13/02/2021) menjelaskan tentang Selat Malaka dalam konteks SLoC adalah merupakan salah satu real estate yang paling penting di muka bumi, sebagai selat yang menentukan arah perekonomian bagi hampir setengah populasi dunia dengan adanya pengangkutan minyak dari Timur Tengah ke Asia melalui jalur ini, dan jelas terlihat ke depannya Selat Malaka adalah properti paling penting bagi kehidupan modern bangsa Asia.

Bahkan geostrategist Alfred T. Mahan mengatakan, Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur dari 2 rute SLoC adalah bagian bargaining power yang kuat bagi Indonesia dalam pengendalian lalu lintas lautan yang kemudian disebut sebagai sea power, dan secara empiris KEK di banyak negara di dunia ini sukses menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kawasan. Lalu dimana “benang kusutnya” sehingga sampai saat ini KEKAL belum menggeliat, padahal salah satu peluang emas bahwa sampai tahun 2030 kawasan Asia masih menjadi destinasi investasi utama pengusaha asal Amerika dan Eropa.

Apa formulanya

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved