Internasional

Presiden Kuba Tuduh AS Sebagai Dalang Pecahnya Demonstrasi, Minta Rakyat Tidak Sebar Kebencian

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel menuduh Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan media sosial sebagai pemicu pecahnya Demonstrasi besar-besaran.

Editor: M Nur Pakar
Anadolu Agency
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel 

SERAMBINEWS.COM, HAVANA - Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel menuduh Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan media sosial sebagai pemicu pecahnya Demonstrasi besar-besaran.

Dia mengakui kekurangan dalam penanganan kekurangan bahan pokok dan pengabaian sektor-sektor tertentu.

Tetapi dia mendesak rakyat Kuba untuk tidak bertindak dengan kebencian, mengacu pada kekerasan selama protes jalanan baru-baru ini.

Hingga saat ini, pemerintah Kuba hanya menyalahkan media sosial dan pemerintah AS atas protes akhir pekan.

Merupakan yang terbesar terlihat di Kuba sejak seperempat abad yang lalu, ketika Presiden Fidel Castro secara pribadi turun ke jalan.

Untuk menenangkan ribuan orang yang marah. atas kekurangan yang mengerikan setelah runtuhnya Uni Soviet dan subsidi ekonomi untuk pulau itu.

Baca juga: AS dan PBB Prihatinkan Demonstrasi di Palestina, Kekerasan Meletus

Dalam pidato malam hari di televisi pemerintah, Díaz-Canel untuk pertama kalinya mengkritik diri sendiri.

Dia mengakui kegagalan negara berperan dalam protes atas kekurangan pangan, kenaikan harga dan keluhan lainnya.

“Kami harus mendapatkan pengalaman dari gangguan tersebut," katanya.

"Kami juga harus melakukan analisis kritis terhadap masalah kami untuk bertindak dan mengatasi, dan menghindari pengulangan mereka," tambahnya.

Dalam protes tersebut, banyak warga Kuba menyatakan kemarahannya atas antrean panjang dan kekurangan makanan dan obat-obatan, serta pemadaman listrik berulang kali.

Beberapa menuntut kecepatan vaksinasi yang lebih cepat terhadap virus Corona.

Tetapi ada juga seruan untuk perubahan politik di negara yang diperintah oleh Partai Komunis selama sekitar enam dekade.

Baca juga: Pemuda Palestina Demonstrasi, Bentokan Pecah, Tentara Israel Tembak Mati Remaja 15 Tahun

Polisi bergerak masuk dan menangkap puluhan pengunjuk rasa, terkadang dengan kekerasan, dan pemerintah menuduh pengunjuk rasa menjarah dan merusak toko.

Protes yang lebih kecil berlanjut Senin (12/7/2021) dan para pejabat melaporkan setidaknya satu kematian.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved