Breaking News:

Pedagang di Ambang Bangkrut

Setahun lebih pandemi Covid-19 melanda Tanah Air termasuk Kota Lhokseumawe berdampak pada ekonomi masyarakat

Editor: bakri
SERAMBI/SAIFUL BAHRI
Menjelang lebaran Idul Adha, kondisi Pasar Los Kota Lhokseumawe sepi pembeli. Foto direkam Jumat (16/7/2021). 

LHOKSEUMAWE - Setahun lebih pandemi Covid-19 melanda Tanah Air termasuk Kota Lhokseumawe berdampak pada ekonomi masyarakat. Teranyar, para pedagang pakaian di Pasar Los Kota Lhokseumawe dilaporkan banyak yang sudah gulung tikar.

Di sisi lain, bagi mereka yang masih bertahan atau tetap ingin berjualan, kondisinya juga di ambang bangkrut. Pembeli sepi setiap harinya termasuk menjelang lebaran Idul Adha seperti sekarang ini. Omzet penjualan para pedagang pakaian ataupun sepatu sangatlah rendah. Situasi jauh berbeda dari saat kondisi normal.

Penjual pakaian di Toko Syaira Los Lhokseumawe, Zakir kepada Serambi, Jumat (16/7), menyebutkan, saat kondisi normal dulunya, bila menjelang Idul Adha, omzet penjualannya meningkat. "Sehari omzet penjualan bisa sampai Rp 5 juta. Bahkan, kadang-kadang bisa lebih," katanya.

Namun, dengan kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini, omzet penjualan dirinya maupun pedagang lainnya menurun drastis. Begitu juga dengan kondisi menjelang lebaran Idul Adha sekarang ini, jumlah penjualan sangat minim.

"Padahal, ini dekat mau lebaran. Tapi, penjualan kami tiap harinya hanya sekitar Rp 200 sampai 300 ribu. Bahkan, untuk hari ini saja, belum ada penjualan satu pun barang," keluh Zakir, Jumat sore kemarin.

Dipastikan, bila kondisi ini terus berlarut, bukan tidak mungkin dirinya akan menutup toko. Keputusan itu sama seperti sejumlah pedagang pakaian lainnya yang sudah duluan gulung tikar atau bangkrut. Kondisi yang sama juga diutarakan Fazil, seorang pedagang sepatu di Pasar Los Kota Lhokseumawe.

Dia menyebutkan, dulunya saat kondisi normal, bila menjelang Lebaran Idul Adha, omzet penjualannya meningkat tajam. Setiap harinya rata-rata di atas Rp 1 juta.

Sedangkan sekarang ini, ungkap Fazil, kondisi sangat sepi. Omzetnya menurun drastis. "Bahkan, ada yang tidak laku satu pun dalam sehari. Akibat kondisi ini, banyak pedagang di Los yang memilih menutup toko. Sepi pembeli," pungkasnya.

Bukan hanya menjelang lebaran Idul Adha, kondisi seperti ini juga terjadi saat menyambut tahun ajaran baru. Menurut pengakuan pedagang, biasanya kalau tahun ajaran baru, orang tua di Lhokseumawe berlomba untuk membeli seragam baru bagi anak-anaknya.

Ternyata, meski ajaran baru, orang tua juga tidak membeli seragam baru bagi anaknya. “Boleh jadi, karena situasi pandemi, orang tua lebih memetingkan untuk persiapan sehari-hari. Mau tau mau, kondisi kami semakin payah,” keluh sejumlah pedagang.

Pantauan Seranbi di Pasar Los Lhokseumawe,  sejumlah toko dalam kondisi tertutup. Banyak pintu sudah tergembok. Bahkan ada di beberapa pintu tertempel pengumuman kalau toko tersebut disewakan kembali.

Di samping itu, ada juga beberapa toko yang tetap buka. Namun para penjual terlihat hanya nongkrong di depan toko, karena tidak ada pembeli sama sekali. Padahal, sekarang ini menjelang Lebaran Idul Adha.

“Saat ini, daya beli masyarakat sangatlah berkurang. Kini, pedagang tidak sanggup lagi bertahan. Karena, pengeluaran untuk sewa toko tidak sesuai dengan pemasukan. Tak ada pilihan lain, pedagang banyak yang sudah bangkrut,” katanya.(bah)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved