Breaking News:

Salam

Rekrut 2.000 Dokter Baru, Ini Warning Bagi Pemerintah

Pemerintah berjanji merekrut 2.000 dokter baru lulus untuk bantu menangani pandemi Covid‑19 yang semakin mencemaskan hari-hari ini

Editor: bakri
Dokumentasi Humas Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
Luhut Binsar Pandjaitan 

Pemerintah berjanji merekrut 2.000 dokter baru lulus untuk bantu menangani pandemi Covid‑19 yang semakin mencemaskan hari-hari ini. Namun, Ikatan Dokter Indonesia dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) mengingatkan pemerintah supaya sudah memikirkan kebutuhan atau hak-hak para dokter dan nakes itu nantinya.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan pemerintah telah melakukan rekrutmen tenaga kesehatan (nakes) sebanyak 2.000 lulusan dokter. Penambahan nakes seperti dokter maupun perawat itu umumnya mahasiswa kedokteran dan perawat yang sudah dalam tahap akhir pendidikan. “Kami mobilisasi perawat ada 20.000 lebih yang segera di‑deploy dan mereka di‑training dulu. Beberapa hari kemudian dipekerjakan.”

Terkait urusan administrasi seperti tempat istirahat nakes sudah disiapkan pemerintah. Para lulusan dokter itu nantinya akan diberikan suntikan booster ketiga dengan menggunakan jenis vaksin Moderna.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta Slamet Budiarto menyatakan, tenaga kesehatan di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta sudah sangat lelah karena membludaknya jumlah pasien Covid‑19 di seluruh fasilitas kesehatan. "Karena pasiennya sangat banyak, overload, ya kecapean."

Selain kelelahan, banyak dokter dan tenaga kesehatan ikut terinfeksi Covid‑19. Ironisnya, mereka yang terpapar Covid‑19 justru tidak mendapat tempat perawatan yang layak sehingga berisiko fatal. Sopir ambulans juga lelah dan dihantui ketakutan.  Maka, tak heran dalam sepekan terakhir banyak tenaga kesehatan gugur karena infeksi penyakit ini. Salah satu penyebabnya adalah tidak mendapatkan perawatan yang memadai setelah terkonfirmasi positif Covid‑19 dan bergejala berat.

Data IDI per 12 Juli 2021, angka kematian dokter di Indonesia sangat tinggi. Di Jawa Timur saja ada 102 dokter yang meninggal karena terinfeksi Covid saat bertugas. Lalu, di Jakarta ada 76 orang dokter juga meninggal karena terpapar virus Corona. Untuk seluruh Indonesia jumlah dokter yang meninggal diperkirakan sudah mencapai lebih 700 orang.

Terkait rencana rekruitmen dokter dan tenaga kesehatan baru, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengatakan kebijakan itu bukan program khusus untuk mengatasi kedaruratan pandemi saat ini karena memang sudah otomatis demikian. Ari justru menilai bahwa pemerintah selama ini lelet menyerap ribuan dokter baru lulus. Ia memberi contoh, ada sekitar 5.000 dokter baru yang telah lulus Februari 2021 lalu dan diangkat sumpah pada April 2021, namun belum kunjung diserap. Menurut Ari, di Indonesia setiap melahirkan sekitar 10.000 dokter baru.

Ari juga mempertanyakan kesiapan pemerintah mempekerjakan dokter dan perawat baru. “Silakan saja pemerintah segera. Kalau mau cepat ya harus ada duitnya kan untuk itu. Jadi, tergantung kesiapan pemerintah mau cepat atau enggak. Insentif dokter intership kemarin baru keluar duitnya, terlambat 9 bulan. Relawan juga ada yang masih belum dibayar pemerintah," ujarnya.

Oleh sebab itulah organisasi profesi dokter dan tenaga kesehatan mengingatkan pemerintah supaya jangan sampai mengabaikan hak kesejahteraan para dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang saban hari mempertaruhkan nyawa di bangsal Covid‑19. Lonjakan kasus Covid sebulan terakhir juga  membuat angka kematian tenaga kesehatan di Indonesia kembali meningkat.

Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Eva Sri Diana Chaniago mengungkapkan, sejumlah tenaga kesehatan mengundurkan diri di tengah lonjakan kasus Covid‑19. Mereka mundur karena beban kerja dirasa berat dan insentif penanganan pandemi yang dijanjikan pemerintah belum cair. "Gaji yang diterima mereka dari rumah sakit sekarang ini kan tidak sesuai dengan beban kerjanya. Sementara insentif dari pemerintah terlambat cair. Ya mereka akhirnya lebih memilih mundur. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved