Breaking News:

Jurnalisme Warga

Saat Iduladha Dirayakan Secara Sederhana

Malam menjelang Iduladha, suara takbir hanya terdengar di sebagian tempat saja. Tak ada tradisi menabuh beduk dan takbir berkeliling kampung

Editor: bakri
Saat Iduladha Dirayakan Secara Sederhana
IST
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen FE Universitas Almuslim (Umuslim), dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen FE Universitas Almuslim (Umuslim), dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

Perayaan  Hari Raya Iduladha 1442 Hijiah atau Hari Raya Kurban tahun ini berbeda sangat dengan beberapa tahun lalu. Malam menjelang Iduladha, suara takbir hanya terdengar di sebagian  tempat saja. Tak ada tradisi menabuh beduk dan takbir berkeliling kampung dengan berbagai kendaraan. Takbir keliling ini bahkan sampai ke perbatasan Kabupaten Bireuen ujung timur dan barat. Suasana meriah Lebaran sepertinya tinggal kenangan.

Malam pun terasa sunyi dan sepi, alam seakan ikut merasakan kesedihan perayaan Iduladha di masa pandemi tahun kedua.

Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Aceh, sebelum pandemi Covid-19 perayaan Hari Raya Kurban di Kabupaten Bireuen lebih meriah. Seluruh masyarakat bersuka cita. Banyak orang yang berkemampuan secara ekonomi dan sunat berkurban melaksanakannya, baik secara pribadi maupun bersama-sama.

Ada warga yang secara khusus mengumpulkan dana setiap bulan sebagai tabungan selama satu tahun untuk berkurban. Cara ini dikenal juga dengan istilah arisan kurban. Biasanya dikelola pengurus masjid atau majelis taklim.

Tradisi ‘mak meugang’, baik Iduladha maupun Idulfitri tak dapat dilepaskan dari masyarakat, terutama di Aceh karena sudah dilaksanakan secara turun-temurun dari orang tua zaman dulu. Bahkan ada dua hari ‘meugang’, pertama disebut ‘meugang ubit’ (kecil) dan kedua ‘meugang rayeuk’ (besar). Tradisi ini bagi masyarakat Aceh merupakan hal yang istimewa, walaupun tidak ada uang untuk yang lain, tetapi untuk membeli daging sapi, kerbau, atau kambing harus tetap diupayakan demi anggota keluarga, terutama anak-anak.

Pemandangan yang berbeda pada saat saya berbelanja pada hari meugang besar Iduladha di Matangglumpang Dua, pedagang yang menjual daging tak terlalu dikerumuni oleh pembeli, bahkan ketika hampir sore. Dulu sebelum pandemi, setiap hari ‘meugang’ yang namanya tauke lembu menyembelih lebih dari satu ekor lembu. Sekarang, paling banyak satu ekor.

Harga pasaran daging sapi saat ini antara Rp170.000-Rp180.000 per kilogram. Harga ini terkadang juga dipengaruhi oleh cuaca. Kalau mendung atau hujan, harga daging lebih murah.

Di Matangglumpang Dua, posisi meja para penjual daging kalau dari arah timur berada di sebelah kanan, sedangkan  para penjual ikan, bumbu, sayur dan rempah-rempah berada di sebelah kiri. Pada saat saya berada di lokasi (pasar), justru masyarakat lebih banyak yang membeli ikan, bahkan terkadang mengganggu lalu lintas jalan nasional Banda Aceh-Medan.

Para penjual daging ayam potong atau ayam kampung masih banyak yang berada di pasar baru di belakang Terminal Bus Matangglumpang Dua.

Menurut Maimun, seorang pedagang, permintaan ayam potong dan ayam kampung juga tidak terlalu banyak, berbeda dengan tahun yang lalu, harganya antara Rp50.000 sampai dengan Rp60.000/ ekor. “Pandemi ini benar-benar memengaruhi pendapatan kami. Padahal, kami telah menyediakan stok ayam lebih banyak daripada hari-hari biasa,” ujarnya.

Selain itu, toko-toko yang menjual kue juga tak banyak diserbu para pembeli, terutama ibu-ibu dan remaja. Apalagi perayaan Iduladha tahun ini menjelang akhir bulan, otomatis persediaan dana sudah menipis, terutama bagi mereka yang punya pendapatan pas-pasan.

Iduladha tahun ini dirayakan dalam suasana yang sederhana, baik di kota maupun di desa. Hampir di setiap rumah hanya menyediakan kue ala kadarnya. Lontong Lebaran juga hanya sebagian kecil yang menyediakannya. Baju baru identik dengan perayaan Lebaran bagi anak-anak, tapi tidak semua orang tua mampu membelinya karena keterbatasan dana, sehingga banyak di antara mereka yang menganjurkan anak-anaknya memakai baju Lebaran Idulfitri yang lalu saja.

Saya pun merasakan hal yang berbeda dalam perayaan Lebaran di Bireuen tahun ini. Di antaranya, perbankan tidak menyediakan jasa penukaran uang baru. Kebiasaan anak-anak kecil yang bertamu selalu mendapatkan uang baru, mereka tidak mempersoalkan jumlahnya yang sedikit, tetapi mereka bahagia dapat uang baru. Untungnya, masih ada sisa dari Idulfitri yang lalu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved