Breaking News:

Salam

Mengerikan, Peredaran Narkoba Masa Pendemi

Sebanyak 12 orang dari 14 terdakwa kasus sabu seberat 350 kilogram (Kg) yang ditemukan dalam kapal tak bertuan di pesisir Jeunieb dan Pandrah

Editor: bakri
SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS
Para terdakwa kasus sabu 350 kilogram yang ditemukan dalam kapal tanpa awak saat dibawa ke halaman pendopo Bireuen menyaksikan pemusnahan barang bukti pada April lalu bersama para tersangka kasus sabu dan ganja lainnya. 

Sebanyak 12 orang dari 14 terdakwa kasus sabu seberat 350 kilogram (Kg) yang ditemukan dalam kapal tak bertuan di pesisir Jeunieb dan Pandrah, Kabupaten Bireuen, pada Januari lalu, mulai disidang. Karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan digelar secara virtual pada Rabu (21/7/2021).

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bireuen dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Bireuen, mengikuti sidang di PN setempat. Sedangkan para terdakwa mengikuti sidang dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Bireuen.

Mereka semuanya didakwa melanggar Undang-Udang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup. Seperti diberitakan sebelumnya, satu boat nelayan tanpa awak berisi sabu-sabu dilaporkan terdampar di dekat mulut kuala kawasan Desa Matang Bangka, Kecamatan Jeunieb, berbatasan dengan Pandrah, Bireuen, pada Rabu (27/1/2021).

Dalam boat ditemukan sejumlah barang bawaan seperti fiber ikan dalam berbagai ukuran. Setelah dibuka, fiber-fiber itu ternyata berisi sabu-sabu yang dikemas dalam kotak-kotak kecil. Sabu temuan itu diamankan ke Polres Bireuen, sedangkan kapal tak bertuan itu ditarik ke daratan sebagai barang bukti. Kemudian, polisi memburu para tersangka.

Hasilnya, sejak Januari sampai Maret 2021, sebanyak 14 tersangka berhasil ditangkap dalam waktu dan tempat terpisah. Dari pengungkapan kasus itu dan beberapa kasus lainnya belakangan ini, mengindikasikan bahwa para pengedar narkoba sangat memanfaatkan siatuasi pandemi. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Petrus Reinhard Golose menyatakan, peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang meningkat selama pandemi Covid-19.

Tren tersebut ditandai dengan dengan meningkatnya jumlah barang bukti yang berhasil diperoleh dalam rangka upaya penegakan hukum. "Sebagai contoh barang bukti sabu atau metapethamin yang diperoleh hanya dalam tiga bulan terakhir ini Maret 2021 seberat 808,67 Kg atau 70,19% dibanding kan dengan jumlah barang bukti 2020 sebanyak 1.152,2 Kg.

" Kita harus mengatakan, di tengah masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19 ternyata ada bahaya lain yang juga mengancam kita semua, yakni penyalahgunaan narkoba. Menurut data BNN tahun 2019 pengguna narkoba mencapai 3,6 juta orang, namun angka prevalensi penyalahgunaan narkoba ini justru menurun sebesar 0,6% yang berarti sampai dengan tahun 2019 sebanyak 1 juta orang tidak lagi melakukan penyalahgunaan terhadap narkoba.

Namun masa pandemi yang melanda negeri ini sejak Maret tahun lalu telah membuka peluang meningkatnya kembali kasus narkoba. Seperti kita katakan tadi, para pelaku pengedar narkoba benar-benar memanfaatkan situasi pandemi Corona ini. Bahkan, pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat selama pandemi Covid- 19 ternyata tidak mengurangi peredaran narkotika, yang terjadi justru malah sebaliknya, bisnis narkotika dan obat-obatan terlarang ‘tumbuh subur’ di tengah pandemi.

Himpitan ekonomi yang semakin terasa membuat sebagian orang mencari cara yang instan untuk mendapatkan keuntungan besar tanpa peduli dengan risiko besar yang akan dihadapi. Upaya pemerintah dalam mengatasi maraknya peredaran narkoba di tengah wabah pandemi covid-19 memilik tantangan tersendiri. Peredaran narkoba yang sebelumnya dilakukan secara nyata di tempat-tempat hiburan misalnya kini telah menyasar dari rumah ke rumah.

Peredarannya pun diprediksi banyak melalui dunia maya, karenanya perlu pengawasan yang lebih ketat. Bila melihat dari trennya, dapat dilihat bahwa dalam situasi pandemin, tetapi gejalanya peredaran masih tinggi di masyarakat. "Mungkin karena work from home banyak juga drug abuse from home," kata pejabat BNN. Agar ada efek jera, publik selalu berharap kepada para hakim di pengadilan negeri, pengadilan tinggi, hingga ke hakim agung supaya menghukum seberat- beratnya para para pelaku narkoba.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved