Breaking News:

Opini

Perlindungan Terhadap Anak, Darimana Memulainya?

Anak merupakan anugerah Allah yang dalam Alquran disebut sebagai perhiasan sekaligus kegembiraan hidup serta sumber kebanggaan

Editor: bakri
Perlindungan Terhadap Anak, Darimana Memulainya?
IST
Dr. Agustin Hanafi, Lc., Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry dan Anggota IKA Aceh

Oleh Dr. Agustin Hanafi, Lc., Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry dan Anggota IKA Aceh

Anak merupakan anugerah Allah yang dalam Alquran disebut sebagai perhiasan sekaligus kegembiraan hidup serta sumber kebanggaan. Anak juga harus dilindungi dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, ketidakadilan, kekerasan, penyiksaan atau hukuman yang tidak manusiawi. Bahkan Indonesia menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN) sebagai peringatan dan bentuk kepedulian terhadap perlindungan anak-anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, dan cinta tanah air.

Meskipun peringatan Hari Anak Nasional telah ditetapkan sejak tahun 1986 silam berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 tahun 1984, faktanya hingga hari ini masih banyak ditemukan kasus kekerasan terhadap anak, bahkan di Aceh pada tahun 2020 terdapat 379 kasus, terutama kasus kekerasan seksual  dan kekerasan psikis yang menimpa anak antara umur 0-17 tahun. Mirisnya lagi, mayoritas pelakunya adalah orang terdekat dengan korban seperti paman, ayah tiri bahkan ayah kandung. Nauzubilllah!

Secara akal sehat, tak mungkin orang tua tega menyakiti anaknya, pasalnya orang tua adalah pemberi kasih sayang dan pelindung sejati bagi anak-anaknya. Namun realitanya tidak demikian, banyak anak menjadi korban kebiadaban orang tuanya sendiri.  Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, di antaranya faktor kemajuan teknologi tanpa batas, dimana siapapun dapat mengakses film dewasa dengan sangat mudah,  kemiskinan, kurangnya ruang privasi bersebab hunian yang sempit, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, pendidikan yang rendah, kurang teredukasi tentang pendidikan seksualitas dan menjaga diri dari predator seksual, kurang adanya dukungan masyarakat akan pos-pos pelayanan keluhan dan penyuluhan terkait masalah seksualitas terlebih pada remaja dan lansia.

Maka tidak salah jika kita berasumsi bahwa hari ini hampir tidak ada lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak, di rumah, bahkan di lembaga terhormat sekalipun yang diyakini sebagai benteng terdepan dalam hal perlindungan anak, kenyataannya ada saja anak yang menjadi korban dari oknum yang dihormatinya. Dari kondisi ini, sejatinya kita perlu memikirkan bahwa dalam upaya memberikan perlindungan terhadap anak harus dimulai darimana?

Anak memiliki hak yang harus dipenuhi orang tua, selain memberikan kasih sayang, tempat tinggal, makanan juga pakaian yang layak, anak juga harus dilindungi pisik dan psikisnya. Orang tua perlu membekali diri dengan wawasan tentang ayat suci dan hadis serta pendapat ulama mengenai tanggung jawab dan kewajiban terhadap anak yang begitu besar. Dengan wawasan ini diharapkan orang tua sadar betul akan tugasnya dalam menjaga dan merawat anak sebagaimana isyarat Alquran, surat Al-Baqarah: 33. Bahwa orang tua berkewajiban memberikan nafkah yang baik kepada anak serta penjagaan dan pengawasan dalam keselamatan jasmani dan rohani anak dari segala macam bahaya yang dapat menimpanya. Orang tua juga wajib memberikan pendidikan dan pengajaran bagi anak agar mempunyai keterampilan menjaga dan melindungi dirinya.

Ada banyak kasus pencabulan dan kekerasan anak yang terjadi bersebab kelalaian orang tua, kekurangwaspadaan mereka terhadap orang lain meski itu adalah keluarga dekat atau orang yang sudah lama dikenal, juga karena kurangnya kesadaran akan bahaya ini dan tidak hadirnya para orang tua dalam mengedukasi anak akan pentingnya menjaga diri dan mengenali tanda-tanda orang jahat yang hendak berbuat tidak senonoh kepadanya.

Perlu disampaikan kepada anak bahwa hanya ayah atau ibu saja yang boleh memegang organ intimnya, itu pun hanya dalam kondisi tertentu seperti memandikan atau saat anak sedang sakit dan membutuhkan bantuan. Oleh sebab itu, penting rasanya bagi para orang tua untuk membekali diri atau dibekali pengetahuan tentang pendidikan seksual, sebab untuk memperkuat ketahanan keluarga, segala hal harus dimulai dari internal keluarga.

Diakui bahwa pendidikan seksual di dalam masyarakat kita masih menjadi barang “aneh” yang dipandang tabu dan menyeramkan, apalagi mengaitkan anak-anak di dalamnya, padahal ini adalah dasar pencegahan dari berbagai perilaku kekerasan seksual. Untuk itu, sangat penting mengenalkan dan mengajari anak akan perbedaan jenis kelamin dan organ tubuh yang harus dijaga, artinya orang tualah yang semestinya menjadi sumber informasi utama, bukan anak yang mencari info dari internet atau pun dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Pembekalan pendidikan seks ini dinilai sangat penting, sebab naluri seksual merupakan sunatullah yang kuat dan amat penting bagi kelangsungan eksistensi (keberadaan) umat manusia. Dalam masyarakat yang permissive (serba boleh) pendidikan seks lebih ditekankan pada pencegahan kehamilan dan penyakit menular seksual, namun tidak ada usaha untuk menyadarkan orang-orang tentang akhlak menjaga diri dan orang lain, memandang hasrat seksual itu sebagai hal yang suci, yang Allah titipkan untuk dijaga dan disalurkan kepada tempat yang halal, maka inilah menjadi tugas kita bersama.

Di sisi lain, kasus kekerasan pada anak di Aceh dapat diantisipasi dengan baik, di samping adanya undang-undang nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, Aceh juga memiliki Qanun Jinayah Nomor 6 Tahun 2014 dan juga Qanun Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2008, di mana hukuman bagi siapapun yang melakukan perbuatan keji terhadap anak akan didenda, dipidana, bahkan dicambuk di depan umum untuk memberikan rasa malu dan efek jera.

Namun ternyata sebagian para pelaku tidaklah merasa malu dan jera, maka muncullah usulan dari berbagai pihak agar Qanun tersebut direvisi sesuai kebutuhan di lapangan sebagaimana undang-undang perlindungan terhadap anak yang juga telah mengalami beberapa kali revisi. Beberapa pihak menilai kondisi ini terjadi karena tidak adanya pencegahan secara masif dari pemangku kepentingan, padahal penerapan hukum dalam qanun sangat tegas, tapi cenderung tidak diketahui oleh masyarakat karena minimnya sosialisasi kepada masyarakat.

Peran serta masyarakat, dan lingkungan yang sehat juga sangat dibutuhkan demi perlindungan terhadap anak dapat terwujud. Setiap orang di dalam tatanan pemerintah Gampong perlu membekali dirinya akan pemahaman bahwa anak adalah aset bangsa yang harus diselamatkan, dijaga dan diperlakukan dengan baik. Sebab itu regulasi hukum yang keras dapat dibangun bagi siapa saja yang menyakiti, melecehkan, bahkan berbuat keji pada anak-anak, terlebih karena mereka adalah titipan Allah sang Maha Kuasa, Tuhan pemberi kasih sayang, ampunan juga azab yang sangat pedih bagi setiap manusia yang berbuat dzalim terhadap sesamanya. Aparatur Gampong dapat membuat program-program terkait perlindungan terhadap anak, membangun sarana penyuluhan dan konsultasi tentang pendidikan seksual sehingga dapat mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Melihat kondisi ini, sudah saatnya bagi kita untuk sama-sama menjaga agar tindak kekerasan pada anak tidak terjadi lagi. Dimulai dari keluarga, sekolah, tingkat gampong hingga negara, semua memiliki tanggung jawab yang sama.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved