Breaking News:

Opini

Konspirasi Politik; Meredam Semangat Nasionalisme

Secara umum penulis ingin menjelaskan bahwa setiap kekuasaan yang dibangun lewat persekongkolan politik (konspirasi)

Editor: hasyim
Konspirasi Politik; Meredam Semangat Nasionalisme
IST
DR. MUNAWAR A. DJALIL, MA Pegiat Dakwah, Tinggal di Blang Beringin Gampong Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh.  Dr. Munawar A. Djalil. MA

Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Cot Masjid Banda Aceh

Secara umum penulis ingin menjelaskan bahwa setiap kekuasaan yang dibangun lewat persekongkolan politik (konspirasi) yang keji, konon selalu berkepentingan mengeksploitir sekecil apapun elemen-elemen sosial yang mengandung muatan persitegangan satu dengan yang lain di antara sesama masyarakat bangsa yang dikuasainya.

Dalam rangka kepentingan ini, kekuasaan yang bersangkutan akan mendesain sedemikian rupa pengelompokan-pengelompokan sosial di dalam masyarakat menyerupai pembiakan koloni-koloni dalam satu jaringan pengkomplotan.

Diwarnai intrik-intrik politik yang licik, keji dan tersistimasi; setiap kelompok sosial akan didorong/dimotivasi untuk saling unjuk keberadaan dan saling berkelahi dengan mengibarkan bendera kelompoknya masing-masing di atas dasar semangat primordialisme, kelas sosial. Sentimen “korps” atau “pride” golongan-golongan tertentu.

Tujuan utama rekayasa semacam ini adalah berorientasi mutlak demi melancarkan kekuasaan di samping sebagai instrumentasi rejim bersangkutan guna membebaskan diri dari monitor pelacakan moral pertanggungan jawab setiap tindak perbuatannya. Salah satu ciri khas kekuasaan seperti ini ialah kebiasaannya bertindak menyusun formasi perkomplotan demi perkomplotan yang berbeda satu sama lain dalam setiap periode waktu tertentu.

Artinya perkomplotan awal yang dibangun ketika kekuasaan itu diberdirikan atau sebelumnya akan sangat berbeda dengan kekuasan itu dijalankan/berlangsung. Dan, merupakan hal yang lazim bilamana rejim itu selalu bertindak “memberangus” perkomplotannya yang baru dalam rangka menghilangkan “jejak” asal usul keberadaannya dan seterusnya.

Sebenarnya sangat mudah untuk memahami mengapa rejim kekuasaan semacam ini cenderung pula memaksakan tafsir, paham atau citra tertentu. Misalnya dengan menciptakan simbol-simbol mengenai kekuasaannya, termasuk dalam memosisikan kesejarahan eksistensi dirinya. Walaupun sebetulnya tafsir, paham atau citra tersebut sering terasa dangkal, tidak subtansif, irrasional atau ahistoris. Biasanya dunia pendidikan merupakan laboratorium paling banyak dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasinya.

Bagi kekuasaan (rejim) yang terlahir dari produk politik keji tersebut di atas, ada satu hal penting yang perlu dirisaukan dan sering diwaspadai; karena dianggap potensial sebagai sumber kegelisahan atau bibit malapetaka terhadap pilar-pilar kelestarian kekuasaan.

Yakni terbitnya pencerahan kaum muda yang tumbuh kemudian dan bangkit dengan semangat nasionalisme dan kesadaran baru yang lebih kritis, tajam, jernih dan objektif dalam menilai kehidupan sosial masyarakat bangsanya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved