Breaking News:

Luar Negeri

Lebih 140 Warga Palestina Terluka Ditembak Pasukan Israel dalam Bentrokan di Tepi Barat

Tentara Israel mengatakan bahwa "selama beberapa jam terakhir, kerusuhan terjadi di area pos terdepan Givat Eviatar, selatan Nablus."

Editor: Faisal Zamzami
AFP
Para pemuda Palestina melakukan demonstrasi saat pasukan khusus Israel melakukan operasi penangkapan di Jenin, Tepi Barat, Kamis (10/6/2021). 

SERAMBINEWS.COM - Lebih dari 140 warga Palestina dilaporkan terluka dalam bentrokan dengan pasukan Israel di Beita, Tepi Barat yang diduduki, selama protes terhadap pos pemukiman ilegal Israel, kata petugas medis.

Tentara Israel mengatakan dua tentara juga mengalami "luka ringan" dalam kekerasan pada Jumat (23/7/2021).

Melansir Al Jazeera, ratusan warga Palestina berkumpul di Beita, yang terletak di utara Tepi Barat yang diduduki Israel, untuk memprotes pos terdepan ilegal di dekat Eviatar, kata seorang koresponden AFP.

Di daerah itu telah telah terjadi demonstrasi menentang perluasan pemukiman ilegal di tanah Palestina.

Tentara Israel mengatakan bahwa "selama beberapa jam terakhir, kerusuhan terjadi di area pos terdepan Givat Eviatar, selatan Nablus."

"Ratusan warga Palestina melemparkan batu ke pasukan (tentara) IDF, yang merespons dengan cara membubarkan kerusuhan," katanya dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa dua tentara "yang terluka ringan" dibawa ke rumah sakit.

Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan 146 warga Palestina terluka selama bentrokan, termasuk sembilan oleh tembakan langsung, 34 oleh peluru berlapis karet dan 87 oleh gas air mata.

Baca juga: Remaja Palestina Tewas Ditembak, Lemparan Batu Dibalas Tembakan Senjata

Baca juga: Demi Palestina, Pejudo Algeria Tolak Peluang Lawan Atlet Israel dan Mundur dari Olimpiade Tokyo 2021

Pemukim Yahudi mendirikan pos terdepan Eviatar ilegal pada awal Mei, membangun rumah beton dan gubuk sederhana dalam hitungan minggu.

Pembangunan itu bertentangan dengan hukum internasional dan Israel dan memicu protes sengit dari warga Palestina yang bersikeras bahwa itu dibangun di tanah mereka.

Namun menyusul kesepakatan yang dicapai dengan pemerintahan baru Perdana Menteri Naftali Bennett, para pemukim meninggalkan pos terdepan pada 2 Juli, sementara bangunan yang mereka bangun tetap berada di bawah penjagaan tentara.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved