Breaking News:

Salam

Jangan Abaikan Vaksinasi

Presiden Joko Widodo memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 hingga pekan mendatang dengan memberi kelonggaran

Editor: bakri
SETNEG/Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo memaparkan lanjutan kebijakan PPKM, Minggu (25/7/2021). 

Presiden Joko Widodo memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 hingga pekan mendatang dengan memberi kelonggaran kepada kepada pedagang kaki lima, toko kelontong, hingga usaha‑usaha kecil sejenis. Pelonggaran ini, dilandaskan pada tren perbaikan dalam pengendalian pandemi Covid‑19. Yakni terjadi penurunan pada kasus positif, ketersediaan tempat tidur, dan tingkat penularan atau positivity rate di beberapa provinsi di Pulau Jawa.

"Tapi kita harus tetap berhati‑hati menyikapi ini, tetap harus mewaspadai varian Delta yang lebih cepat menular. Dengan pertimbangan aspek kesehatan, ekonomi dan dinamika sosial, saya memutuskan melanjutkan PPKM Level 4 dari 26 Juli sampai 2 Agustus 2021."

Jokowi kemudian memaparkan "aturan penyesuaian PPKM Level 4" yang isinya berbeda dari yang tertera dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 22 Tahun 2021.

Penyesuaian itu antara lain mencakup kegiatan makan atau minum di tempat umum seperti warung makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lima, lapak jajanan di ruang terbuka diizinkan buka dengan protokol kesehatan yang ketat sampai pukul 20.00 WIB dengan kapasitas maksimum waktu makan 20 menit."Kemudian pedagang kaki lima, toko kelontong, pangkas rambut, pedagang asongan, bengkel kecil, laundry, cucian kendaraan dan usaha‑usaha kecil sejenis diizinkan buka dengan protokol kesehatan yang ketat hingga pukul 21.00 WIB yang pengaturan teknisnya diatur pemerintah daerah."

Penyesuaian lainnya adalah pasar rakyat yang menjual selain kebutuhan sembako juga diperbolehkan buka dengan kapasitas maksimum 50% hingga jam 15.00 WIB. "Sedangkan pasar rakyat yang menjual sembako boleh buka seperti biasa dengan protokol kesehatan yang ketat."

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Donie Riris Andono, ternyata berbeda pandangan dengan Presiden Jokowi. Menurut Donie, pelaksanaan PPKM Darurat/Level 4 yang sudah berlangsung selama 23 hari, hasilnya jauh dari target yang dipasang pemerintah yakni bisa menurunkan kasus infeksi kurang dari 10.000 per hari.

Gagalnya target itu terwujud karena sikap pemerintah yang ia sebut "setengah hati" saat memberlakukan pengetatan. Berdasarkan pengamatannya hal tersebut disebabkan angka pengetesan yang relatif tidak meningkat banyak sebelum PPKM Darurat diberlakukan dan mobilitas orang yang masih tinggi.

Menurut Donie, angka positif kasus baru yang masih di atas 30.000-an kasus perhari belum bo;eh disimpulkan menurun. "Ini masih pada tahap melandai dan penularan masih tinggi. Tidak bisa dibilang ini turun, kalau melandai, ya. Kalaupun turun, akan menjadi turun yang sangat pelan."

Di sisi lain, hingga kini penularan masih terjadi, masyarakat sudah merasa bahwa PPKM tidak berhasil menghentikan penularan. “Padahal yang sebenarnya terjadi, kita tidak cukup baik melakukan PPKM dengan benar sehingga penularan tetap terjadi."

Donie khawatir dengan pelonggaran aktivitas masyarakat ini maka kasus infeksi akan melonjak lebih tinggi lagi mengingat varian Delta Covid‑19 lebih cepat menular. Perkiraannya peningkatan bisa mencapai tiga kali lipat. Jika hal itu terjadi, langkah pemerintah menambah kapasitas tempat tidur perawatan maupun tenaga kesehatan tidak akan cukup membendung kenaikan kasus.

Pandangan Donie dan Presiden memang berbeda dari cara melihat. Negara melihat bagaimana sektor informal yang sangat terpukul, tidak sampai oleh penerapan PPKM Level 4. Artinya, di sini pemerintah memang berada di posisi yang serba salah. 

Oleh karena itulah, dengan adanya pelonggaran dalam keputusan baru ini, masyarakat, terutama sektor informal harus benar-benar mematuhi ketentuan waktu berdagang serta menaati protokol kesehatan.

Selain itu, masyarakat juga jangan mengabaikan program vaksinasi Covid. Sebab, menurut data pemerintah, 94 persen kematian pasien Covid karena belum vaksin. “Khusus bagi warga yang terkena Covid‑19, vaksinasi ampuh untuk menurunkan risiko berat. Salah satunya mengurangi risiko kematian,” kata Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono. Nah, maka segeralah ke lokasi vaksinasi. Apalagi, di Banda Aceh, dalam dua hari terakhir, kasus infeksi baru melonjak tajam!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved