Breaking News:

Jurnalisme Warga

Lintas Barsela, Keindahan Tanpa Batas

Sudah sangat lama saya berkeinginan untuk mengunjungi makam Al-Mukarram Abuya Muda Waly Al-Khalidi di Labuhan Haji Aceh Selatan

Editor: bakri
Lintas Barsela, Keindahan Tanpa Batas
FOR SERAMBINEWS.COM
MIRNANI MUNIRUDDIN ACHMAD, M.A., Guru MIN 13 Pidie Jaya, Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya, dan alumnus Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, melaporkan dari Aceh Selatan

OLEH MIRNANI MUNIRUDDIN ACHMAD, M.A., Guru MIN 13 Pidie Jaya, Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya, dan alumnus Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, melaporkan dari Aceh Selatan

Sudah sangat lama saya berkeinginan untuk mengunjungi makam Al-Mukarram Abuya Muda Waly Al-Khalidi di Labuhan Haji Aceh Selatan. Tentu saja dengan melewati lintas barat selatan Aceh (Barsela). Baru liburan kali ini Allah gerakkan kaki kami untuk mantap melakukan perjalanan ini, hanya bertiga dengan suami dan anak semata wayang kami, Azzam.

Berangkat dari Ulee Gle, Pidie Jaya, setelah shalat Jumat kami putuskan untuk menginap di Banda Aceh. Kami memang berencana memulai perjalanan di pagi hari agar suasana jalan sedikit lengang dan lebih nyaman dalam mengemudi.

Sebenarnya, perjalanan dari Banda Aceh ke Lamno, Aceh Jaya, sudah pernah saya lalui beberapa kali. Namun, menikmati indahnya pemandangan alam di jalan ini tidak akan pernah membuat kita bosan. Kombinasi ciptaan Allah antara hijaunya gunung dan terdengar indahnya alunan ombak laut yang memecah kesunyian pagi, tergolong paket komplit.

Melewati Gunung Gurutee yang menjadi destinasi wajib bagi traveller untuk sejenak menikmati indahnya ciptaan Allah dari atas gunung, pemandangan indah akan tersaji di hadapan kita, lautan biru yang membentang di hadapan mata yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Cocok untuk dijadikan latar belakang foto bagi traveler yang ingin mengabadikan momen indahnya di gunung ini, tak terkecuali kami. Sejauh mata memandang akan terlihat pesisir pantai dan luasnya lautan Allah yang begitu sempurna. Masyaallah.

Kami tak bisa berlama-lama di sini karena tujuan utama kami masih sangatlah jauh. Perjalanan langsung kami lanjutkan melewati Lamno dan selanjutnya terkagum-kagum melihat pantai Calang yang tidak kalah cantik dengan lautan yang telah kami lalui sebelumnya. Allah Mahabesar, sungguh rugi manusia yang tidak bisa melihat kehebatan dan keagungan Allah melalui ciptaan-Nya yang tidak akan pernah ada bandingannya dengan apa pun.

Perjalanan ini sungguh benar tidak terasa, mata nyaman ditemani dengan obrolan ringan kami tak terasa sudah sampai di Meulaboh, ibu kota Aceh Barat. Kami rehat sejenak, meregangkan otot yang sudah sedikit kelelahan dalam perjalanan, memaksakan perjalanan dalam keadaan lelah pun bukanlah pilihan yang tepat. Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh menjadi pilihan kami. Masjid dengan model arsitektur Timur Tengah dan Aceh serta perpaduan warna cokelat dengan kubahnya berwarna merah bata yang membuat masjid ini semakin unik dan menarik.

Sambil santai, saya periksa Google Map  untuk memastikan sejauh mana lagi waktu yang akan kami butuhkan sampai ke Dayah Darusssalam. Ternyata kami butuh waktu kira-kira 3 jam 15 menit lagi untuk sampai ke tujuan. Kami pun langsung bergegas dan melanjutkan perjalanan.

Dari Meulaboh, kita tidak akan banyak lagi menemukan lautan. Dalam perjalanan kami justru menjumpai banyak sungai yang jernih airnya, tapi dengan pemandangan yang menyayat hati. Bagaimana tidak, air jernih dengan bebatuan, tapi dijadikan tempat sampah. Manusia yang seperti tanpa segan untuk membuang sampah ke dalam sungai, mungkin saja dalam bayangan sebagian saudara kita bahwa sungai adalah tempat yang pantas untuk dijadikan tong sampah. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan tak berpendidikan ini bisa berakibat fatal bagi diri sendiri.

Mungkin saja masih banyak saudara kita yang tidak bisa membaca dengan baik dan benar, bahkan saya dengan kecepatan mobil bisa membaca dengan jelas papan pemberitahuan yang dibuat pemerintah agar warga tidak membuang sampah ke sungai. Sungguh benarlah firman Allah dalam Al-Qur’an, “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan perbuatan tangan (maksiat) manusia.” (QS. Ar Ruum: 41). Semoga Allah berikan hidayah kepada mereka.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved