Breaking News:

Opini

Menakar ‘Resiliensi’ Masyarakat Aceh

Jika kita hitung berdasarkan waktu sudah lebih dari satu setengah tahun sejak kasus pertama Corona Virus Infection Disease-19 (Covid-19)

Editor: bakri
Menakar ‘Resiliensi’ Masyarakat Aceh
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Bambang Setiawan, ST, M.Eng.Sc, Ketua Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Oleh Dr. Bambang Setiawan, ST, M.Eng.Sc, Ketua Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Jika kita hitung berdasarkan waktu sudah lebih dari satu setengah tahun sejak kasus pertama Corona Virus Infection Disease-19 (Covid-19) dilaporkan di Kota Wuhan, China di bulan Desember 2019. Kasus itu kemudian menjadi wabah penyakit global atau yang diistilahkan sebagai Pandemi Covid-19 yang melanda pada hampir seluruh negara di dunia.  

Pandemi ini masih terus menghantui kehidupan kita hingga saat ini. Berbagai usaha dan kerja keras telah dilakukan oleh berbagai pihak dengan mengadopsi tindakan-tindakan yang bersifat preventif dalam bentuk menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat, memakai masker, lock down, social distancing, dan physical distancing di lapangan.

Usaha-usaha yang bersifat klinis juga sangat giat dilakukan, sehingga beberapa jenis vaksin seperti Pfizer-BioNTech, Moderna, Johnson & Johnson/Janssen, Sinovav, Astra Zeneca, Vaksin Nusantara, dan lain- lain yang dinilai beberapa pihak sebagai upaya penanggulangan penyebaran wabah Covid-19 paling efektif telah ditemukan.

Sejalan dengan itu, upaya pemberian vaksinasi secara missal juga terus digalakkan. Hingga saat ini, usaha-usaha tersebut masih belum menunjukkan titik terang akan berakhirnya bencana Pandemi Covid-19 ini.  Dalam minggu terakhir ini, situasi pada sebagian besar kawasan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa masih menunjukkan kecenderungan yang makin mengkhawatirkan sehingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diterapkan oleh pemerintah. Penerapan PPKM Darurat ini berimbas pada berbagai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Dampak dari Pandemik Covid-19 ini terasa secara langsung pada kegiatan perekonomian sehari-hari sehingga berimbas pada kesejahteraan masyarakat, termasuk masyarakat Aceh.

Tulisan singkat ini tidak bermaksud untuk mengulas lebih panjang terkait dengan pandemi Covid-19 beserta dampak-dampaknya, tetapi hanya sebagai pengingat bahwa masyarakat Aceh pernah mengalami peristiwa atau bencana yang bisa jadi, menurut pendapat penulis, lebih buruk dari pandemi Covid-19 saat ini, meskipun dalam kondisi dan situasi yang jauh berbeda.

Enam belas tahun yang lalu pada 26 Desember 2004 sebuah bencana luar biasa dalam sejarah manusia modern telah menimpa sebagian masyarakat Aceh. Bencana gempa bumi yang diikuti dengan gelombang tsunami sebagai bencana collateral-nya telah menyebabkan lebih dari 130.000 orang Aceh meninggal dan 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal pada berbagai negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2006, dampak bencana tersebut bagi Pemerintah Aceh telah mengakibatkan kerugian yang bisa disetarakan dengan 97% dari gross domestic product (GDP)-nya pada saat itu.  Di sisi lain, bencana besar tersebut telah membangkitkan kesadaran yang luar biasa pada sebagian besar kalangan masyarakat Aceh. Bencana tersebut juga telah menjadi pembelajaran (iktibar) penting akan berbagai hal termasuk memperlihatkan gambaran akan betapa besarnya resiliensi masyarakat Aceh terhadap bencana.

Makna resiliensi terhadap bencana yang ada pada masyarakat Aceh tersebut baru penulis pahami enam tahun yang lalu ketika berkesempatan untuk berpartisipasi pada sebuah konferensi internasional yang membahas mengenai rekayasa gempa, yaitu 10th Pacific Conference on Earthquake Engineering di Sydney, Australia. Konferensi ini diselenggarakan  oleh Australian Earthquake Engineering Society (AEES).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved