Breaking News:

Wawancara Khusus

Tak Ada Persoalan dengan Internal PA

Mantan ketua DPRA dari Partai Aceh (PA), Tgk H Muharuddin SSosI MM, melakukan manuver politik dengan bergabung ke Partai Persatuan Indonesia (Perindo)

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
MUHARUDDIN, Ketua DPW Partai Perindo Aceh 

Mantan ketua DPRA dari Partai Aceh (PA), Tgk H Muharuddin SSosI MM, melakukan manuver politik dengan bergabung ke Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Bahkan, Tgk Muhar--sapaan akrab Muharuddin--langsung dipercayakan oleh pendiri sekaligus Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo sebagai Ketua DPW Aceh menggantikan Hamdani Hamid.

Keputusan Tgk Muhar tersebut begitu menghebohkan, terutama kalangan internal PA dan eks kombatan. Apalagi, ia sudah dua kali menjadi anggota DPRA dari PA. Pada periode terakhir, Tgk Muhar dipercayakan oleh ketua partainya, Muzakir Manaf alias Mualem untuk menduduki jabatan Ketua DPRA Periode 2014-2018.  

Lantas, apa yang mendasari Tgk Muhar jatuh hati dengan Perindo yang didirikan oleh pemilik perusahaan multinasional MNC Group pada 7 Februari 2015 silam. Berikut petikan wawancara khusus Wartawan Serambi Indonesia, Masrizal bin Zairi, dan Videografer Serambi On Tv, Hendri, dengan Tgk Muharuddin, di Banda Aceh, Selasa (27/7/2021).

Apa yang mendasari Anda ‘hijrah’ ke Perindo?

Kenapa hijrah ke Partai Perindo? Kalau kita cerita masalah politik dalam perspektif  negara kita yang menjunjung tinggi demokrasi, hal itu adalah sesuatu yang dibenarkan dan bebas bagi masyarakat. Artinya, tertarik bagi saya, karena Perindo itu sesuatu yang fenomenal di Aceh. Dengan kata lain, kalau Tgk Muhar masuk ke partai-partai yang lain, itu dianggap biasa-biasa saja.

Tapi, kalau melihat perolehan suara pada Pemilu 2019, Perindo tak terpenuhi ambang batas 4 persen serta perolehan kursi di Aceh pada tingkat DPRA dan DPRK juga belum mendapat kursi, ini yang kemudian menjadi pertanyaan besar bagi saya, ada apa?

Sementara kalau kita lihat landasan atau azas partai politik sama yaitu Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Kemudian, ada landasan ideologi, landasan agama, dan lain sebagainya. Ini sesuatu yang menurut saya ada salah penafsiran di masyarakat. Saya tertantang ingin menjawab pertanyaan itu dengan harapan bisa mengedukasi masyarakat bahwa berpolitik itu harus santun, berkompetisi secara sehat, dan tidak terbawa dengan isu-isu hoaks yang tak bisa dipertangungjawabkan. Jadi, ini landasan saya menerima ajakan untuk memimpin Perindo di Aceh.

Siapa yang mengajak?

Tentu ada semacam tawaran. Dipanggil ke Jakarta saat itu, kita berbicara politik Perindo. Ketum (Hary Tanoesoedibjo) menyampaikan bahwa di periode sebelumya hanya coba-coba dan cari pengalaman. Artinya, orang yang ditempatkan hanya sekedar terisi. Sehingga, hasil Pilkada dan Pileg perlu dievaluasi secara menyeluruh di seluruh Indonesia. Tujuan akhir agar Perindo bisa memenuhi ambang batas dan dapat bersanding dengan partai politik lokal di Aceh dan partai nasional di Indonesia.

Apa misi Anda di Perindo?

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved