Jumat, 17 April 2026

Tiga Rumah Rusak dan Dua Nelayan Hilang, Dampak Cuaca Buruk

Cuaca buruk melanda sejumlah kabupaten/kota di Aceh dalam dua hari terakhir. Di Bireuen, angin kencang disertai hujan deras mengakibatkan tiga rumah

Editor: bakri
Serambi Indonesia
Tiga unit rumah warga di Bireuen rusak berat diterjang angin kencang yang disertai hujan, Jumat (30/07/2022) sore. 

BIREUEN - Cuaca buruk melanda sejumlah kabupaten/kota di Aceh dalam dua hari terakhir. Di Bireuen, angin kencang disertai hujan deras mengakibatkan tiga rumah rusak dan tenda dekat panggung utama MTQ ke-35 tingkat kabupaten itu tumbang. Sementara di Aceh Singkil, pencarian dua nelayan asal Pulau Baguk, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, harus dihentikan karena terkendala cuaca buruk berupa ombak besar.

Di Bireuen, angin kencang disertai hujan terjadi pada Jumat (30/7/2022) sore. Tiga rumah yang rusak masing-masing milik Zulkarnaini AR (42), warga Desa Cot Rabo Tunong, Kecamatan Peusangan, Irfan Alibasyah (38), warga Matang Sagoe, Kecamatan Peusangan, dan Khadda Rifai (37), Gampong Jurong Binjee, Kecamatan Simpang Mamplam.

Tidak ada korban jiwa musibah itu. Namun, rumah Zulkarnain mengalami rusak berat dan bagian atasnya tehempas ke tanah. Sementara rumah  Irfan sebagian atapnya lepas diterbangkan angin. Sedangkan rumah Khadda rusak berat di bagian atapnya. Angin kencang tersebut juga menyebabkan tenda di dekat panggung utama MTQ ke-35 di Masjid Agung Bireuen, tumbang.

Sifwa Nabila (9), anak dari Zulkarnaini (42), pada Sabtu (31/7/2021) terpaku menatap rumahnya  sudah rusak diterjang angin kencang sehari sebelumnya. Padahal, rumah tersebut baru selesai dibangun seadanya dan belum sempat mereka tempati. Sifwa dan orang tuanya yang selama tinggal rumah sewa sudah bersiap-siap untuk menempati rumah sendiri. Namun, harapan ini sirna karena tersebut sudah rusak dihantam angin kencang.

Mata Sifwa terus melihat orang tuanya dan belasan warga desa bergotong royong membongkar atap rumah dan memindahkan papan serta kayu lain yang berantakan akibat dihempas angin kencang. “Semua harus dibongkar dulu, nanti dibangun kembali,” ujar Zulkarnaini. Menurut warga setempat, angin kencang juga menyebabkan beberapa pohon tumbang.

Pemkab Bireuen melalui dinas sosial (Dinsos) setempat, Jumat (30/7/2021) malam, langsung menyalurkan bantuan masa panik kepada para korban. Kadis Sosial Bireuen, Mulyadi SE MM, melalui Kabid Rehabilitasi dan Perlindungan Sosial, Faisal Kamal SSos, kepada Serambi, kemarin, mengatakan, bantuan berupa beras, mi instan, minyak goreng, alat dapur, perlengkapan shalat, dan beberapa jenis barang lainnya sudah diantar ke rumah masing masing korban.  Ia berharap bantuan itu dapat meringankan beban para korban.

Hilang saat melaut

Sementara itu, dua nelayan asal Desa Pulau Baguk, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, hilang kontak sejak pergi melaut pada Jumat (30/7/2021) sore. Kedua nelayan yaitu Zakaria (68) dan Syafrizal (39), berangkat menggunakan perahu kayu untuk memancing. Hingga Sabtu (31/7/2021) siang, mereka belum juga pulang.

Hal itu membuat keluarganya cemas. Sebab, pada Jumat (30/7/2021) malam, badai disertai hujan deras yang memicu gelombang tinggi terjadi di kawasan itu. Apalagi, biasanya nelayan yang pergi melaut pada sore hari mereka akan pulang pada malam hari. Namun, Zakaria dan Syafrizal hingga kemarin belum juga pulang.

Kecemasan keluarga mereka bertambah lagi  lantaran keduanya hanya sedikit membawa perbekalan.

Apalagi, Zakaria dan Syafrizal tak membawa telpon seluler. Sehingga keberadaanya tidak diketahui. "Pada hari Jumat, 30 Juli 2021, sekitar pukul 17.30 WIB, kedua nelayan itu berangkat melaut. Sekitar pukul 23.00 WIB, terjadi badai dan hujan deras," kata Satgas Search dan Rescue (SAR) Kepulauan Banyak, Yudistira.

Menurut Yudistira, informasi belum kembalinya dua nelayan itu diperoleh pihaknya pukul 08.00 WIB. "Kedua nelayan tersebut tidak membawa handphone sehingga kita tak bisa berkomunikasi," ujarnya. Sejak diketahui hilang kontak, tim gabungan berusaha mencari mereka dengan menyisir laut kawasan itu.

Hingga kemarin, pencarian tersebut belum membuahkan hasil. Pencarian mereka juga terkendala cuaca buruk berupa ombak besar. Sehingga, pencarian untuk sementara waktu dihentikan. Apalagi sudah memasuki malam hari, sangat berisiko melakukan pencarian saat ombak besar dengan kondisi gelap.

Besok (hari ini-red) jika cuaca bersahabat, pencarian dilanjutkan kembali dengan memperluas area yang disisir. "Untuk pergerakan hari ini (kemarin-red) sementara kita hentikan karena cuaca tidak memungkinkan," ujarnya. Menurut Yudis, pihaknya juga sudah koordinasi dengan Kantor SAR Nias, Sumatera Utara, untuk membantu mencari korban dengan memberi tahu kepada nelayan Sibolga dan Nias. (yus/de)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved