Breaking News:

Olimpiade Tokyo

Aktivis Penentang Olimpiade Tokyo Terus Bergerilya, Tak Pedulikan Sorakan Kemenangan

Para aktivis anti-Olimpiade Tokyo terus bergerilya untuk menentang perhelatan besar itu. Salah satunya, aktivis Kai Koyama yang berdiri di luar Stadi

Editor: M Nur Pakar
AFP
Seniman Takatoshi Sakuragawa berpose dengan spanduk anti-Olimpiade 

SERAMBINEWS.COM, TOKYO - Para aktivis anti-Olimpiade Tokyo terus bergerilya untuk menentang perhelatan besar itu.

Salah satunya, aktivis Kai Koyama yang berdiri di luar Stadion Olimpiade Tokyo saat kembang api meledak di atas kepala selama upacara pembukaan.

Tetapi, dia tidak seperti banyak orang di sekitarnya, tidak bersorak, tetapi untuk memprotes.

Dilansir AFP, Senin (2/8/2021), selama berbulan-bulan, jajak pendapat menunjukkan penentangan yang kuat terhadap Olimpiade di Jepang.

Alasan mereka, hanya akan menyebabkan kasus virus Corona melonjak dan program vaksin masih berjalan lamban.

Namun sejak upacara pembukaan, sentimen tampaknya telah melunak.

Baca juga: Perenang Myanmar Korbankan Impian Olimpiade Tokyo, Memprotes Kudeta Militer

Lebih dari separuh penduduk kota menyaksikan ekstravaganza pembukaan di TV.

Bahkan, antrean panjang telah terbentuk di Stadion Olimpiade saat orang-orang menunggu untuk difoto dengan logo Olimpiade.

Atlet Jepang telah memenangkan rekor jumlah medali emas dan toko-toko yang menjual merchandise Olimpiade melaporkan lonjakan penjualan.

Tak satu pun dari itu menggoyahkan Koyama dan lawan lama lainnya dari Olimpiade, yang terus menggelar demonstrasi.

Bahkan jika mereka cenderung menarik hanya beberapa lusin orang.

"Nyawa lebih penting daripada medali!" teriak para demonstran di luar kantor Perdana Menteri Yoshihide Suga di Tokyo pada suatu malam baru-baru ini.

Koyama termasuk di antara mereka, mendesak Suga untuk membatalkan Olimpiade.

Kemudian, fokus pada lonjakan kasus virus Corona terbaru di Jepang, yang telah menempatkan Tokyo dan wilayah lain dalam keadaan darurat.

"Saya sangat marah," kata seniman lukis berusia 40-an itu kepada AFP, Senin (2/8/2021).

"Kami berada dalam situasi darurat ... orang-orang sekarat setiap hari, tetapi Olimpiade masih berlangsung," tambahnya.

Olimpiade Tokyo 2020 telah berada di bawah aturan anti-virus yang ketat, dengan penonton dilarang dari sebagian besar tempat kompetisi.

Tetapi Koyama berpendapat mengadakan acara tersebut mengirimkan pesan yang salah.

Bahkan, mendorong warga untuk melanggar pembatasan dan berisiko terinfeksi.

Dia berada di luar Stadion Olimpiade pada 23 Juli 2021.

Ketika teriakan pengunjuk rasa menggunakan pengeras suara terdengar di tempat yang hampir kosong.

"Saya merasa tidak berdaya dan marah ketika saya melihat kembang api di Stadion Nasional,." katanya.

"Itu memberi tahu kami bahwa Olimpiade telah dimulai, meskipun ada tentangan dari 80 persen warga Jepang," ungkapnya.

Koyama telah mengungkapkan rasa frustrasinya ke dalam sebuah pameran seni yang disebut "Deklarasi untuk Akhir Olimpiade."

Dia menyatukan karya-karya seniman yang menentang acara tersebut.

Baca juga: Puji Kemenangan Greysia/Apriyani di Olimpiade Tokyo 2020, Presiden Jokowi: Ini Kado HUT Kemerdekaan

Pameran termasuk patung tanah liat "Reruntuhan", di mana logo Olimpiade, karangan bunga daun zaitun dan tangan ditutupi oleh pasir pucat.

"Ada atlet yang tampil dengan keterampilan luar biasa, dan orang-orang yang senang menonton, dan saya pikir itu hal yang luar biasa," kata seniman lainnya, Sachiko Kawamura.

"Tapi saya merasa orang-orang menganggap remeh ancaman virus Corona," katanya.

Kawamura berpendapat cara uang dibelanjakan untuk permainan salah.

Pemerintah harus berkonsentrasi pada penanganan virus Corona daripada pengeluaran untuk Olimpiade, katanya.

Sementara virus telah mendorong beberapa keraguan tentang Olimpiade, yang lain di Jepang.

Mmenentang tawaran tuan rumah Tokyo sejak awal, termasuk pelukis berusia 55 tahun Takatoshi Sakuragawa.

Dia berjuang memahami mengapa negara itu bersaing untuk kompetisi dalam pemungutan suara Komite Olimpiade Internasional pada tahun 2013.

Ketika masih belum pulih dari tsunami 2011 yang menewaskan lebih dari 18.000 orang atau hilang dan memicu bencana nuklir.

"Saya bertanya-tanya mengapa mereka mencurahkan energi untuk sesuatu seperti Olimpiade bahkan setelah bencana terburuk kami," kata Sakuragawa.

Panitia penawaran Tokyo mengatakan Olimpiade akan membantu membangun kembali daerah yang dilanda bencana melalui kekuatan olahraga.

Namun jajak pendapat pada bulan Maret di antara penduduk daerah yang paling parah terkena bencana 2011 menemukan 61 persen tidak setuju.

Karena Olimpiade Tokyo membantu rekonstruksi, dibandingkan 24 persen yang setuju.

Baca juga: Bintang Renang AS, Katie Ledecky Akhiri Karir Olimpiade Tokyo dengan Manis, Ini Sepak Terjangnya

Hanya segelintir acara Olimpiade yang berlangsung di daerah yang terkena dampak, banyak di antaranya tanpa penonton.

Koyama mengatakan terkejut penyelenggara Olimpiade bersedia mengabaikan oposisi publik, menyebut mereka anti-demokrasi dan diktator.

Sakuragawa mengatakan akan berusaha menghindari liputan Games meskipun dia suka menonton olahraga.

"Tapi saluran TV mana pun yang saya nyalakan memilikinya, jadi saya terpaksa menontonnya," ujarnya.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved