Breaking News:

Salam

Pendistribusian Vaksin Harus Klop dengan Agenda Kampus

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (1/8/2021) kemarin mewartakan bahwa Dinas Kesehatan Aceh sudah menyalurkan

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
Bupati Bireuen, Dr H Muzakkar A Gani SH MSi, bersama pejabat terkait, Rabu (10/02/2021), melepas pendistribusian vaksin Covid-19 ke 20 Puskesmas dan lima rumah sakit di Bireuen. Pelepasan ini berlangsung di halaman RSUD dr Fauziah Bireuen, Rabu (10/2/2021). 

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (1/8/2021) kemarin mewartakan bahwa Dinas Kesehatan Aceh sudah menyalurkan semua vaksin Covid-19 yang diterima pada Jumat (30/7/2021) ke seluruh kabupaten/kota di Aceh. Vaksin yang didistribusikan itu berjumlah 38.300 dosis, berupa vaksin Sinovac, produk Cina.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif berharap dengan diterimanya tambahan vaksin tersebut bisa menjawab keluhan seluruh kabupaten/kota yang kehabisan vaksin Covid-19 dalam sepekan terakhir.

Seperti biasanya, Kabupaten Aceh Besar lagi-lagi mendapat distribusi vaksin yang jumlahnya paling besar, yakni 3.500 dosis. Sedangkan Aceh Barat mendapat 2.500 dosis. Selanjutnya Banda Aceh, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Kota Langsa, dan Kota Lhokseumawe masing-masing mendapat 2.000 dosis.

Nah, kita apresiasi pendistribusian vaksin yang dilakukan dengan prinsip "dalam tempo sesingkat-singkatnya" ini. Namun, saran dan kritik patut juga kita utarakan, mengingat pendistribusian itu tampaknya kurang mempertimbangkan kondisi akademik atau jadwal perkuliahan mahasiswa.

Pekan ini hingga pekan depan merupakan masa sebagian besar mahasiswa negeri mengurus kartu rencana studi (KRS). Di Universitas Syiah Kuala (USK) misalnya, rektor sudah mempersyaratkan bahwa untuk bisa mengisi KRS, mahasiswa harus memperlihatkan surat sudah divaksinasi, minimal satu kali.

Otomatis, mahasiswa USK yang berjumlah 24.000 orang akan berbondong-bondong ke tempat vaksinasi. Bila setengah saja dari mereka belum divaksin, maka dalam pekan ini mahasiswa di Banda Aceh dan sekitarnya akan memerlukan sedikitnya 12.000 dosis vaksin. Sedangkan yang didistribusikan Dinkes Aceh dua hari lalu ke Banda Aceh hanya 2.000 dosis. Jelas sangat jauh kekurangannya.

Oleh karenanya kita berharap, kebijakan pendistribusian vaksin tersebut mestinya tidak hanya berpedoman pada tingginya angka positif Covid di suatu daerah, dalam hal ini seperti Aceh Besar, tetapi harus pula jeli mempertimbangkan hal-hal yang bersifat kasuistik. Misalnya, betapa banyaknya mahasiswa USK dan PTN atau PTS lainnya mulai pekan ini hingga sebulan ke depan perlu divaksin karena sebagian perguruan tinggi mengharuskan vaksinasi sebagai syarat administrasi perkuliahan.

Semoga vaksin yang jumlah dosisnya sangat terbatas itu benar-benar bisa dimanfaatkan dengan baik dan merata di daerah, mengingat semakin banyak warga Aceh yang merasa harus divaksin, baik karena kesadaran sendiri, maupun karena "dipaksa" oleh aturan internal di tempat ia menuntut ilmu atau bekerja.

Namun, apa pun faktor pendorongnya, kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa di masa pandemi, vaksin itu memang perlu dan sangat membantu mengurangi tingkat keparahan jika seseorang terinfeksi Covid-19 atau terinfesi virus corona varian lainnya yang justru lebih berbahaya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved