Breaking News:

Antologi Puisi

Peneliti, Penyair Sampai Menteri Ikut Menulis di Buku Antologi Puisi “1001 Puisi Anak Negeri Jerebu”

Sementara dari Aceh Dr Monalisa, peneliti gambut yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Monalisa menulis puis

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Dr Monalisa, Peneliti Rawa Gambut Aceh. 

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Peneliti, penyair, birokrat, ulama dan aktivis gambut nasional menumpahkan inspirasinya dalam bentuk puisi yang dikumpulkan menjadi satu antologi berjudul “1001 Puisi Anak Negeri Jerebu.”

Penulisnya selain para peneliti dan aktivis juga penyair Indonesia Taufiq Ismail, Fakhrunnas MA Jabbar, Aris Abeba dan banyak penyair lain yang namanya sudah tidak asing di dunia perpuisian Indonesia.

Juga ada Ustadz Abdul Somad dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar serta sejumlah birokrat yang memiliki keprihatinan terhadap bencana kabut asap.

Penyair Sumatera Barat, Iyut Fitra, Rilis Puisi Tentang Sabang, Penuh Makna dan Story

Sementara dari Aceh Dr Monalisa, peneliti gambut yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Monalisa menulis puisi berjudul “Menggenggam Serasah di Seumayam yang Terkoyak.”

Buku ini diterbitkan Kedeputian Peneliti dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia. Tebal buku 144 halaman, cetakan pertama Desember 2020, tapi baru tahun ini naik cetak. Buku ini dieditori Arifudin, Haris Gunawan, Arza Aibonotika.

Dr Monalisa menceritakan, buku puisi ini digagas sejak 2014 merupakan gagasan baru dalam rangka memberi makna terhadap gerakan pelestarian gambut Indonesia.

Seniman Gayo Manfaatkan Loyang Inen Mayak Pukes Sebagai Tempat Ekspresi Pembacaan Puisi

“Mungkin ini satu-satunya buku puisi yang mengambil tema khusus gambut,” kata Monalisa.

Jerebu adalah istilah dalam bahasa Melayu berarti kabut asap, yang ditimbulkan dari pembakaran lahan dan hutan gambut.

Puisi-puisi yang termaktub dalam buku ini berisi keprihatinan terhadap “jerebu” yang merusak tatanan lingkungan. Merusak kesehatan dan membangrutkan ekonomi.

Monalisa menyebut sangat gembira karyanya ikut masuk dalam buku ini, sebagai bagian dari ekspresi artistiknya terhadap bencana “Jerebu.”

Ia menyebut bencana asap juga menimbulkan kerugian dan dampak buruk di Aceh. Hampir setiap tahun terjadi bencana asap, antara lain akibat pembakaran hutan gambut.

Puisi ini bagian dari renungan kita terhadap bencana itu,” katanya.(*)

Baca juga: Tiga Warga Aceh Singkil Dinyatakan Sembuh dari Corona

Baca juga: Pemkab Abdya Hibahkan 1 Hektar Tanah untuk Kemenag Aceh Barat Daya

Baca juga: Warga Miliki Penyakit Komorbid Mudah Terserang Covid-19, di Pidie Tinggi Penderita

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved