Breaking News:

Opini

Memaknai Seni Visual di Aceh

Sejauh yang saya amati, Aceh masih memandang rendah terhadap pilar kesenian. Padahal, banyak potensi

Editor: hasyim
Memaknai Seni Visual di Aceh
FOTO IST
Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Jantho, Aceh Besar

Oleh. M. SADIKUN, Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Jantho, Aceh Besar

Sejauh yang saya amati, Aceh masih memandang rendah terhadap pilar kesenian. Padahal, banyak potensi di kalangan masyarakat Aceh terkait hal ini. Demikian pula dalam bidang desain maupun yang menyangkut dengan visual lainnya.

Saya kira, mata kita sudah terbiasa melihat visual-visual yang ada di sepanjang jalan yang terbentang di Banda Aceh dan sekitarnya. Ini bukanlah hal baru yang ada di sini, melainkan sebagian masyarakat masih kurang apresiasinya dalam melihat sebuah karya, baik itu karya mural, stensil, grafity, poster, dan apa pun kata gantinya.

Sebagian para pelaku masih menyentuh tempat-tempat umum dalam menyampaikan pesan visual kepada khalayak. Ini sangat sederhana, karena masih belum memadainya ruang yang tersedia untuk para perupa di Aceh dalam melakukan pameran. Berbeda halnya dengan ruang-ruang pertunjukan yang sudah sangat banyak difasilitasi, baik itu oleh pihak swasta ataupun pemerintah.

Ini sangat relevan dengan apa yang telah terjadi di Aceh, perkembangan seni rupa barsaing dengan kecepatan cahaya. Namun, masih saja “kepekaan melebihi saat cewek bilang terserah”, belum ada di telinga Pemerintah Aceh. Timbullah keresahan di dinding-dinding kota yang kita lihat selama ini, karena ruang pamer tidak cukup baik untuk karya dipersilakan menempel di sana.

Padahal, jika kita mengubah sudut pandang kita terhadap nilai dari sebuah karya seni visual, ini menjadikannya elegan. Bagaimana mewahnya karya-karya yang menempel di dinding kota itu ada di ruang pamer yang diperlakukan dan diapresiasi dengan baik ketimbang berada di jalanan dan hanya akan membuat orang bertanya, “Yang dilakukan semua ini sebenarnya untuk apa?”

Kita seharusnya prihatin dengan hal ini, karena potensi anak muda di Aceh sangatlah hebat. Namun, pemerintah seakan buta akan hal ini. Seni visual yang ada di jalanan atau yang biasa dikenal dengan ‘street art’  muncul sebagai propaganda, baik itu dalam mengkritik ataupun dengan menyampaikan suatu berita atau pesan tertentu yang mungkin dengan lisan atau tulisan tak pernah dipedulikan. Inilah maksud dari para ‘street art’ ini memakai tempat umum yang desediakan dan mengubahnya sebagai kording (koran dinding). Istilah ini muncul di kalangan perupa dalam menamai sesuatu atau biasa disebut mading (majalah dinding) secara konvensional. Karena, dengan memakai tempat umum ini sebagai media propaganda, biasanya akan menjadi pusat perhatian publik.

Seni rupa pun kini masuk ke dalam dunia desain dan desain juga lebih populer di Aceh. Buktinya, banyak tempat yang kita lihat yang akhirnya menjadi media promosi di jalanan, seperti: spanduk, baliho, billboard, dan itu menjadi galeri Pemerintah Aceh untuk memajang foto selfienya dengan kata ucapan selamat untuk apa pun itu, dan orang awam menamakan itu sebagai sebuah desain yang akurat. Ya, akurat bagi pengetahuan yang kurang apresiasi dalam memaknai desain.

Kalau kita lebih jeli dalam hal ini, sebetulnya yang seperti itu akan menjadi hal biasa, karena tidak dibarengi dengan pengetahuan tertentu dari kalangan pemerintah itu sendiri, sehingga media promosi iklan itu akan menjadi sampah, meskipun memuat beragam informasi.

Namun, coba kita telaah lebih jauh lagi. Memang sudah sangat melelahkan mata jika apa yang kita rekam dengan indra penglihatan kita adalah hal-hal yang dikemas dengan semrawut. Yakni, tidak lagi memikirkan konteks dan konsep dari suatu rancangan ataupun pesan. Tetapi coba, jika yang demikian terjadi kita mengubah pola pikir kita, kemudian kita perlu melihat lebih dalam lagi tentang hal ini. Bagaimana semua ini dikemas dengan mewah dalam bentuk yang lebih unggul, sehingga ketika orang melihat, ada pengetahuan baru yang hadir,  baik itu dari layout sebuah billboard dengan medium yang besar maupun dengan medium yang kecil. Karena, jika ditata dengan bagus dan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam prinsip-prisip desain, maka ia akan menjadi lebih mewah dan diapresiasi, seperti melihat proporsi karya, penggunaan foto, pemilihan warna, penataan atau layout, serta pemilihan font yang relevan dengan sesuatu yang ingin diperlihatkan. 

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved