Breaking News:

Salam

Dendam Politik Elit Sulit Dipadamkan

Sejak awal pandemi, rakyat Malaysia disuguhi drama perebutan kekuasaan politik. Dramanya dimulai dari berkurangnya dukungan

Editor: hasyim
AFP
Mahathir Mohamad 

Sejak awal pandemi, rakyat Malaysia disuguhi drama perebutan kekuasaan politik. Dramanya dimulai dari berkurangnya dukungan anggota parlemen terhadap PM Mahathir Mohamad yang mengakibatkan pemimpin berusia hampir satu abad itu terdepak dari kekuasaannya. Mahathir kemudian digantikan PM Muhyiddin Yassin, mantan anak didiknya.

Akan tetapi, baru beberapa bulan Muhyiddin menjabat, guncangan itu kembali melanda panggung politik negeri jiran itu. Anwar Ibrahim, pemimpin oposisi Malaysia, mengklaim mendapat dukungan lebih dari separuh anggota parlemen. Artinya, dukungan itu cukup baginya untuk mendepak Muhyiddin dari kursi PM.

Gejolak teranyar adalah demo untuk melengserkan Muhyiddin dari kursi perdana menteri. Dua hari lalu, 107 anggota Parlemen Malaysia kubu oposisi berbaris dari Dataran Merdeka menuju kantor Parlemen pada Senin (2/8/2021). Mereka berdemo menuntut Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengundurkan diri.

Demo para wakil rakyat tersebut berumur pendek karena para personel dari Federal Reserve Unit (FRU) yang dipersenjatai dengan perisai anti-huru hara menghalangi mereka untuk melangkah lebih jauh. Para anggota Parlemen sebelumnya berkumpul di Dataran Merdeka untuk memulai demo ke kantor Parlemen sekitar pukul 10.20 pagi untuk memprotes PM Muhyiddin dan Kabinetnya, menyerukan pengunduran diri mereka.

Teriakan “Hidup Rakyat” dan “Daulat Tuanku” terdengar dari kelompok anggota Parlemen, yang dalam beberapa kesempatan harus berbicara dengan polisi agar demo dapat dilanjutkan. Namun mereka tidak berhasil masuk ke halaman kantor Parlemen karena personel FRU memblokir jalan masuk Jalan Parlimen dari Dataran Merdeka.

Ratusan anggota Parlemen dan pendukungnya akhirnya bubar sekitar pukul 10.40, sebagian kembali ke Dataran Merdeka, karena petugas FRU mendesak semua yang berkumpul untuk pergi. Saat berbicara kepada massa dan meminta mereka untuk bubar, pemimpin oposisi Anwar Ibrahim mengatakan para anggota Parlemen telah menyatakan posisi mereka dengan sangat jelas, menambahkan bahwa 107 anggota parlemen dari setiap partai oposisi hadir dalam aksi hari ini.

“Ketua (Dewan Rakyat/Parlemen) telah mengingkari janjinya dan gagal menjalankan tugasnya. Dia paling tidak terhormat dengan cara ini, untuk melindungi perdana menteri yang telah kehilangan legitimasinya," kata Anwar.

Parlemen Malaysia terdiri dari Dewan Rakyat dan Dewan Negara atau Senat. Total anggota Parlemen adalah 292 orang (70 anggota Dewan Negara dan 222 anggota Dewan Rakyat). Dari 222 anggota Dewan Rakyat, 107 di antaranya telah menuntut PM Muhyiddin dan Kabinet-nya mundur. Artinya, posisi pemimpin Malaysia itu telah berada di ujung tanduk. Namun, posisi PM Muhyiddin masih selamat dari mosi tidak percaya karena sidang Parlemen ditunda.

Namun, gejolak politik penanganan pandemi Covid-19 Malaysia memanas kembali setelah Raja Malaysia pada akhir Juni lalu meminta PM Muhyiddin Yassin segera membuka kembali parlemen untuk bersidang dan tidak memperpanjang status darurat negara. Titah Raja Malaysia itu dikeluarkan karena pemerintahan Muhyiddin dinilai gagal menangani pandemi dan perekonomian Malaysia yang semakin terpuruk.

Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan habis-habisan oleh Mahathir Mohammad, Anwar Ibrahim, dan kawan-kawan untuk mendesak mundur Muhyiddin. Bahkan, demi maksud itu, Mahathir dan Anwar pun bersedia berdamai walau sebelumnya kedua politisi senior itu sudah berkali-kali mengalami hubungan yang tidak baik.

Akan tetapi, guna melampiaskan dendam terhadap Muhyiddin, mereka berdamai dan kemudian berdemo bersama untuk menjatuhkan Muhyiddin dari kursi perdana menteri. Beberapa waktu lalu, ketika mantan PM Najib Razak harus dijebloskan ke penjara karena terlibat korupsi, Najib mengatakan dirinya adalah korban politik balas dendam. Nah, jika nanti Muhyiddin berhasil dipaksa lengser, bukan tak mungkin Muhyiddin juga akan mengatakan dirinya juga korban politik balas dendam. Dan, kita pun akan mengatakan dendam politik elit memang sulit dipadamkan!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved