Minggu, 10 Mei 2026

USK Pantau Kondisi Kesehatan Amelia

Universitas Syiah Kuala (USK) mengirimkan tim untuk melihat kondisi kesehatan mahasiswa universitas itu, Amelia

Tayang:
Editor: hasyim
Serambi Indonesia
Amelia Wulandari terbaring lemas di Ruang Saraf RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Minggu (1/8/2021). Mahasiswi ini lumpuh usai divaksin. 

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (USK) mengirimkan tim untuk melihat kondisi kesehatan mahasiswa universitas itu, Amelia Wulandari, yang dikabarkan lumpuh seusai mengikuti vaksinasi Covid-19 di Akademi Keperawatan (Akper) Aceh Barat, kawasan Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, beberapa hari lalu.

Kepala Biro Kemahasiswaan, Dr drh Mustafa Sabri MP, yang memimpin rombongan itu mengungkapkan, kunjungan tersebut merupakan bentuk kepedulian USK terhadap mahasiswanya. Mustafa mengakui, USK sudah mewajibkan vaksinasi kepada mahasiswanya. Hanya saja, bagi mahasiswa yang tidak dapat melakukan vaksin Covid-19 karena alasan kesehatan atau baru terkena Covid-19 dalam tiga bulan terakhir, mahasiswa tersebut cukup menunjukkan surat keterangan dari puskesmas atau Rumah Sakit Pendidikan (RSP) USK.

“Kunjungan ini kami lakukan untuk memastikan bagaimana kondisi sebenarnya Amelia,” ucap Mustafa seperti disampaikan Koordinator Humas USK, Chairil Munawir MT SE MM, kepada Serambi, Selasa (3/8/2021).

Dalam kunjungan tersebut, menurut Mustafa, ibunya menjelaskan saat ini kondisi Amelia sudah membaik. Soal pemberitaan yang mengabarkan anaknya lumpuh, ibu Amelia mengatakan informasi itu bukan dari dirinya. “Adik saya kesal lihat keadaan Amelia. Jadi, dialah yang ngomong. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya cuma mohon anak saya sembuh,” harap ibu Amelia.

Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT dari Tim Satgas Covid-19 USK yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, turut menjalin komunikasi dengan dokter yang merawat Amelia Menurutnya, dalam dua terakhir ini tren pemulihan Amelia makin membaik.

Safrizal mengungkapkan, apa yang terjadi pada Amelia kemungkinan besar karena faktor psikosomatik atau ketakutan yang berlebihan sehingga memicu dampak pada kesehatannya. Sebab, saat screening ia mengatakan punya penyakit asam lambung dan pernah tifus. “Semua keluhan itu, bukan termasuk kontraindikasi atau halangan untuk vaksin sehingga ia divaksin,” ujarnya.

Berdasarkan screening inilah, Safrizal menilai ada dugaan kecemasan yang tinggi dari Amelia sehingga asam lambungnya naik, lalu mengeluhkan nyeri di ulu hati. Selanjutnya, kaki Amelia menjadi lemah sehingga dibawa ke rumah sakit. “Namun setelah diamati tanda-tanda vitalnya secara ilmu kedokteran seperti tekanan darah, nadi, dan pernafasan, itu normal-normal saja. Ketika diajak bicara juga normal,” ucapnya.

Di rumah sakit, Amelia mendapatkan terapi secara medis dan kini kondisi pemulihan kakinya sudah membaik. Aawalnya, kaki mahasiswa Fakultas Hukum USK ini tidak bisa diangkat namun sekarang sudah bisa.  “Kontrol terbaru kita tadi, insya Allah besok sudah mulai dilatih berdiri untuk berjalan lagi,” ucapnya.

Safrizal menegaskan, apa yang terjadi pada Amelia tidak bisa serta merta disimpulkan sebagai dampak dari vaksin. Sebab, saat ini sudah lebih 20 juta orang di Indonesia sudah divaksin. Kondisi akibat psikosomatik seperti ini juga sudah beberapa kali dilaporkan.

“Bahkan ada yang mengeluhkan lumpuh dan sebagainya, tapi tidak ada yang fatal hanya perlu dirawat. Artinya, ini hanya perlu kesiapan mental kita ketika divaksin, karena keluhan yang timbul berkaitan dengan psikosomatik saja,” pungkas dr Safrizal. (jal)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved