Senin, 11 Mei 2026

Putra Aceh Kerja di Facebook, Manager untuk Kawasan Asia Pasifik

TAK banyak yang tahu kalau ternyata ada putra Aceh yang menjadi pejabat di Facebook, sebuah perusahaan layanan jejaring sosial raksasa dunia

Tayang:
Editor: hasyim
SERAMBI/SUBUR DANI
Pemimpin Redaksi Harian Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, berbincang dengan Manajer Ekosistem Konektivitas Facebook Kawasan Asia Pasifik, Aulia Velmi, di Kantor Serambi, Senin (9/8/2021). 

Aulia Velmy dari Montasik

Aulia Velmy adalah putra Aceh yang menduduki posisi penting di Facebook, layanan jejaring sosial yang saat ini menguasai dunia. Tak tanggung-tanggung, pria asal Montasik, Aceh Besar, ini menduduki jabatan sebagai manager yang mengurusi konektivitas di kawasan Asia Pasifik.

TAK banyak yang tahu kalau ternyata ada putra Aceh yang menjadi pejabat di Facebook, sebuah perusahaan layanan jejaring sosial raksasa dunia. Dia adalah Aulia Velmy, putra asli Montasik, Kabupaten Aceh Besar.

Aulia menjabat sebagai Manajer Konektivitas Teknologi dan Eskositem Facebook (Connectivity Technology & Ecosystem Manager Facebook) untuk  kawasan Asia Pasifik, yang meliputi seluruh negara di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Australia. Kantornya berada di Singapura.

Senin (9/8/2021) kemarin, Aulia Velmy ditemani sahabat masa kecilnya, Alfa Taras Bulba berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Kedatangannya disambut oleh Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur.

Lebih kurang, selama satu jam Aulia berbagi pengalaman dan menceritakan jejak kariernya hingga kemudian diterima sebagai salah satu manager penting di Facebook. Aulia mengaku kalau ayahnya berasal dari Montasik dan ibunya dari Ulee Kareng.

Aulia sendiri lahir di Bandung karena pekerjaan dan pendidikan orang tua kala itu. Setahun setelah lahir, mereka sekeluarga kembali ke Aceh. “Saya dulu (sekolah) di SD 21 Banda Aceh, di KP Mulia. Sekarang sudah nggak ada ada lagi, sudah digabung dengan SD 20. Dulu pernah tinggal di Kampung Laksana, sebelum pindah ke Ketapang. Kemudian SMP 1 Banda Aceh di Blangpadang dan SMA 3 juga di Banda Aceh," katanya.

Setamat SMA, Aulia melanjutkan pendidikannya ke Malaysia. Dia diterima sebagai mahasiswa di University Kebangsaan Malaysia tahun 2020 dengan memilih jurusan Elektrik, Elektronik dan Sistem. "Tapi saya kebetulan juga fokus pada telekomunikasi jaringan dan infrastrukturnya. Kalau di telekomunikasi, di networking data, komunikasi sistem satelit, seluler, dan lain-lain," imbuh Aulia.

Minatnya tentang ilmu jaringan infrastruktur itulah yang kemudian membawanya hingga bekerja di Facebook saat ini. Karena memang cukup banyak lulusan-lulusan seperti Aulia yang dicari-cari oleh perusahaan telekomunikasi dunia.

Pada saat memilih jurusan tersebut, Aulia mengaku hanya sekedar ingin mempelajari hal baru, karena saat itu telekomunikasi memang merupakan hal yang masih baru di masyarakat. “Jadi pengen coba hal itu, pengen belajar saja," ujarnya.

Dia menyelesaikan kuliah S1 selama empat tahun, lalu melanjutkan S2 di kampus yang sama. Setamat S2, Aulia kemudian hijrah ke Jakarta. Di Ibu Kota Indonesia ini dia bekerja pada perusahaan telekomunikasi Huawei yang baru beroperasi di Indonesia.

Setelah itu, Aulia pindah ke grup salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di mana pemiliknya bercita-cita membangun jaringan 4G pertama menggunakan teknologi wimax. "Saat itu, LTE belum ada, yang ada cuma wimax. Saya kebetulan yang membantu membangun infrastruktunya di Jakarta untuk skala nasional. Itu tahun 2010," cerita Aulia.

Aulia kemudian kembali lagi ke Malaysia, karena salah satu perusahaan lokal di negeri jiran itu memintanya untuk membangun infrastruktur jaringan 4G. Dari sini, jalan Aulia terbuka ke kantor Facebook. Menariknya, Aulia tidak melamar, tetapi mendapat tawaran. Facebook tertarik mengajak Aulia bergabung karena membaca semua rekam karirnya di Linkedin. Aulia bergabung dengan Facebook tahun 2018.

"Saya memang aktif di Linkedin. Kebetulan Facebook sedang mencari SDA yang berpengalaman, saya diminta untuk interview. Akhirnya saya ikuti prosesnya, alhamdulilah diterima," kenang Aulia.

Kebetulan posisi yang dicari adalah posisi yang dijabat Aulia saat ini, yakni sebagai Manajer Konektivitas Teknologi dan Eskositem Facebook kawasan Asia Pasifik. Jabatan tersebut termasuk salah satu posisi yang cukup penting karena menyangkut infrastruktur jaringan dan konektivitas Facebook di kawasan Asia Pasifik.

Sejak saat itu Aulia kerap lalu lalang ke berbagai negara, termasuk ke Amerika untuk pertemuan rapat dengan pimpinan di kantor pusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat. Saat ditanya apakah sering jumpa dengan Mark Zuckerberg selaku pendiri Facebook? Aulia menjawab sambil tersenyum. "Ya kita kadang meeting dengan pimpinan-pimpinan, menyusun program dengan tim global," ujarnya.

Aulia juga menuturkan bahwa siapun berpeluang untuk bekerja di Facebook. Syaratnya adalah pengalaman dan yang terpenting adalah memiliki mimpi. “Jangan takut, jangan merasa tidak bisa. Motivasi, mimpi, usaha, berdoa, itu yang harus ada. Saya rasa tidak sulit juga ketika kita sudah masuk ke tahap itu, kita juga bisa bersaing dengan siapapun," ungkap putra Montasik ini.

                                                                                                            Dua tahun di Aceh

Aulia sudah berada di Aceh kurang lebih hampir dua tahun. Dia terpaksa harus bekerja dari kampung halamannya karena pandemi. Biasanya, setiap tahun Aulia memang selalu pulang ke Aceh, terutama Lebaran Idul Fitri.

“Biasanya cuma hari raya pulang, karena orang tua di sini. Ini gara-gara covid sudah satu tahun setengah. Tapi hikmahnya saya juga bawa pulang keluarga ke sini," kata dia.

Aulia beristrikan perempuan Aceh, tepatnya dari Sigli. Keduanya telah dikaruniai empat orang anak (dua kembar). Selama ini sejak dua tahun terakhir, mereka tinggal di Singapura. "Jadi anak dan istri ikut saya, kita pindah ke Singapura tahun 2018. Pas covid, keadaan belum bisa diprediksi, kita kerja di rumah," terangnya.

Saat ini, dia merasa cukup nyaman dan betah berada di Aceh, konon lagi anak-anaknya bisa merasakan bagaimana tinggal di kampung orang tuanya. "Hikmahnya ya itu, bisa kumpul dengan keluarga, bisa bareng teman-teman lama," tutur Aulia.(subur dani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved