Breaking News:

Opini

Aktualisasi Kemerdekaan di Tengah Pandemi

Tanpa terasa, hari peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia kembali menyapa di situasi pandemi Covid-19. Semangat merah-putih

Editor: hasyim
Aktualisasi Kemerdekaan di Tengah Pandemi
IST
M ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Dosen IAIN Langsa dan Founder Pematik (Pusat entrepreneur dan menulis) Aceh

Oleh. M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag,  

Dosen IAIN Langsa dan Founder Pematik (Pusat entrepreneur dan menulis) Aceh

Tanpa terasa, hari peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia kembali menyapa di situasi pandemi Covid-19. Semangat merah-putih yang bergelora di segala penjuru Indonesia harus dibatasi oleh protokoler kesehatan seperti PPKM, lockdown, menghindari kerumunan dan sejenisnya. Meskipun begitu, spirit dan marwah kemerdekaan tidak boleh padam.

Momentum kemerdekaan mesti disiasati sehingga perayaan hari kemerdekaan tetap meriah walaupun mekanismenya dikemas secara berbeda.

Dahulu, sebelum pandemi menjalar di nusantara, peringatan 17 Agustus diramaikan dengan berbagai perlombaan di lapangan. Seperti panjat pinang, lari goni, tarik tambang, makan kerupuk, dan even meriah lainnya. Saat ini, situasi pandemi membuat even semacam ini harus diminimalisir bahkan dihindari khususnya bagi wilayah zona merah.

Pemerintah atau minimal pemuda kampung harus lebih kreatif untuk mengeksplorasi ide-ide guna membuat perayaan kemerdekaan tetap meriah tanpa melanggar protokoler kesehatan.

Lomba menulis misalnya, adalah sebuah ajang yang dapat diimplementasikan tanpa harus membuat keramaian. Panitia bisa mengangkat tema kemerdekaan atau perjuangan para pahlawan sehingga atmosfir perayaan 17 Agustus masih dapat dirasakan. Begitu juga dengan lomba membaca puisi atau pantun, bisa dilakukan secara online di rumah masing-masing namun dilihat oleh banyak pihak setelah diunggah ke youtube atau media sosial.

Lebih ekstrim lagi, bisa juga mengadakan perlombaan fisik namun dilakukan secara daring atau online. Lomba membawa kelereng dengan sendok misalnya, bisa dilakukan secara mandiri di rumah namun disiarkan secara langsung dengan waktu yang bersamaan. Masing-masing peserta memiliki juru rekam sendiri dan lapangan sendiri yang sudah diformat sesuai aturan.

Selanjutnya, penilaian dapat dilakukan secara online oleh panitia yang berada pada wilayah yang berbeda. Tentu saja, pemenang adalah mereka yang berhasil paling cepat membawa kelereng ke garis finis.

Bagi kalangan ibu-ibu, bisa pula melibatkan mereka dalam lomba masak atau lomba menghias taman. Perbedaannya, jika lomba sebelumnya digelar secara langsung, lomba masak di tengah pandemi dilakukan secara blended (campuran). Khusus saat praktek memasak  secara online, namun saat penilaian cita rasa, diberikan langsung kepada juri. Karena tidak mungkin, enak atau tidaknya makanan dinilai secara daring. Tentu saja dengan menjaga jarak atau memakai masker satu sama lain.

Selain pertandingan-pertandingan di atas, aktualisasi peringatan kemerdekaan Indonesia dapat dilakukan secara langsung dengan menjaga jarak. Lomba tarik tambang misalnya, sebuah even yang diperankan oleh 10 orang atau lebih. Masing-masing peserta memiliki posisi menarik yang berjarak 1 atau 2 meter antara sesama rekannya. Dengan begitu, meriahnya proklamasi masih dapat terealisasikan meskipun dengan kondisi yang terbatas.

Semua model aktualisasi di atas dapat terlaksana bila pimpinan desa atau panitia berjiwa kreatif dan solutif. Tidak sedikit saat ini, oknum pimpinan yang memilih vacum dan mengkambinghitamkan keadaan. Padahal, refleksi hari kemerdekaan tidak harus membuat keramaian, yang lebih penting bagaimana esensi peringatan proklamasi tersampaikan dan tercurahkan. Perlombaan-perlombaan seperti di atas adalah salah satu media yang mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia ini bersaudara.

Saat ini, hubungan persaudaraan sesama bangsa Indonesia kian memburuk. Hal tersebut semakin mencuat dengan banyaknya hoaks dan ujaran kebencian. Gesekan politik, gesekan beragama, gesekan sosial, bahkan gesekan kompetisi di lingkungan kerja membuat sesame bangsa ini saling menjatuhkan.

Melalui berbagai even dan kegiaatan positif pada hari proklamasi, dapat mengispirasi setiap pribadi bahwa keharmonisan itu indah.  Dengan begitu, berbagai prasangka, curiga, dan saling tuding bisa ditekan dan diminimalisir.

Sejarah telah menjadi bukti, bahwa Indonesia pada hakikatnya memiliki jiwa persaudaraan dan persatuan pada masa lalu. Semua itu terefleksi dari bersatunya bangsa ini dalam mengusir penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan. Kesamaan nasib, kesamaan tumpah darah, menjadikan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke bersatu padu untuk melwan penjajah. Tanpa adanya rasa persaudaraan dan persatuan, tidak mungkin kemerdekaan seperti sekarang ini dapat terjadi. Maka dari itu, tidak sulit untuk mempersatukan bangsa ini yang mungkin sudah terkotak-kotak akibat gesekan kepentingan.

Kemerdekaan Finansial

Salah satu aspek penting, yang menunjang segala lini dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kemerdekaan finansial setiap individu di dalamnya. Apalagi pada momentum pandemi dimana semua pihak merasakan kesulitan ekonomi. Aspek finansial kerap menjadi sumber masalah bagi seseorang untuk menjadi figur yang objektif dan profesional.

Sebagai contoh, mahasiswa pada umumnya akan berfikir secara idealis. Ia berani menentang siapa saja (jika itu salah) dengan marwah almamater kebanggaannya.

Berbeda ceritanya ketika mahasiswa tersebut sudah menyelesaikan kuliahnya, mau tidak mau, suka tidak suka, maka ia mulai memiliki kecenderungan berfikir ekonomis. Karena hidup seusai kuliah, seyogyanya, tidak mungkin menadah tangan lagi kepada orangtua. Pada tahapan ini, maka sisi idealis akan mulai pudar. Puncaknya, ia akan menjadi sosok yang mengikuti dan mengagungkan siapa saja jika mereka membantu kebutuhan finansialnya.

Maka dari itu, jika ingin menjadi sosok yang berperinsip. Tetap teguh pendirian tanpa embel-embel kepentingan (menjilat), maka seorang individu harus sudah merdeka finansialnya.

Rasulullah SAW yang hidup 14 abad silam telah memberikan contoh. Di umurnya masih belia, ia sudah mengikuti pamannya berdagang. Nabi ikut ke negeri Syam dengan Abu Thalib usia 12 tahun. Membuka usaha sendiri 17 tahun, dan terus berwirausaha ke berbagai negara hingga umur 37 tahun. Berarti, 5 tahun nabi belajar dan 25 tahun nabi berwirausaha melebihi lamanya nabi menjadi rasul (23 tahun).

Realita ini menunjukkan, bahwa Nabi Muhammad sekalipun, sebelum ia menjadi rasul, ia sudah merdeka finansial. Ia sosok yang kaya raya, dan jika ia mau, hartanya sudah cukup untuk dirinya sendiri tanpa harus dihabiskan dijalan dakwah.

Di balik itu, ternyata ada pesan moral yang tersirat. Lamanya nabi berwirausaha, hingga memperoleh kekayaan, menunjukkan betapa pentingnya kemerdekaan finansial bagi prinsip atau idealisme seseorang. Itu pula yang mengispirasi kita, jika ingin lebih kokoh dan mantap, tidak mudah tergoda oleh harta dan tahta saat menjadi pemimpin.  Maka mulailah dengan kondisi ekonomi yang sudah baik dan mandiri.

Singkatnya, merdeka ekonomi untuk terjun ke politik, bukan berpolitik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Dengan begitu, andaipun terjun ke panggung politik, maka akan menjadi politikus yang bersih, bukan oknum politik yang menanduk dan menjilat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved