Breaking News:

Salam

Semangat Merdeka Harus Terpelihara

Sudah dua tahun kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dalam suasana pandemi. Selama dua tahun (17 Agustus 2020 dan 2021)

Editor: bakri
KOMPAS.COM/ISTANA PRESIDEN/AGUS SUPARTO
Anggota Paskibraka mengibarkan bendera merah putih dalam peringatan Hari Kemerdekaan ke-75 RI di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2020). 

Sudah dua tahun kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dalam suasana pandemi. Selama dua tahun (17 Agustus 2020 dan 2021) itu pula kita memperingatinya dalam suasana yang sangat "kaku". Upacara harus berbaris jarang-jarang dan wajib menggunakan masker. Di tengah masyarakat juga tak boleh ada perayaan yang bisa menimbulkan kerumunan seperti panjat pinang dan lain-lain.

Namun dermikian, kita tentu tak boleh kehilangan momentum untuk terus dapat memaknai Hari Proklamasi negara ini dengan semangat yang optimis untuk terus melangkah menjadi negara maju. Dan, yang paling penting juga, karena ini dalam suasana pandemi, maka moment 17 Agustus 2021 ini juga harus kian menumbuhsuburkan spirit kita untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona yang hingga kini masih mengerikan di negeri ini, terutama Aceh.

Seorang guru beberapa hari lalu secara cerdas mengajak kita merenung bagaimana seharusnya kita memaknai hari kemerdekaan. "Sebagai apapun kita, rasanya hati dan jiwa kita pasti tergugah dan terpanggil untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, yaitu peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tidak terkecuali pada tahun ini, di mana kita masih diliputi perasaan was-was dan selalu menjaga diri dengan melaksanakan protokol kesehatan, akibat pandemi Covid-19.

" Di hari 17 Agustus pula kita diingatkan tentang bagaimana membangun kemerdekaan yang hakiki, sehingga merdeka itu dimaknai sebagai membangun. Yakni "membangun bukan untuk pribadi atau golongan, tetapi membangun untuk kepentingan orang banyak, untuk umat dan bangsa. Sehingga, adil dan makmur tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang. Demikian juga dengan penegakan hukum, berlaku untuk semua kalangan, siapapun dan apapun status sosialnya. Merdeka bukanlah dimaknai bebas tanpa aturan. Merdeka juga bukan berarti semena-mena berkuasa. Tetapi merdeka berarti membangun dengan kekuatan persatuan.

" Amiruddin al-Rahab, Wakil Ketua Komnas HAM-RI yang juga seorang dosen ilmu hukum beberapa hari lalu mengatakan, "Memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 tahun sekarang ini ada baiknya kemerdekaan ini direnungkan substansinya secara mendalam. Perenungan itu juga diperlukan karena reformasi juga telah berjalan 20 tahun lebih." Menurutnya, ".., kini dalam kehidupan sehari-hari warga bangsa dari Merauke sampai Sabang, dari Rote sampai Miangas, masih merasakan adanya ketidakadilan, kemiskinan, dan direndahkan harkat dan martabatnya.

Beragam peristiwa ketidakadilan dan perendahan harkat serta martabat masih dirasakan warga bangsa. Sekarang populer disebut sebagai pelanggaran HAM. Tentu tantangan kita ke depan ialah bagaimana aparatur negara benar-benar bisa menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia .." Begitu juga sesama anggota masyarakat, diingatkan untuk dapat menghargai dan memperlakukan sesama warga bangsa sejalan dengan nilai-nilai fondasi negara. Harapan yang sangat penting adalah di usia kemerdekaan bangsa ini yang sudah mencapai 76 tahun, haruslah bisa melahirkan pejuang-pejuang baru yang relevan dengan keadaan bangsa ini sekarang. Ketika negara berada dalam kubangan karena krisis, kemiskinan, pengangguran maka diperlukan model kejuangan baru yang lebih relevan.

Mereka yang berupaya mengatasi kemiskinan dan kebodohan adalah pejuang. Juga mereka yang berani menyediakan lapangan kerja bagi orang lain adalah pejuang. Kita membutuhkan figur yang layak disebut sebagai pemimpin sekaligus pejuang pada masa sekarang, saat kita tengah menghadapi krisis hampir di segala bidang kehidupan bangsa akibat pandemi Covid-19. Spirit perjuangan dan juga kepahlawanan seperti selama ini diartikan oleh orang banyak, merupakan sikap serta keberanian di atas rata-rata manusia untuk mengorbankan jiwa dan raga demi membela kepentingan umum. Kemerdekaan adalah jalan untuk merenggut martabat manusia bukan sebaliknya. Indonesia membutuhkan banyak orang yang bersifat kenegarawan yakni kerelaan berkorban menyingkirkan kepentingan pribadi dan golongan, tetapi lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.

"Kita saat ini mengalami krisis jiwa patriotisme yang sebenarnya senantiasa menjaman di setiap ruang dan waktu," kata seorang cendikiawan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved