Selasa, 5 Mei 2026

Evakuasi Warga dari Kabul Berlanjut,  Meski Taliban Janjikan Perdamaian

Meski Taliban menjanjikan perdamaian, menghormati hak-hak perempuan, serta memberi kebebasan bagi media dan amnesti untuk pejabat pemerintah

Tayang:
Editor: bakri
AFP/WAKIL KOHSAR
Seorang pejuang Taliban berjalan melewati salon kecantikan dengan gambar wanita yang dirusak menggunakan cat semprot di Shar-e-Naw di Kabul, Afghanistan, Rabu (18/8/2021). 

* Amrullah Saleh Umumkan Diri Sebagai Presiden Sementara

KABUL - Meski Taliban menjanjikan perdamaian, menghormati hak-hak perempuan, serta memberi kebebasan bagi media dan amnesti untuk pejabat pemerintah di Afghanistan, namun sejumlah negara terus mengevakuasi warganya dari ibu kota Kabul.

Pesawat yang membawa ratusan pengungsi dari Kabul tiba di Inggris dan Jerman pada Rabu (18/8/2021). Sementara Amerika Serikat (AS) mengatakan, hingga saat ini penerbangan militer mereka sudah mengevakuasi 3.200 orang dari Kabul, termasuk 1.100 orang yang diterbangkan pada Selasa (17/8/2021).

Al Jazeera melaporkan informasi terbaru terkait evakuasi yang dilakukan sejumlah negara di Kabul hingga Rabu (18/8/2021). Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, kepada wartawan di Canberra, mengatakan, penerbangan pertama sudah menerbangkan 26 warga negara tersebut keluar dari Afghanistan. Menurutnya, itu adalah evakuasi pertama dari banyak penerbangan yang akan dilakukan. Pada Senin (16/8/2021), Australia mengirim 250 personel militer ke Kabul untuk mengevakuasi warganya dan sejumlah warga Afghanistan yang bekerja untuk mereka.

Sementara Pemerintah Jerman mencarter penerbangan Lufthansa yang membawa 130 pengungsi. Menurut Kantor Berita DPA, pesawat itu lepas landas dari ibu kota Uzbekistan, Tashkent, dan mendarat di Frankfurt di Jerman pada Rabu (18/8/2021) pagi.

Sebuah pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang membawa warga negara Inggris dan staf kedutaan Kabul mendarat di sebuah pangkalan udara di Oxfordshire, Inggris pada Rabu (18/8/2021) pagi. Tidak jelas berapa banyak orang yang berada di dalam pesawat Inggris itu. Inggris sementara itu menyatakan akan menyambut 20.000 warga Afghanistan di bawah program pemukiman baru, yang akan memprioritaskan perempuan, anak perempuan dan agama dan minoritas lainnya.

Sedangkan pihak Gedung Putih mengatakan, sekitar 1.100 orang Amerika, penduduk tetap dan keluarga mereka dievakuasi dengan pesawat militer dari Afghanistan pada Selasa (17/8/2021). “Sekarang kami telah menetapkan alirannya, kami berharap angka-angka itu (pengungsi) meningkat,” kata seorang pejabat Gedung Putih dalam sebuah pernyataan. Hingga kini, AS telah mengevakuasi 3.200 orang dari Afghanistan.

Di kompleks kedutaan India di Kabul pada Selasa (17/8/2021) setidaknya ada 150 diplomat dan warga negara India. AFP melaporkan, posisi mereka adalah salah satu yang genting. Pasalnya, Pakistan (musuh bebuyutan India) sudah lama menjadi pendukung terbesar Taliban, dan menggunakan negara itu untuk apa yang disebut sebagai kedalaman strategis pertempuran tanpa akhir.

Kedutaan India memutuskan untuk meminta Taliban menggiring orang-orang India keluar kompleks diplomatiknya, ketika pasukan kelompok ekstremis itu menutup akses ke menuju bandara Kabul. Setelah menunggu selama dua jam, warga India itu naik pesawat angkut militer India C-17 yang lepas landas saat fajar, mendarat di pangkalan angkatan udara di negara bagian Gujarat, India barat, pada Rabu (18/8/2021) pagi.

Sementara itu, Badan pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan ingin terus bekerja di Afghanistan. “Kami ingin tinggal di negara itu karena orang-orang di sana membutuhkan bantuan lebih dari sebelumnya,” kata Katharina Lumpp, perwakilan UNHCR di Jerman. Menurutnya, sebagian besar warga Afghanistan yang telantar dalam beberapa bulan terakhir kini menjadi pengungsi internal di negara mereka sendiri “Mereka sekarang sangat membutuhkan dukungan dan bantuan kemanusiaan,” katanya kepada harian Jerman Die Welt.

Gelar konpers pertama

Terpisah, Taliban menyatakan, mereka berjanji menghormati hak perempuan Afghanistan menurut syariah (hukum Islam). Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam konferensi pers (konpers) pertama mereka. Mujahid menerangkan, terdapat perbedaan besar antara Taliban yang digulingkan AS pada 2001 dengan sikap mereka setelah kembali berkuasa.

Awak media merujuk pada periode pertama 1996-2001. Saat itu, wanita dilarang bekerja dan berkontak dengan pria bukan muhrimnya. "Jika pertanyaan ini berdasarkan ideologi dan kepercayaan, tidak ada yang berubah," jelas Mujahid dilansir AFP, Selasa (17/8/2021). "Tapi, jika kami merujuk pada pengalaman, kematangan, dan persepsi, tidak diragukan lagi banyak perbedaannya," lanjutnya.

Mujahid menegaskan, Taliban berhak mengatur Afghanistan berdasarkan prinsip keagamaan yang mereka anut. Meski begitu, dikutip BBC, dia menuturkan, kelompok pemberontak berjanji akan menghormati hak perempuan menurut syariah. "Mereka akan bahu-membahu bekerja dengan kami. Kepada komunitas internasional, kami menjamin tidak akan ada diskriminasi," paparnya.

Mujahid mengatakan, wanita berhak mendapat pendidikan hingga jenjang universitas, yang sempat dilarang pada periode 1996-2001. Dia juga menyatakan, perempuan akan tetap bisa bekerja dan menjadi bagian dari pemerintahan baru mereka. Mujahid hanya memaparkan, nantinya perempuan harus mengenakan hijab, tanpa menjabarkan apakah ada pengetatan terhadap mereka.

Pernyataan Mujahid itu diperkuat juru bicara Taliban lainnya, Suhail Shaheen, yang berujar bahwa sekolah diizinkan tetap mengajar murid putri. Diwartakan Daily Mail, pada periode pertama kekuasaannya, pemberontak melarang wanita belajar setelah mereka berusia delapan tahun. Mereka juga dilarang untuk berhubungan dengan pria lain atau keluar rumah tanpa mendapatkan pengawalan dari keluarga atau suaminya. Jika ada yang melanggar, hukuman bagi wanita itu akan digelar secara terbuka, mulai dari dipukul hingga dihukum mati dengan cara dirajam.

Presiden sementara

Informasi lain, Wakil Presiden Pertama Afghanistan, Amrullah Saleh, mengumumkan bahwa dirinya adalah presiden sementara yang sah pada Selasa (17/8/2021). Pengumuman tersebut disampaikan Saleh setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu ketika Taliban merebut Kabul pada Minggu (15/8/2021). Melansir Reuters, dia mengaku masih berada di Afghanistan. Namun keberadaannya secara pasti masih belum diketahui.

Amrullah Saleh meminta rakyat Afghanistan untuk menunjukkan bahwa Afghanistan bukanlah Vietnam. Video-video warga Afghanistan yang berebut naik pesawat militer AS ketika hendak lepas landas membangkitkan kenangan situasi yang hampir mirip dengan Vietnam. Saleh menambahkan, rakyat Afghanistan tak kehilangan semangat dan mampu melihat ke depan, tidak seperti AS dan NATO.

“Peringatan yang tidak berguna sudah selesai, bergabunglah dengan kelompok perlawanan," ujar Saleh. Saleh juga menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mau tunduk di hadapan Taliban. Dia menegaskan tidak akan mengkhianati Ahmad Shah Massoud, pemimpin Aliansi Utara yang dibunuh oleh dua mata-mata Al-Qaeda sebelum serangan 11 September 2001 di AS. (kompas.com)

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved