Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kenangan tentang Lance Castles

REPORTASE ini merupakan kelanjutan sekaligus menjadi pelengkap dari tulisan saya berjudul “Jejak Lance Castles di Geuceu Kompleks”

Editor: bakri
Kenangan tentang Lance Castles
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Almuslim, Peusangan Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Almuslim, Peusangan Bireuen, melaporkan dari Bireuen

REPORTASE ini merupakan kelanjutan sekaligus menjadi pelengkap dari tulisan saya berjudul “Jejak Lance Castles di Geuceu Kompleks” yang dimuat Serambi Indonesia pada 12 September 2020. Geuceu Kompleks merupakan nama sebuah gampong (desa) di Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, yang telah menjadi saksi atas keberadaan seorang sejarawan dan pakar politik terkemuka Australia yang begitu mencintai Aceh.

Rumah yang ditempati Lance di Geuceu Kompleks berada di Jalan Krueng Arakundo Nomor 6. Besar kemungkinan rumah itu pun pernah ditempati William Liddle, Indonesianis asal Amerika Serikat (1985-1987). Dr Ir Yunardi MA.Sc, Dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) yang pernah menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok memberi kesan ketika pertama kali bertemu Lance Castles di Geuceu Kompleks tahun 1978. ”Dulu saya tidak bisa bayangkan bagaimana orang bule itu karena belum ke luar negeri.

Tapi setelah pernah di luar negeri, sekarang saya bisa merasakan kalau Pak Lance itu sangat santun dan lemah lembut, lebih santun dari rata-rata orang Indonesia. Bahasanya lemah lembut, tutur bahasa Indonesianya sangat santun dan bersahaja,” ungkapnya. Dalam kenangan lain, seperti cerita Ketua Dewan Penasihat Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Dr Farsijana Adeney-Risakotta yang beberapa kali bertemu Lance Cantles, menyampaikan kepada saya bahwa “Lance cinta Aceh banget.” Ini senada dengan kesaksian Profesor Irwan Abdullah, Antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Aceh. Setiap bertemu, Pak Lance selalu menanyakan perkembangan Aceh.

Kamus bahasa Aceh selalu ada di tangannya. Sangat wajar jika Profesor Irwan mengatakan bahwa Pak Lance tahu Aceh luar dalam (termuat di Serambi Indonesia). Kontribusi besar Pak Lance terhadap Aceh, menurut Profesor Irwan, salah satunya adalah mengampanyekan Aceh sebagai ‘field of study’, menjadikan Aceh makin penting untuk diteliti. Dalam kenangan Dr M Najib Azca, Sosiolog UGM, Pak Lance adalah teman diskusi yang mengasyikkan, baik saat bertemu beliau di perumahan Dosen UGM Bulaksumur (dekat Masjid Kampus UGM) maupun di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM.

Itu terjadi pada mid-akhir 1990-an yang pada waktu itu Pak Lance tinggal serumah dengan Pak Herbert. Dari Pak Lance-lah Najib baru mengetahui perihal ‘keunikan’ struktur komando teritorial ABRI (sekarang TNI). Pak Lance yang memberi kata pengantar book chapter “ABRI dan Kekerasan” terbitan tahun 1999 (Penerbit Interfidei, Yogyakarta) yang mana Najib salah seorang penulisnya. Sahabat saya yang lain di Yogyakarta, yakni Saut Pasaribu, juga punya kenangan tersendiri dan menarik ihwal pertemuan dan perkenalannya dengan Lance Castles. Katanya, “Saya pernah diberi kuliah gratis tentang kapitalisme mulai jam 7 pagi sampai jam 12 siang di rumahnya di Bulaksumur UGM.

” Saut juga diminta mengedit disertasi Lance yang diterjemahkan orang lain dengan judul Kehidupan Politik di Sebuah Keresidenan Tapanuli. “Tetapi enam bulan kemudian karya itu terbit dan editan saya tidak jadi dipakai. Selama melakukan penelitian untuk disertasinya di Tapanuli, Pak Lance diberi marga Hutabarat oleh pemuka adat setempat,” kenang Saut. Saut pernah beberapa kali silaturahmi ke rumah Pak Lance dan dapat kuliah panjang lebar dan gratis. Itu terjadi sekitar tahun 2000-an.

Di kamar Pak Lance, ceritanya, hanya tempat tidur yang tidak kena tumpukan koran. Dia hidup soliter, dikelilingi tumpukan koran, dan deretan buku-buku berdebu dan fotokopian di rak bukunya. “Pak Lance, orang yang sangat disiplin dan menjaga waktu. Kalau kita berkunjung ke rumahnya, dia tentukan jam berapa bisa bertemu. Kalau kita sudah datang tapi jam yang disepakati belum tiba, dia biarkan kita di luar walau dia sudah melihat kita. Dan kalau waktu pertemuan sudah selesai maka dia langsung mengantar kita ke luar ruangan dan langsung menutup pintu,” ungkapnya.

Di balik keseriusannya, Pak Lance pernah curhat ke Saut. Katanya, “Orang tua atau kakek di masa kini beda dengan di zaman dulu. Kalau dulu dianggap lebih berilmu karena sudah banyak makan asam garam kehidupan, sekarang malah dianggap ketinggalan zaman, tidak berguna karena tidak lancar menggunakan alat-alat teknologi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga di mata anak-anak, seorang kakek adalah makhluk tak berguna karena tidak bisa diandalkan untuk gunakan komputer, laptop, atau handphone.” Kenangan dari guru dan sahabat tentang sosok Lance Castles dan setelah membaca Obituari Lance Castles “Indonesianis Pemandu Sejarah Aceh” yang ditulis Profesor Tadjuddin yang sangat mengesankan tersebut (Majalah Tempo, 5/9/2020), saya jadi teringat di tahun 90- an, waktu masih kuliah di UGM. Saat main ke tempat kos sahabat, di sana saya bertemu ayahnya yang kebetulan ada tugas di Yogyakarta dan singgah di kos anaknya.

Pada waktu itu orang tuanya menjabat Rektor Universitas Islam Jember. Mengetahui saya berasal dari Aceh, ayahnya dengan bangga mengatakan bahwa dia adalah lulusan Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial (PLPIIS) Unsyiah (sekarang disingkat USK). Ia mengatakan bangga menjadi alumnus USK. Pada kesempatan lain, sahabat saya cerita bahwa orang tuanya bangga sekali dengan Aceh. Ayahnya sering cerita ke teman-temannya atau tamu yang berkunjung ke rumahnya di Jember, cerita kenangan sewaktu menetap di Banda Aceh. Mendengar cerita ini, sebagai putra Aceh, saya tentu bangga.

Namun, saya benar-benar belum ‘ngeh’ atau paham ketika waktu itu ayahnya menyebut PLPIIS. Seiring waktu berjalan, saya akhirnya pelan-pelan mengetahui tentang kiprah PLPIIS USK. Bangga mengetahui bahwa Darussalam pada tahun ‘70- an, tepatnya di Universitas Syiah Kuala, menjadi “candradimuka” sebagai tempat belajar dan melatih calon-calon peneliti dalam ilmu-ilmu sosial. PLPIIS adalah Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial pertama di Indonesia yang didirikan pada 21 Januari 1974.

Pusat pelatihan ini didirikan atas usulan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), selain ada juga yang mengatakan termasuk ada usulan dari Profesor Teuku Ibrahim Alfian, Dosen Fakultas Sastra dan Kebudayaan Jurusan Sejarah UGM. Namun, setelah Toyota Foundation menghentikan pendanaan PLPIIS pada ‘90-an maka Rektor Unsyiah pada periode itu, Prof Dr Ali Basyah Amin (1990-1995) mengambil inisiatif dan kebijakan untuk tetap mengaktifkan PLPIIS dengan pendanaan dari universitas.

Sejak saat itu nama PLPIIS diganti menjadi PPISB (Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (dikutip dari laman ppisb.unsyiah.ac.id/sejarah). Saya orang yang kurang beruntung karena tidak pernah berdiskusi langsung dengan Lance Castles, meskipun sering melihat atau berpapasan dengannya sewaktu berolahraga pagi di halaman Gedung Graha Sabha Pramana UGM.

Saya sering melihatnya duduk di tangga atas Gedung Graha Sabha sambil berjemur, menghadap ke arah selatan (arah keraton). Namun demikian, walaupun tidak mengenal sosok beliau, sebagai ungkapan rasa terima kasih terhadap orang yang pernah berjasa terhadap Aceh dan Indonesia pada umumnya, saya ungkapkan melalui tulisan “Kenangan tentang Lance Castles” dari para sahabat dan guru yang pernah mengenalnya. Rest in Peace, Pak Lance!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved