Soal Afghanistan, Trump Sebut Biden Perrmalukan AS
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengutuk keras Presi den AS Joe Biden atas kekacauan yang terjadi di Kabul
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengutuk keras Presiden AS Joe Biden atas kekacauan yang terjadi di Kabul setelah ibu kota Afghanistan tersebut jatuh ke tangan Taliban. Kecaman itu disampaikan Trump dalam sebuah wawancara dengan Sean Hannity dari Fox News pada Selasa (17/8/2021).
Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan bahwa Biden telah mempermalukan AS lebih dari presiden mana pun dalam sejarah. Dia juga membandingkan bahwa kondisi Afghanistan saat ini bisa memicu hal yang lebih parah dari Krisis Penyanderaan Iran pada 1979 yang waktu itu AS dipimpin oleh Jimmy Carter. Kala itu, para pelajar pendukung rezim Iran yang baru, menyandera 63 diplomat dan 3 warga negara AS di dalam gedung kedutaan AS di Teheran.
"Ini adalah waktu yang mengerikan bagi negara kita. Saya tidak berpikir selama bertahun-tahun negara kita pernah begitu dipermalukan,” kata Trump sebagaimana dilansir Fox News. “Saya tidak tahu apa yang Anda sebut, kekalahan militer atau kekalahan psikologis, tidak pernah ada hal seperti apa yang terjadi di sini: Anda dapat kembali ke Jimmy Carter dengan para sandera," sambung Trump.
Trump mempertanyakan, apakah Biden bakal menyebabkan krisis penyanderaan yang lebih buruk secara eksponensial. Pasalnya Taliban saat ini juga menduduki Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul yang dikelilingi oleh pos pemeriksaan. "Anda berurusan dengan ribuan dan ribuan orang Amerika dan lainnya yang terdampar dan sangat berbahaya di Afghanistan. Jadi itu adalah sesuatu yang bahkan tidak bisa Anda percayai,” ujar Trump.
Trump juga mengomentari insiden jatuhnya warga Afghanistan yang nekat menempel di badan pesawat angkut militer AS ketika pesawat itu terbang. Saat dia masih menjabat sebagai Presiden AS, Trump mengatakan bahwa “Negeri Paman Sam” akan membalas 10 kali lipat jika seorang warga AS dilukai atau para milisi melanggar batas wilayah. Dia menyampaikan ancaman itu kepada pemimpin Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar pada tahun lalu. Trump juga mengklaim bahwa dia tidak pernah percaya pada pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang sekarang telah kabur.
Mikhail Gorbachev, pemimpin yang mengawasi penarikan pasukan Uni Soviet dari Afghanistan pada 1989, ikut berkomentar tentang masalah Afghanistan. Dia mengatakan bahwa penempatan NATO ke negara itu telah ditakdirkan sejak awal. Dilansir NBC News, pria yang berusia 90 tahun itu menganggap kehadiran Soviet di Afghanistan dulu sebagai kesalahan politik. Hal ini justru menguras sumber daya berharga. Apalagi, pada saat itu, Uni Soviet sedang berada di ujung kehancurannya.
Pihak berwenang yang didukung Soviet di Afghanistan memang bertahan selama tiga tahun setelah penarikan pasukan utamanya oleh Moskwa. Tapi, hal itu tidak pernah memulihkan keputusan Rusia untuk memotong bantuan kepada negara itu setelah runtuhnya Soviet pada Januari 1992. Gorbachev, dikutip oleh kantor berita Rusia RIA, mengatakan bahwa NATO dan AS tidak memiliki peluang untuk berhasil.
Mereka disebut telah salah menangani Afghanistan. "NATO dan AS seharusnya mengakui kegagalan lebih awal," kata Gorbachev. Dia juga menyebut AS telah gagal sejak awal."Kampanye AS telah gagal sejak awal meskipun Rusia mendukungnya selama tahap pertama," ujarnya.
Tak mau terburu-buru
Sementara Rusia menyatakan, pihaknya tidak akan terburu-buru mengakui Taliban sebagai penguasa baru di Afghanistan. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Selasa (17/8/2021), sebagaimana dilansir Associated Press. Lavrov mengatakan, sikap Moskwa sama seperti semua negara lain dan tidak terburu-buru untuk mengakui pemerintahan Taliban.
Pada saat yang sama, Lavrov mencatat sinyal dari Taliban yang menyatakan keinginan mereka untuk memiliki pemerintahan dengan partisipasi kekuatan politik lainnya. Dia menambahkan, “Negeri Beruang Putih” mendukung dialog nasional yang inklusif yang melibatkan semua kekuatan politik dan agama di Afghanistan.
Pada 2003, Rusia sebenarnya menetapkan Taliban sebagai organisasi teroris. Kendati demikian, Moskwa beberapa kali menjadi tuan rumah sejumlah pembicaraan mengenai Afghanistan yang melibatkan kelompok tersebut. Rusia sempat terlibat perang 10 tahun di Afghanistan yang berakhir dengan penarikan pasukan Uni Soviet pada 1989. Kini, negara itu telah kembali secara diplomatik dan menjelma sebagai mediator yang menjangkau faksi-faksi Afghanistan yang bertikai.
Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk Afghanistan Dmitry Zhirnov menuturkan bahwa dia mengadakan pertemuan "konstruktif" dan "positif" dengan perwakilan Taliban di Kabul. Pertemuan tersebut dilakukan pada Selasa (17/8/2021) guna membahas keamanan misi diplomatik Rusia di Afghanistan.
Zhirnov mengatakan kepada saluran televisi Pemerintah Rusia bahwa pertemuan itu untuk keamanan kedutaan. Dia menambahkan, pertemuan itu melibatkan perwakilan senior Taliban. “Pertemuan itu positif dan konstruktif,” kata Zhirnov. “Perwakilan Taliban mengatakan bahwa Taliban memiliki pendekatan yang paling ramah ke Rusia. Mereka mengonfirmasi jaminan keamanan untuk kedutaan,” imbuh Zhirnov. (kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pejuang-taliban-berpatroli-di-afghanistan.jpg)