Breaking News:

Kupi Beungoh

Kampanye Anti Korupsi Munimang "Gere Angik"

Lantas apa yang bisa dilakukan untuk memberangus korupsi? Saya ingin mengajak kita kembali ke tradisi, pulang. Ajakan tradisi sebagai jalan pulang, pe

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Fikar W Eda, Wartawan Serambi Indonesia/Penyair Kopi Penolak Korupsi 

Oleh: Fikar W.Eda*)

Salam Anti Korupsi!!!

Mengawali tulisan ini, saya ingin mengutip antropolog kenamaan Indonesia, Konetjaranigrat, yang menyebutkan, "Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar."

Koentjaraningrat membagi secara jelas wujud kebudayaan, menjadi tiga bagian.
Pertama berupa kompleksitas ide, gagasan, nilai-nilai, norma, peraturan dan sebagainya atau adat (jamak adat istiadat).

Kedua, beruwujud aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, atau suatu sistem sosial yang terpola sedemikian rupa. Sistem sosial ini mengatur hubungan atau interaksi antarmanusia berdasarkan adat adat.

Ketiga, beruwujud benda-benda hasil karya manusia, seperti peralatan pertanian, bangunan dan hal hal yang bersifat benda.

Jaksa Tahan Konsultan Bansos, Korupsi Bantuan Rehabilitasi Rumah tidak Layak Huni

Lalu apakah korupsi itu sebuah kebudayaan? Saya mengatakan, tidak!!! Korupsi adalah kejahatan khusus, bersifat destruktif, merusak.

Kalau ada sementara kalangan mengatakan bahwa korupsi, manipulasi, telah menjadi budaya masyarakat, ini harus dibantah. Masyarakat mana yang menjadikan korupsi sebagai sebuah wujud kebudayaannya?

Korupsi bukan adat istiadat, atau hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya.

Korupsi juga bukan suatu sistem sosial atau tata pola yang mengatur hubungan antarmanusia.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved