Breaking News:

Salam

Cabut Izin Hotel dan Kafe Pelanggar Syariat

HARIAN Serambi Indonesia edisi Ahad (22/8/2021) kemarin mewartakan dua kejadian yang menarik perhatian publik

Editor: hasyim
Serambi Indonesia
Petugas Satpol PP dan WH Banda Aceh, dibantu TNI dan Polri melancarkan razia penegakan syariat Islam, Jumat (20/8/2021) malam, hingga Sabtu (21/8/2021) dinihari. 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Ahad (22/8/2021) kemarin mewartakan dua kejadian yang menarik perhatian publik di provinsi ini, mengingat terjadinya di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh.

Kejadian pertama adalah sekelompok muda-mudi digerebek saat pesta minuman keras (miras). Peristiwa kedua, tiga pasangan nonmahram diciduk petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP & WH) dari kamar dua hotel di Banda Aceh.

Selengkapnya dilaporkan bahwa petugas Satpol PP dan WH Banda Aceh, dibantu personel TNI dan Polri melancarkan razia penegakan syariat Islam, Jumat malam hingga Sabtu (21/8/2021) dini hari.

Mereka menyasar sejumlah kafe dan hotel di Banda Aceh yang selama ini disinyalir melanggar syariat Islam. Dalam razia itu, petugas menggerebek sekelompok muda-mudi yang sedang pesta miras di salah satu kafe di kawasan Kuala Cangkoi, atau tepatnya di Gampong Blang, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Sebanyak sepuluh botol miras berbagai merek, baik yang masih kosong maupun berisi disita petugas. Kemudian, petugas melanjutkan razia ke dua hotel di kawasan Peunayong dan Lampriek. Di dua hotel itu berhasil diamankan tiga pasangan yang tak terikat pernikahan yang sah tidur bareng di dalam kamar.

Yang juga mengagetkan, dalam penggerebekan itu, terdapat seorang wanita yang dipesan oleh pria yang baru dikenalnya ke hotel atau lebih dikenal dengan istilah 'Open BO'.

Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Ardiansyah mengatakan, semua pelanggar syariat itu sudah dibawa ke Kantor Satpol PP dan WH.

Selanjutnya petugas akan menjerat mereka dengan pasal terkait sebagaimana diatur dalam Qanun Aceh tentang Hukum Jinayat. Hukuman cambuk di depan umum sudah pasti menunggu mereka.

"Razia seperti ini akan intens dan rutin kita laksanakan," ujar Ardiansyah.

Nah, kedua peristiwa ini tentu saja mengagetkan kita sebagai bagian dari masyarakat Aceh yang religius. Terlebih karena sudah sejak 2001 Aceh memiliki Qanun tentang Khamar yang tidak membolehkan warga Aceh beragama Islam menenggak minuman keras.

Larangan terkait khamar bukan hanya mengonsumsinya, tetapi juga menjual dan memfasilitasi orang lain untuk menikmatinya.

Seiring dengan itu, di bumi Aceh juga terlarang melakukan praktik mesum, ikhtilath (bermesraan), apalagi sampai menginap berduaan di kamar hotel yang dikhawatirkan menjurus pada perbuatan zina.

Karena sudah terang benderang dilarang dan diatur ancaman hukumannya, maka kita pantas kaget bin heran atas pelanggaran secara terang-terangan ini. Oleh karenanya, pemilik kafe dan pemilik hotel itu wajib ditindak. Proses mereka sesuai aturan hukum yang berlaku. Jika ternyata di antara mereka sudah pernah diperingatkan, tapi ternyata melanggar lagi, maka cabut saja izin usahanya!

Penguasa hotel dan kafe yang bandel harus dibuat kapok supaya menimbulkan efek jera bagi dirinya juga terhadap pihak lain yang siapa tahu ingin coba-coba melakukan kejahatan yang sama.

Bumi syariat Aceh bukanlah tempat kemaksiatan bertakhta. Maka, setiap maksiat harus kita benci dan perangi bersama.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved