Rabu, 22 April 2026

Internasional

Uni Eropa Peringatkan Taliban, Tidak Akan Mengakui Rezim Baru Afghanistan

Pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan Taliban, bahwa blok tersebut tidak akan mengakui rezim baru Afghanistan.

Editor: M Nur Pakar
AP/Paul White
Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen berbicara dalam konferensi pers di pangkalan udara militer Torrejon di Madrid, Spanyol, Sabtu (21/8/2021). 

SERAMBINEWS.COM, MADRID - Pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan Taliban, bahwa blok tersebut tidak akan mengakui rezim baru Afghanistan.

Dilansir AP, Minggu (22/8/2021), pembicaraan saat ini diadakan untuk mengamankan jalan keluar sebanyak mungkin pengungsi Afghanistan.

Tetapi, tidak berarti blok itu siap untuk mengakui rezim baru.

Tetapi, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengakui perlunya terus terlibat dengan Taliban.

Dia menyampaikan hal itu selama kunjungannya bersama Presiden Dewan Uni Eropa, Charles Michel, ke pusat penerimaan pengungsi yang didirikan oleh Spanyol, dekat Madrid.

“Kami memiliki kontak operasional dengan Taliban di saat krisis ini," ujar Leyen.

Baca juga: Mantan PM Inggris Sebut Keputusan AS Keluar dari Afghanistan Membuat Kelompok Jihad Bersorak Gembira

Dia mengakui masih perlu mendiskusikan di masa-masa sulit ini, untuk memfasilitasi orang-orang di Kabul dapat datang ke bandara.

“Tapi ini benar-benar berbeda dan terpisah dari pembicaraan politik," klaimnya.

"Tidak ada pembicaraan politik dengan Taliban dan tidak ada pengakuan terhadap Taliban," jelas Leyen.

Dia juga mengatakan kelanjutan bantuan kemanusiaan Eropa ke Afghanistan akan bergantung pada Taliban.

Dikatakan, hanya jika menghormati hak asasi manusia, terutama bagi kaum perempuan dan anak perempuan.

“Kami mendengar pernyataan Taliban yang menekankan, perempuan akan mendapatkan tempat yang tepat di masyarakat," jelasnya.

Ditambahkan, juga memiliki hak untuk belajar dan bekerja, dalam kerangka Islam.

"Tetapi, apa pun artinya, kami juga mendengar semakin banyak laporan tentang orang-orang yang diburu karena pekerjaan atau pendapat mereka di masa lalu," tambahnya.

"Kami mendengar wanita ditolak ketika mereka muncul di tempat kerja mereka yang biasa,” katanya.

“1 miliar euro yang disisihkan oleh Uni Eropa selama tujuh tahun ke depan untuk bantuan pembangunan terikat dengan persyaratan yang ketat," tegasnya.

Dia menyatakan Taliban harus menghormati hak asasi manusia, perlakuan yang baik terhadap minoritas, dan hak-hak perempuan dan anak perempuan.

Pejabat tinggi Uni Eropa mengunjungi fasilitas di pangkalan udara militer Torrejón.

Baca juga: India Evakuasi Warganya dari Afghanistan, Pesawat Angkatan Udara Dikerahkan

Didampingi Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, yang mengatakan dapat menampung 800 orang.

Sementara itu, dua pesawat yang dikirim oleh Spanyol ke Kabul telah tiba di pangkalan udara tersebut.

Satu membawa kembali lima warga Spanyol dan 48 warga Afghanistan yang telah bekerja untuk Spanyol dan keluarga mereka.

Yang kedua tiba pada Jumat 920/8/2021) malam dengan 110 warga Afghanistan lagi.

Penerbangan ketiga dengan 110 penumpang lainnya telah meninggalkan Kabul menuju Dubai.

Dimana, digunakan Spanyol sebagai titik pemberhentian sebelum para pengungsi diterbangkan ke Madrid.

Pangkalan udara juga menerima penerbangan dari Uni Eropa dengan pengungsi Afghanistan lainnya.

Semua diharapkan untuk menghabiskan hingga tiga hari di sana sebelum pindah ke pusat penyambutan di tempat lain di Spanyol atau pergi ke negara-negara Eropa lainnya.

Sánchez mengatakan tanggapan dari anggota UE lainnya positif dan beberapa pengungsi Afghanistan telah pergi ke negara-negara UE lainnya.

Tetapi Amerika Serikat dan sekutu NATO sedang berjuang untuk membantu warga Afghanistan yang bekerja untuk pasukan mereka.

Karena takut akan pembalasan dari Taliban, tetapi sulit mencapai dan memasuki bandara Kabul.

Von der Leyen mengatakan staf Uni Eropa sedang berbicara dengan pejabat Amerika dan NATO tentang masalah tersebut.

Tetapi juga bekerja di lapangan di Kabul bersama pejabat Taliban.

"Ini adalah situasi yang sangat sulit, berubah dari menit ke menit, tetapi ada kerja keras yang dilakukan untuk membuat yang terbaik dari situasi yang sangat sulit," katanya.

Von der Leyen, bagaimanapun, juga mendesak masyarakat internasional untuk membantu orang-orang Afghanistan yang akan tetap tinggal.

Dia mengatakan runtuhnya demokrasi yang didukung NATO dan kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan telah memicu perpindahan hampir 3,7 juta orang.

Banyak negara Eropa juga mengkhawatirkan gelombang migrasi lain yang serupa dengan yang terjadi pada 2015 yang dipicu oleh perang saudara Suriah.

“Kita harus membantu memastikan bahwa pengungsi Afghanistan dapat kembali ke rumah mereka," harapnya.

"Ttau setidaknya memiliki prospek, apakah mereka saat ini di Afghanistan atau di negara tetangga,” katanya.

Baca juga: Wanita Afghanistan Melahirkan di Dalam Pesawat Militer AS

Von der Leyen mengatakan masalah migrasi Afghanistan harus menjadi perhatian utama pertemuan G-7 minggu depan.

Sehingga, akan membantu menciptakan rute legal dan aman secara global, yang diselenggarakan oleh UE, komunitas internasional, dan yang membutuhkan perlindungan.

“Pemukiman kembali orang-orang yang rentan ini sangat penting,” katanya.

“Itu adalah kewajiban moral kita," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved