Minggu, 17 Mei 2026

Berita Aceh Tamiang

Areal Tanaman Nilam di Aceh Tamiang Menyusut

Anjloknya harga minyak nilam menjadi pemicu utama yang memaksa petani mengalihkan fungsi lahannya ke tanaman lain

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Muhammad Hadi
Foto kiriman warga
Foto Ilustrasi - Usaha Nilam milik salah satu UKM di Aceh. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Lahan perkebunan nilam di Aceh Tamiang menyusut drastis dalam tujuh tahun terakhir.

Anjloknya harga menjadi pemicu utama yang memaksa petani mengalihkan fungsi lahannya ke tanaman lain.

Muhammad Syahrial, pegiat tanaman nilam di Aceh Tamiang mengungkapkan menyusutnya lahan ini terjadi antara periode 2014-2016.

Dalam periode itu, minyak nilam yang biasanya berkisar Rp 500 ribu per kilogram terjun bebas menjadi Rp 200 ribu.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Naik Rp 7.000, Berikut Rincian Harga Emas Per Gram, Selasa 24 Agustus 2021

“Kondisi harga yang rendah ini berlangsung lama, sehingga banyak petani kita mengalihkan lahan nilamnya menjadi sawah dan tanaman lainnya,” kata Syahrial, Selasa (24/8/2021).

Syahrial mengungkapkan rendahnya harga ini perlahan membaik dan saat ini untuk kualitas terbaik dihargai Rp 670 ribu.

Peningkatan harga yang cukup signifikan ini pun mulai kembali menarik minat petani untuk memfungsikan lahannya melakukan budidaya nilam.

Syahrial yang merupakan Wakil Ketua I Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Aceh Tamiang mengungkapkan nilam merupakan tanaman yang pernah sangat berjaya di Aceh Tamiang karena digunakan untuk terapi kesehatan.

Baca juga: Orang Tua Artis Cut Meyriska Meninggal di Sigli, Begini Penjelasan Adik Kandung Almarhum

“Zaman andong (nenek) kami sudah sering digunakan untuk sauna, memang dulu nilam terbaik dari Aceh Tamiang,” kata Syahrial.

Kepala Bappeda Aceh Tamiang, Rianto Waris ketika dikonfirmasi mengatakan pengembangan budidaya nilam sudah menjadi agenda Bupati Aceh Tamiang, Mursil.

Menurutnya Pemkab Aceh Tamiang berkeinginan mengembalikan kejayaan tanaman nilam karena sudah memiliki pangsa pasar yang jelas.

Baca juga: Rombongan Brimob Diserang di Papua, Ini Personel yang Kena Peluru Dalam Baku Tembak di Yahukimo

Sebagai langkah awal saat ini sudah dilakukan pengadaan 4 ribu bibit  yang sebagian besar telah disebar ke sejumlah petani di Aceh Tamiang.

“Sebenarnya tidak punah sama sekali, aktivitas penyulingan masih ada di Sekerak, tapi memang butuh dukungan agar bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Rianto menjelaskan ada rencana pola penyulingan nilam ini akan melibatkan pabrik kelapa sawit (PKS) dengan memanfaatkan uap buang sebagai alat penyulingan.

“Ini masih terus kita lakukan dengan melakukan kajian-kajian dengan tujuan bisa menghasilkan produksi yang baik,” ucapnya. (*)

Baca juga: Suami Cari Nafkah di Malaysia, Wanita asal Pidie Rayakan Ultah Mantan Pacar Dalam Hotel di Peunayong

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved