Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kilas Balik Masjid Tuha III Mukim Ulee Kareng

GELOMBANG tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 agaknya telah menjadi sebuah titik tolak bagi percepatan pembangunan Kota Banda Aceh

Editor: bakri
Kilas Balik Masjid Tuha III Mukim Ulee Kareng
FOR SERAMBINEWS.COM
T.M. ICHSAN, Pegiat Sejarah Aceh; penulis buku “Memori Kolektif Aceh”, melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh

OLEH T.M. ICHSAN, Pegiat Sejarah Aceh; penulis buku “Memori Kolektif Aceh”, melaporkan dari Ulee Kareng, Banda Aceh

GELOMBANG tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 agaknya telah menjadi sebuah titik tolak bagi percepatan pembangunan Kota Banda Aceh. Demikian pula wilayah Ulee Kareng, salah satu desa/gampong di kota ini, yang mengalami perkembangan begitu pesat.

Hal ini berdasarkan amatan saya yang lahir dan besar di Ulee Kareng. Sejauh ini, Gampong maupun Kecamatan Ulee Kareng telah mengalami perkembangan yang cukup kentara. Pada awalnya dianggap sebagai wilayah “rawan”, kini menjelma menjadi sebuah wilayah yang sangat digandrungi. Ulee Kareng, tidak hanya terkenal dengan produk “Kopi Ulee Kareng”-nya yang telah mendunia, tetapi dewasa ini telah menjadi wilayah pusat hunian.

Peralihan yang cepat ini ditandai dengan maraknya pembangunan perumahan secara besar-besaran di kawasan Ulee Kareng, bahkan berdampak kepada tergerusnya lahan-lahan di sekitarnya, seperti sawah, kebun, dan tebat. Berangkat dari cuplikan perbandingan Ulee Kareng pada pra dan pascasunami di atas, saya coba menelusuri rekam jejak sejarah Ulee Kareng melalui salah satu tinggalan bangunan bersejarah, yakni Masjid Tuha.

Masjid ini berada di tengah pusat hiruk-pikuk (Simpang Tujuh) Ulee Kareng. Masyarakat Ulee Kareng menamakan Masjid Tuha Ulee Kareng. Selama proses pengumpulan sumber-sumber sejarah (tertulis maupun lisan) mengenai wilayah Ulee Kareng ini telah banyak yang dikantongi. Namun, sumber tertulis (dokumen) mengenai Masjid Tuha ini masih sukar ditemui; informasinya hanya bersifat tradisi lisan atau cerita turun-temurun. Untuk memperoleh informasi lanjut mengenai Masjid Tuha, maka saya upayakan langkah observasi ke Masjid Tuha tersebut.

Setelah dilakukannya serangkaian proses pengamatan di lokasi, maka didapat beberapa temuan yang terindikasi memiliki kaitan kuat dengan sejarah Masjid Tuha. Beberapa temuan itu adalah terkait kompleks makam dan rumah panggung tua. Kompleks makam ini berada di dalam pekarangan Masjid Tuha (satu dinding dengan masjid). Selanjutnya, di depan pintu masuk kompleks makam, terletak rumah tersebut.

Menyangkut keberadaan kompleks makam dan rumah di pekarangan Masjid Tuha ini, semakin menguatkan hipotesa saya mengenai adanya keterkaitan para tokoh yang dimakamkan di situ dengan asal-muasal Masjid Tuha Ulee Kareng. Soalnya, jika objek tersebut tidak memiliki hubungan dengan Masjid Tuha, maka tidak mungkin kompleks makam dan rumah ini berada dalam pekarangan tersebut.

Sehubungan dengan beberapa indikasi di atas, maka saya berusaha menggali informasi lebih lanjut dengan mewawancarai salah satu ahli waris dari tokoh yang dimakamkan di perkarangan Masjid Tuha. Pada 24 Juli 2021, saya wawancarai Cut Nyak Puteh (76 tahun), salah seorang cucu dari Teuku Meurah Lamgapang (salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks makam Masjid Tuha).

Menurut informasi darinya, kompleks makam tersebut milik keluarganya. Selanjutnya ia jelaskan bahwa pada masa itu (pertengahan abad 19) kakeknya, Teuku Meurah Lamgapang menjabat Uleebalang III Mukim Ulee Kareng, XXVI Mukim, Aceh Rayeuk. Kemudian, Cut Nyak Puteh menuturkan, menurut kisah yang ia terima dari ayahnya, Haji Teuku Ibrahim Ulee Kareng (Uleebalang terakhir III Mukim Ulee Kareng) bahwa pada masa pemerintahan Teuku Meurah Lamgapang sebagai Uleebalang III Mukim Ulee Kareng, ia membangun sebuah masjid di wilayahnya.

Kemudian, Teuku Meurah Lamgapang memerintahkan para utusannya untuk menjemput seorang ulama terkenal keturunan ‘habaib’, tinggal di Kuala Bak U, Aceh Selatan untuk diangkat menjadi Qadi (Penasihat) III Mukim Ulee Kareng. Habib ini bernama Habib Abdurrahman Al-Mahdali. Masyarakat Ulee Kareng menggelarnya Habib Kuala Bak U. Setelah Habib Kuala Bak U ini menjadi Qadi untuk III Mukim Ulee Kareng, Teuku Meurah Lamgapang mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan Masjid Induk III Mukim Ulee Kareng.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved