Breaking News:

Jurnalisme Warga

Tradisi Bawa Nasi Ketan ke Balai Pengajian di Aceh

PALING akhir saya saksikan orang membawa nasi ketan (bulukat) saat intat aneuk miet beuet (antar anak ke pengajian) pada 3 Februari 2021/2020

Editor: bakri
Tradisi Bawa Nasi Ketan ke Balai Pengajian di Aceh
IST
T.A. SAKTI, Alumnus tiga tempat 'bale semeubeuet' (balai pengajian) masing-masing tahun 1964, 1968, dan 1970 di Pidie, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH T.A. SAKTI, Alumnus tiga tempat 'bale semeubeuet' (balai pengajian) masing-masing tahun 1964, 1968, dan 1970 di Pidie, melaporkan dari Banda Aceh

PALING akhir saya saksikan orang membawa nasi ketan (bulukat) saat intat aneuk miet beuet (antar anak ke pengajian) pada 3 Februari 2021/2020 Jumadil Akhir 1442 sore di Dayah Abukuta Krueng, Ulee Gle, Kabupaten Pidie Jaya. Murid baru yang datang dari Peureulak, Aceh Timur, itu dipeusijuek (ditepungtawari) oleh Abu Kuta Krueng. Semua peserta antrean sempat makan bulukat dan dipeusijuek oleh asisten Abu Kuta.

Dalam tradisi Aceh, tahaptahap pembelajaran agama bagi seorang anak adalah di rumah sendiri, di bale gampong, atau di rumah teungku, dan di dayah. Bagi seorang anak yang telah berumur tujuh tahun, bila orang tuanya tak mampu mengajarinya baca Qur'an, maka anak yang bersangkutan akan diantar ke tempat pengajian di kampungnya, baik di meunasah atau di bale beuet (balai pengajian) dan di rumah teungku (ustaz/guru mengaji). Waktu belajar berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat pengajian lainnya, yakni antara pagi, sore, dan malam hari.

Hari Rabu biasanya dipilih sebagai hari yang afdal untuk mengantar anak ke tempat pengajian (intat beuet). Tak lupa pula sang orang tua anak membawa sepiring buleukat ngon u mirah (nasi pulut dengan gula merah). U mirah atau u puteh adalah kelapa yang dicampur gula merah atau gula putih yang dimasak atau disebut u teuwot. Maksud dari nasi ketan, yaitu agar pelajaran yang diberikan cepat melekat di kepala (mudah diingat) di anak, karena nasi pulut itu bergetah/lekat.

Sementara, u mirah dimaksudkan supaya hatinya terang dan mudah menerima pelajaran (bek beunak hate). Selain buleukat, ada pula orang tua yang membawa beureuteh- pisang (beureuteh = padi ketan yang digongseng hingga menetas}. Tujuannya sama, yakni agar otak sang anak encer dan cepat mengerti pelajaran; sebagaimana padi yang digongseng (lheue beureuteh) yang meletus cus-cus. Geuba beureuteh ngon pisang;mangat rijang jeuet Alehba (Dibawa beureuteh dengan pisang, agar cepat pintar ngaji Juz ‘Amma).

Dapat ditambahkan, selain maksud di atas, buleukat dan beureuteh tadi juga berfungsi mengakrabkan pergaulan antara si murid baru dengan para murid lama. Sebab, setelah acara penyerahan murid baru selesai, maka buleukat u mirah atau beureuteh pisang itu akan disantap bersama-sama. Karena itu, para murid senior selalu berharap serta “berdoa” agar sering ada murid baru yang diantar ke sana sehingga mereka dapat lebih sering menikmati kenduri buleukat atau beureuteh pisang.

Sejak hari pertama itu, maka bergelutlah sang anak—baik putra maupun putri—dengan pelajaran membaca Al-Qur’an. Metode yang dipakai adalah Kaidah Baghdad (asal Irak), yakni dengan cara mengeja hurufhuruf hijaiyah/ejaan dari huruf Arab yang 29 buah itu. Dalam pelaksanaan Kaidah Baghdadiyah, belajar membaca secara berulang-ulang (meudraih) sangat dipentingkan. Seorang murid yang sudah menyelesaikan bacaan pada suatu batas/bab tertentu, yang ditandai dengan perkataan ‘Wassalamu’; dia tidak serta-merta dipindahkan/ dilanjutkan ke bab yang lain.

Sang Teungku terus-menerus menyuruh anak itu mengulang lagi dan lagi bahan bacaan tersebut. Bila seorang anak telah lancar membaca Qur’an Alehba (Juz ‘Amma), agar lebih berkah (beureukat), maka di sini pun diadakan acara kecil-kecilan yang disebut “Ba bu aleuham” (membawa nasi alham/ Alfatihah). Bu aleuham itu juga dimakan secara bersama-sama para murid di pengajian itu. Oleh karena bu aleuham bukan suatu kewajiban, maka ia hanya dibawa para orang tua murid yang mampu dan sukarela saja. Selanjutnya, sebagai menyambung dari Qur’an Alehba, seorang murid akan diajari membaca Qur’an rayuek (Alquran besar). Sebagai sarana pembukaan juga disertai kenduri buleukat, baik yang berlauk u mirah, u puteh (kelapa campur gula yang dimasak) maupun tumpoe.

Biasanya, pihak yang membawa buleukat-tumpoe adalah keluarga yang bersahajasegala sesuatu tidak asal adadan keluarga mampu. Dalam pelaksanaan pembelajaran Qur’an rayuek/Qur’an 30 juz ini sejumlah tantangan masih dihadapi oleh murid dan teungku. Walaupun telah menamatkan kitab/Qur’an Alehba, tidak semua murid bisa langsung lancar membaca Qur’an besar.

Akibat banyak hambatan dan tantangan dalam belajar membaca Qur’an besar, maka jika seseorang murid telah sanggup menyelesaikan separuh Al- Qur’an (trok bak juih teungoh); tentu dianggap sebagai prestasi luar biasa. Kegembiraan di wajah murid akan memancar di saat ia membaca kata “Walyathalaththaf’ pada surat Alkahfi. Bagian ayat Qur’an juz ke-15/ Subhanallazy ini tertulis amat tebal dan besar yang berwarna hitam pekat (atau warna merah pada cetakan Qur’an lama), merupakan bagian tengah dari Al- Qur’an.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved