Breaking News:

Opini

Lampu Kuning Tsunami Covid-19

MESKI sudah hampir 1,5 tahun namun Pandemi Covid- 19 belum juga terlihat akan berakhir. Pasang surut kasus terjadi secara global nasional dan lokal

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
DR. dr Safrizal Rahman, M.Kes ,SpOT Ketua IDI wilayah Aceh dan Dosen Fakultas Kedokteran USK 

Oleh DR. dr Safrizal Rahman, M.Kes ,SpOT Ketua IDI wilayah Aceh dan Dosen Fakultas Kedokteran USK

MESKI sudah hampir 1,5 tahun namun Pandemi Covid- 19 belum juga terlihat akan berakhir. Pasang surut kasus terjadi secara global nasional dan lokal. Lima bulan ke belakang kita melihat bagaimana India porak poranda oleh serangan gelombang ke-2 yang kemudian menemukan varian baru dari virus corona yaitu B 1617 kemudian disebut sebagai varian India kini disebut Delta.

Apa yang terjadi di India sungguh miris, bagaimana pusat rawatan penuh sesak, bagaimana pasien bahkan harus berbagi tempat tidur, berbagi obat hingga berbagi oksigen, padahal kerusakan paru pada pasien covid menyebabkan kebutuhan oksigen yang meningkat dan ini sangat krusial. B

erbagai negara menaruh perhatian pada apa yang terjadi di sana, apalagi ketika mayat bergelimpangan dan prosesi kremasi yang menjadi cara masyarakat India memulasarakan jenazah juga angkat tangan karena load pekerjaan yang begitu banyak, bahkan ketersediaan kayu bakar pun susah. Dunia pun menamakannya sebagai tsunami Covid-19.

Berbagai negara termasuk Indonesia bersimpati dan ikut membantu perjuangan negara sahabat tersebut dengan mengirimkan bantuan oksigen konsentrat agar dapat dipakai di pusat rawatan covid di negeri tersebut.

WHO selanjutnya mengingatkan apa yang terjadi di India sangat mungkin pula terjadi di negara lain. Kenyataannya memang benar beberapa negara juga mengalami hal yang sama termasuk Bangladesh, Thailand, dan Nepal. Bagaimana dengan Indonesia? Kurang tiga bulan pasca-India ternyata lonjakan tinggi juga dialami Indonesia, dimana kasus harian yang lebih dari 10.000 sangat mengkhawatirkan, apalagi varian Delta didapatkan pada sebagian besar kasus tersebut. Kondisi yang pernah kita saksikan di India ternyata juga terjadi di sini.

Kondisi rumah sakit yang penuh sesak, bahkan tidak mampu lagi menerima pasien. Kondisi kekurangan oksigen, hilangnya obat di pasaran hingga banyak yang meninggal di rumah saat melakukan isoman telah terjadi di Jawa dalam dua bulan terakhir.

Meski belum sepenuhnya pulih, tetapi saat ini beberapa daerah di Jawa dan Bali sudah mengalami perbaikan. Indikatornya adalah kasus yang menurun jauh dan juga positively rate yang rendah. DKI Jakarta adalah contoh yang luar biasa, pernah beberapa lama memiliki positively rate mencapai 45% saat ini mampu ditekan sampai 9 persen. Apa rahasia keberhasilan saudara kita di Pulau Jawa, khususnya Jakarta dalam menghadapi lonjakan kasus tadi?

Berbagai pendapat disampaikan pakar terkait hal ini, namun yang paling menonjol adalah, pelaksanaan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dilakukan dengan pengawasan yang ketat, ditambah dengan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan yang semakin baik, upaya tracing kasus bahkan melebihi target WHO.

Pemda DKI juga menfasilitasi banyak tempat untuk isolasi terpadu/terkendali (Isoter), dan terakhir upaya kegiatan vaksinasi yang terus digenjot, bahkan sudah mencapai 9 juta dosis pertama dan lebih 4 juta dosis kedua. Opsi penanganan di atas sebenarnya bukan hal luar biasa, namun istimewa ketika mampu dilaksanakan. Hasilnya saat ini kasus Jakarta landai, bahkan Pemda DKI mengatakan mereka memasuki “Zona Hijau”, aktivitas ekonomi mulai berdenyut lagi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved