Breaking News:

Internasional

Rusia Sakit Kepala, Gandeng Aliansi Hadang Militan Taliban, Tentara AS Keluar dari Afghanistan

Rusia akan bekerja lebih erat dengan sesama anggota aliansi keamanan pasca-Soviet (CSTO). Khususnya, seusai penarikan pasukan AS dari Afghanistan

Editor: M Nur Pakar
Kementerian Pertahanan Inggris
Pasukan Amerika Serikat dan Inggris berpose di sela-sela menjaga evakuasi warga di Bandara Kabul, Afghanistan, Senin (23/8/2021). 

SERAMBINEWS.COM, MOSKOW - Rusia akan bekerja lebih erat dengan sesama anggota aliansi keamanan pasca-Soviet (CSTO).

Khususnya, seusai penarikan pasukan AS dari Afghanistan, karena akan meningkatkan risiko keamanan regional, kata menteri pertahanan Rusia.

Dilansir AP, Minggu (30/8/2021), keluarnya AS dari Afghanistan telah menciptakan sakit kepala keamanan bagi Moskow.

Karena, melihat bekas Asia Tengah itu sebagai bagian dari sayap pertahanan selatan dan ketakutan akan penyebaran Islam radikal.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan Moskow telah meningkatkan kontak dengan Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO).

Sebuah aliansi pimpinan Moskow yang terdiri dari enam negara bekas Uni Soviet.

Baca juga: Inggris Siap Tampung Pasukan Khusus Afghanistan Jadi Tentara Angkatan Darat

"Kami berhubungan dekat dengan anggota CSTO di Afghanistan," katanya.

"Itu sebabnya interaksi kami di dalam CSTO harus diperkuat," kata Shoigu seperti dikutip kantor berita RIA.

Dia mengatakan risiko gerilyawan Afghanistan menyeberang ke negara-negara tetangga telah menyebar.

Seusai pengambilalihan cepat Taliban atas negara itu bulan ini ketika pasukan AS mundur.

Perdagangan narkoba adalah masalah lain, tambahnya.

Baca juga: Qatar Jadi Pemain Kunci Evakuasi di Afghanistan, Setelah Penarikan Pasukan AS

CSTO mengatakan akan mengadakan latihan militer di Kirgistan dan Tajikistan dari September hingga Oktober 2021.

Akan melibatkan beberapa ribu tentara karena situasi di Afghanistan.

Shoigu mengatakan program berkelanjutan untuk mempersenjatai kembali tentara Kazakhstan, Kirgistan dan Tajikistan akan terus berlanjut.(*)

Baca juga: Pemimpin Baru ISIS-K, Shahab al-Muhajir Jadi Musuh Paling Diburu Taliban

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved